Dolok Martimbang - Nama Pesawat Kepresidenan Pertama Indonesia

Halo sobat Bataknesia, kali ini kita akan membahas tentang nama pesawat kepresidenan pertama Indonesia. Yup, pesawat tersebut bernama Dolok Martimbang. 

Dolok Martimbang sendiri adalah suatu gunung (dolok) yang bernama Martimbang yang terdapat di Kabupaten Tapanuli (Utara), Provinsi Sumatera Utara. Di kaki gunung ini terdapat lembah (rura) Silindoeng yang subur yang dipenuhi sawah-sawah yang luas.


Pesawat Dolok Martimbang

‘Air Force One’ Dolok Martimbang adalah pesawat hadiah pemberian Presiden Uni Soviet Nikita Kruschev kepada Presiden Soekarno. Saat pesawat jenis IL-14 buatan Uni Soviet mendarat kali pertama di Pangkalan Udara Halim (Tjililitan) tanggal 10 Mei 1957. Presiden Soekarno langsung meninjau ke bandara dan spontan memberi nama Dolok Martimbang. Semua orang yang hadir ‘molohok’.


Spontanitas pemberian nama itu pada dasarnya bukan tanpa pemikiran. Saat itu situasi dan kondisi negeri tengah mengalami krisis karena di "Sumatera Tengah" tengah terjadi pemberontakan. Presiden Soekarno sebelumnya sudah mengetahui arti legenda Dolok Martimbang. Presiden Soekarno pernah berkunjung ke Tapanoeli pada bulan Maret 1953. Untuk menjaga tetap terjadi persatuan dan kesatuan bangsa, Presiden Soekarno membutuhkan simbol yang sesuai. Legenda Dolok Martimbang menjadi penting. Itulah mengapa nama pesawat kepresidenan diberi nama Dolok Martimbang.



Dalam Buku Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 24-01-1957: "Pagi ini berlangsung di bandara militer Pangkalan Udara Halim (Tjililitan) transfer resmi pesawat Iljusin, yang pemerintah Rusia telah diberikan kepada Presiden Soekarno. Tepat pukul 08.00, Presiden Soekarno tiba dengan duta besar Rusia, Zhukov di bandara, setelah itu penjaga kehormatan diperiksa. Di antara yang hadir juga Menteri Pendidikan, Sudibjo, Menteri Kesehatan, Dr. Sinaga dan Kepala Staf Angkatan Udara, Suryadarma. Setelah duta besar Rusia menyerahkan pesawat dalam pidato singkat, Presiden naik ke podium. Presiden mengucapkan terima kasih kepada duta besar untuk hadiah ini dari pemerintah Soviet, dan mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Rusia dan rakyat Rusia. Presiden kemudian mengingat sambutan hangat selama kunjungannya ke Uni Soviet dan diterima dengan baik. Berkenaan dengan di domestik, Presiden mengatakan bahwa masih ada banyak perbedaan antara penduduk Indonesia dari 80 juta orang. Tapi menurut presiden, ini tidak mengejutkan saya, karena kami masih muda. Karena itu saya menyerukan kepada rakyat untuk memulihkan persatuan dan terus berjuang bersama. Presiden Soekarno mengingatkan belum selesai perjuangan rakyat Indonesia. Presiden akan menggunakan pesawat tersebut untuk melayani orang Indonesia dalam perjuangan yang belum selesai.Saya akan mempercayakan pemeliharaan pesawat ini ke AURI dan dengan ini memuji AURI dengan cara terbaik. Bagi negara muda, adalah normal bahwa ada perselisihan diantara kelompok-kelompok penduduk yang berbeda-beda. kelompok dan daerah diantara mereka sendiri. Saya tahu bahwa ada perselisihan. Presiden mengatakan Indonesia merupakan daerah pegunungan dengan berbagai lembah. 


Di Tapanuli ada daerah dengan pegunungan dan lembah, yang menurut legenda, terus bertengkar satu sama lain. Dan itu Dolok Martimbang yang bisa menyatukan kembali mereka. Itulah mengapa saya memberikan pesawat IL-14 ini dengan nama Dolok Martimbang. Dengan pemberian nama Dolok Martimbang ini berharap dapat memberikan kekuatan kepada saya untuk membuat reunifikasi dan penguatan rakyat lndonesia, tidak hanya untuk kemakmuran mereka sendiri, tetapi juga untuk kebahagiaan umat manusia.


Nama pesawat 'Air Force One Indonesia' bernama Dolok Martimbang pun menjadi heboh. Oleh karena pemberian nama bersifat spontan dari Presiden Soekarno, maka berbagai pihak mulai ingin mengetahui sejarah gunung Dolok Martimbang. Menteri Pendidikan menugaskan untuk melakukan penelitian.

Disebutkan dua pejabat dari Kantor Informasi Kabupaten Tapanuli Tengah telah dikirim ke Tarutung untuk menyelidiki asal-usul dan sejarah Dolok Martimbang di Tapanuli Utara, yang merupakan atas permintaan Departemen Pendidikan di Djakarta. Terhadap nama yang diberikan kepada pesawat, yang diterima Presiden Soekarno sebagai hadiah dari Uni Soviet tersebut.


Pesawat kepresidenan Indonesia dengan nama Dolok Martimbang baru digunakan kali pertama oleh Presiden Soekarno pada tanggal 16-05-1957 dari Soerabaja ke Djakarta. Pesawat ini sudah diserahkan kepada Presiden Soekarno sejak 24-01-1957. Jarak waktu antara penerimaan dan penggunaan oleh Presiden Soekarno hampir empat bulan. Penundaan ini bukan karena pilot Indonesia kesulitan, melainkan hanya semata-mata karena Presiden Soekarno berusaha untuk menahan diri.

Presiden Soekarno menerima awak pesawat Ilyushin, Dolok Martimbang yang diserahkan kepada presiden oleh pemerintah Rusia. Mereka ditemani oleh duta besar Rusia Zhukov. Presiden menjamu makan siang bersama mereka di Istana Merdeka. 



Jadwal dan rute perjalanan Presiden Soekarno yang diumumnkan pada tanggal 9 Maret 1953 (De nieuwsgier, 10-03-1953).


Disebutkan Presiden Soekarno akan melakukan kinjungan ke tiga wilayah: Atjeh, Tapanoeli dan Bangka. Direncanakan pada hari Kamis, 12 Maret, Presiden Soekarno dari Djakarta ke Atjeh. Secara berturut-turut akan berkunjung ke Aceh, Tapanoeli, pulau Nias dan pulau Bangka. Pada hari Sabtu, rombongan akan tiba di Balige. Dari sana, perjalanan dengan mobil dilakukan pada hari Minggu ke Taroetung dan Sibolga dan hari berikutnya ke Padang Sidempoean. Pada hari Rabu Presiden dengan Catalina ke Gunungsitoli di pulau Nias. Pada hari Kamis, perjalanan akan dilanjutkan ke Pangkalpinang di pulau Bangka. Sabtu 21 Maret pukul enam sore rombongan Presiden Soekarno diharapkan tiba di (bandara) Kemajoran’.


Dalam penerbangan ke Atjeh, Presiden transit di Medan untuk sementara mengambil waktu istirahat di restoran di bandara. Di bandara Presiden Soekarno dan rombongan disambut oleh Gubernur Sumatra Utara Abdul Hakim Harahap, Residen Atjeh Daudsjah, Wali Kota Medan AM Djalaloedin Pohan dan Komandan Teritorial Sumatra Bagian Utara Kolonel M. Simbolon. Presiden memeriksa barisan kehormatan di bandara dan menyapa tamu undangan termasuk tamu asing. Selanjutnya penerbangan dilakukan menuju Blang Bintang, Atjeh. Bandara ini terbilang baru. Untuk sekadar catatan perluasan bandara Polonia dan pembukaan bandara Blang Bintang dipimpin oleh Ir. Tarip Harahap (Het nieuwsblad voor Sumatra, 28-07-1952). Ir. Tarip Harahap adalah alumni THS Bandoeng 1939. Kelak Ir. Tarip Harahap diangkat menjadi Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Sumatra Utara (Het nieuwsblad voor Sumatra, 15-11-1957).


Setelah kunjungan ke Atjeh (Kota Radja dan Sabang), Presiden Soekarno tiba di Balige dengan dua buah Catalina yang mendarat di danau Toba (De nieuwsgier, 17-03-1953). Lalu Presiden melakukan rapat akbar di depan massa di Balige. Presiden mengatakan bahwa pada tahun 1948 dia juga berada di Balige, sesaat sebelum aksi polisional Belanda kedua (baca: Agresi Militer Belanda II). Presiden dan rombongan kemudian melanjutkan perjalanan dari Balige ke Sibolga dan akan berpidato di beberapa titik. Pada saat keberangkatan dari Baiige, cuaca masih bagus, sehingga rombongan dapat menikmati pemandangan danau Toba yang sangat indah.


Siborongborong adalah pemberhentian pertama di perjalanan. Pada satu sisi terlihat sebuah spanduk dengan tulisan ‘Lindungi Kelompok-Kelompok Kecil’. Ketika pidato Presiden mangatakan ‘Tapanuli juga memiliki masalah, tetapi Tapanuli sangat kuat. Presiden kemudian membahas gagasan perjuangan untuk kebebasan yang belum tercapai, bahkan di atas Irian, merah-putih belum berkibar. Presiden Republik Indonesia akan selalu ada di sana, tetapi Presiden mengingatkannya tentang pemenjaraannya setelah aksi polisional kedua, dan dia senang dijadikan tahanan di daerah Tapanuli, karena Tapanuli telah menjadi tanah suci sejak perang Sisingamangaradja melawan penguasa Belanda pada tahun 1907. Masyarakat Siborongborong sekarang menuntut perlindungan dari kelompok-kelompok kecil. Permintaan itu sudah ada dan demokratis. Setiap negara mencegah sebagian kecil dari upaya memaksakan kehendaknya oleh mayoritas, tetapi juga perlu minoritas untuk mengambil posisi melawan mayoritas.


Perjalanan dilanjutkan ke Tarutung dan kemudian menuju Sibolga. Dalam perjalanan ke Sibolga inilah pemdangan awal terlihat gunung Dolok Martimbang di sisi timur jalan raya. Sementara ketika memasuki jelang Sibolga, pemandangan di sisi barat Bukit Barisan di teluk Sibolga terhalang pandangan oleh hujan yang menyertai perjalann. Sore hari tiba di Sibolga, malamnya dilakukan resepsi. Puncak acara malam ini adalah kehadiran 40 anak-anak sekolah dari Tumba Djae di perbatasan Tapanuli dan Aceh, seratus kilometer dari Sibolga. Anak-anak itu berjalan sekitar tiga puluh kilometer untuk kemudian melakukan perjalanan dengan bus ke Sibolga (De nieuwsgier, 18-03-1953). Dalam pidatonya pada hari Senin, Presiden sekali lagi bersikeras menyelamatkan bangsa dalam kesatuan dan persatuan. Dalam pidato yang diadakan sebelum keberangkatan dari Sibolga, Presiden telah menekankan perlunya kesederhanaan dalam cara hidup dan kesederhanaan pikiran. Sebagai informasi awalnya Presiden akan ke Barus pada pagi hari. Namun karena hujan lebat, ke Barus dibatalkan. Pada Senin sore, sebuah delegasi yang terdiri lebih dari 40 orang pergi ke Sibolga untuk meminta Presiden tetap berkunjung ke Barus. Penduduk telah membuat persiapan dengan baik untuk kunjungan Presiden, termasuk lima belas jembatan yang telah tersapu oleh banjir telah dibuat secara gotong rojong dalam waktu lima belas hari.


Presiden Sukarno dan rombongan melakukan perjalanan ke Padang Sidempuan pada hari Selasa dari Sibolga (De nieuwsgier, 19-03-1953). Di sepanjang jalan dari Sibolga hingga ke Padang Sidempoean. pesta menyambut Presiden dan rombongan dibuat dengan gembira oleh masyarakat yang hadir dipinggir jalan dengan melambai dan  meneriakkan merdeka dan horas dengan keras. Presiden berpidato di Batangtoroe. Di kota kecil Batangtoro, Presiden menunjukkan bahwa 28 persen penduduk Indonesia tinggal di kota-kota besar dan penduduk pedesaan mencapai 72 persen. Presiden mengatakan bahwa Indonesia membutuhkan pasukan yang kuat dan armada yang kuat, tetapi jika tidak diresapi oleh keinginan untuk kebebasan, itu tidak akan berguna.


Perjalanan dilanjutkan ke Padang Sidempoean. Setiap kali ada keramaian besar di sepanjang perjalanan, Presiden harus berhenti karena orang-orang menutup jalan, dilarang lewat lalu bernyanyi untuk Presiden atau menawarkan berbagai hadiah, seperti ulos. Di Padang Sidimpoean rapat akbart dihadiri sekitar 100.000 massa padahal penduduk kota hanya 40.000 jiwa. Sepertinya semua penduduk Tapanuli Selatan telah datang ke Padang Sidempoean. Presiden menyatakan bahwa seluruh rakyat pada tahun 1945 disambut kemerdekaan dengan sukacita dan semua orang kemudian siap untuk memberikan hidupnya. Jika kita ingin kembali ke semangat juang 1945, persatuan dan persatuan diperlukan. Jika kita ingin membangun negara yang adil dan makmur, kita harus bekerja keras, menjadi satu dan mengembangkan dedikasi mulia kita.


Presiden Soekarno selama dua hari tinggal di Gunung Sitoli di Nias (Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 20-03-1953). Presiden Soekarno mendesak 'perkembangan pulau yang agak terpencil ini untuk melakukan segala sesuatu dalam pekerjaan. untuk pengembangan diri sendiri. Secara khusus, Presiden mendesak para wanita untuk berpaling dari pengekangan dan rasa takut dan untuk melihat dunia di sekitar mereka dengan pikiran terbuka. Pada sebuah pertemuan dengan orang-orang muda, Presiden bertanya dengan saksama kepada hubungan feodal yang masih ada di Nias, apa yang menggunakan kebebasan dan merah-putih jika semangat kolonial tidak dilemparkan dan orang-orang tidak berubah. 


Presiden mengatakan bahwa rasa rendah diri harus dibuang karena tidak ada alasan untuk itu. Presiden mengatakan bahwa Indonesia mungkin termasuk negara terkuat, tetapi persatuan itu diperlukan untuk itu. Pada pertemuan dengan para pemimpin pemuda, Presiden mengatakan bahwa orang tidak boleh berpikir bahwa itu tidak penting karena Gunung Sitoli adalah tempat kecil. Presiden menunjukkan dalam hubungan ini bahwa baik Kristen dan Islam berasal dari tempat-tempat kecil, yaitu masing-masing Bethlehem dan Mekkah. Tokoh-tokoh sejarah besar seperti Napoleon, Stalin dan Alexander Agung juga lahir di kota-kota kecil.



Dalam perjalanan ke Tapanoeli inilah Presiden Soekarno melihat (kembali) Dolok Martimbang di sisi timur jalan dari Tarutung ke Sibolga. Sudah barang tentu para pengawal dan pendamping di dalam mobil yang ditumpangi selama di Tapanoeli memberi penjelasan setiap pertanyaan Presiden Soekarno. Presiden Soekarno adalah penyelidik (peneliti) yang baik dan memiliki memori yang kuat. Presiden Soekarno tentu saja dapat penjelasan tentang legenda Dolok Martimbang.


Pengetahuan Presiden Soekarno tentang wilayah Tapanoeli tidak hanya sepanjang perjalanan ke Tapanoeli pada tahun 1953 ini. Presiden Soekarno, seperti dikatakannya, ketika ditawan pasca penyerangan ke Djogjakarta Desember 1948 dan diasingkan ke Parapat, sempat berkunjung ke Balige. Jauh sebelum itu, tahun 1932, Ir. Soekarno selepas dari hukuman penjara di Sukamiskin dengan kapal laut berkunjung ke Tapanoeli dalam sosialisasi dan pembentukan divisi (cabang) Partai Indonesia (De Sumatra post, 13-05-1932). Pada tahun yang sama juga Soetan Sjahrir melakukan sosialisasi Partai Penidikan Nasional ke Padang. Tidak disebutkan memang di kota-kota mana yang dikunjungi Ir. Soekarno, tetapi diduga setelah dari Sibolga, Ir. Soekarno ke Padang Sidempoean dan Tarutung. Sebagaimana diketahui saat itu Ketua Partai Indonesia (Partindo) cabang Batavia adalah Amir Sjarifoeddin. Boleh jadi Amir Sjarifoeddin turut mendampingi Ir. Soekarno ke Tapanoeli.


Dolok Martimbang juga pernah disebut Nommensen dalam suratnya yang dimuat pada surat kabar Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 21-02-1878. Di dalam surat itu, Nommensen mengatakan bukan maksud untuk menghibur tetapi fakta dilapangan, ekspedisi militer yang berkekuatan 80 prajurit yang dipimpin oleh Kapitein Scheltens dan dibantu seorang luitenant, di bawah komisaris Controleur Van HoĆ«vell mengalami kekalahan melawan pasukan Sisingamangaradja. Setelah melalui perjalanan enam hari pasukan gontai tiba di Silindoeng. Battakkers yang melihat mereka selama dua hari beristirahat di Silindoeng, banyak yang tersenyum dan menyindir. Dari kerumunan yang melihat tentara banyak yang pincang dan terluka dengan berkata: ‘orang-orang ini tidak berbahaya, karena mereka tidak bisa berjalan’. Mereka tidak akan bisa melakukan apa-apa meski mereka jago dalam menggunakan senjata’. Penduduk Silindoeng menyindir bahwa pasukan telah melanggar aturan.


Nommensen menyebutkan pasukan baru lega setelah sampai di Pearadja setelah dipandu oleh beberapa tetua dan dibantu oleh para kuli beras untuk menuntun kuda mereka hingga mencapai ketinggian Dolok Martimbang. Lalu dilakukan rapat dengan semua kepala-kepala daerah untuk melakukan perjanjian perdamaian.


Tampaknya Dolok Martimbang sudah menjadi tempat yang khusus yang selalu dijadikan sebagai tempat untuk melakukan perjanjian perdamaian. Tidak hanya antara para pemimpin lokal dengan pemerintah Belanda tetapi juga antar kepala-kepala daerah yang bermusuhan.


Boleh jadi tempat dolok yang berada di selatan Silindoeng ini sudah sejak lama menjadi simbol perdamaian sehingga namanya disebut Dolok Martimbang (Gunung pertimbangan/perdamaian?).



Nama Dolok Martimbang sudah ada dibenak Presiden Soekarno. Arti nama Dolok Martimbang bagi penduduk di Tapanoeli di Silindoeng sudah dipahami oleh Presiden Soekarno. Oleh karena itulah Presiden Soekarno dengan spontan memberi nama pesawat kepresidenan yang baru mendarat dengan nama Dolok Martimbang.

Spirit Dolok Martimbang secara tidak langsung telah turut memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Dolok Martimbang tidak hanya menghalangi munculnya gejala disintegrasi seperti di Provinsi Sumatra Tengah, bahkan spirit Dolok Martimbang turut menyemangati pembebasan Irian Barat. Dolok Martimbang telah membuat utuh NKRI. Sekadar catatan kembali, spirit NKRI dimulai di Provinsi Sumatra Utara. Ini bermula dari Kongres Rakyat yang menghasilkan keputusan Bubarkan Negara Sumatra Timur dan wujudkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Para pemimpin di Medan di dalam bingkai NKRI, ketika membentuk Universitas Sumatra Utara, tidak pernah berpikir untuk memberi nama Sisingamangaradja, tetapi nama yang diberikan cukup dengan Universitas Sumatra Utara. Ini juga satu bentuk untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan di tingkat lokal dalam bingkai NKRI.


Persatuan dan kesatuan dalam bingkai NKRI adalah harga mati. Tidak bisa ditawar-tawar. Persatuan dan kesatuan adalah pilar penting mewujudkan negara yang damai dan negara yang kuat dan sejahtera. Provinsi Sumatra Utara dalam hal ini dapat dikatakan sebagai salah satu miniatur perjuangan dalam pembentukan NKRI. Di situ ada spirit Dolok Martimbang.

 

Sumber:poestahadepok.blogspot.com

Next Post Previous Post