KENAPA ASAL USUL SIRAJA BATAK DARI SIAN JUR MULA-MULA ( Cerita Perjalanan Spiritual Versi Silau Raja)




Dari peta perjalanan pengaruh Hindu-Budha ke Indonesia pada awal tarikh Masehi ternyata untuk pulau Sumatera pengaruh kekuasaan kerajaan hanya terdapat di daerah jalur pantai bagian timur Sumatera saja. Hal ini terjadi karena pada bagian pantai Barat Sumatera khususnya disebelah Utara terdapat pusat perdagangan kuno yaitu Barus dan dikuasai secara kolektif oleh multietnis.

Bahkan sudah terdapat Negara yang disebut dengan negara Lima Pulau Barus hal ini menunjukkan di tempat tersebut telah ada komunitas manusia beradab dan sudah ada tatanan masyarakat, bentuk pemerintahan dan penataan sosial politik dan budaya serta system pemerintahannya.


Pulau Sumatera telah dimasuki oleh bangsa - bangsa dari Eropa, China, Arab dan India dalam rangka perdagangan rempah-rempah dan dalam hal mencari asal muasal rempah-rempah terutama kapur barus dan kemenyan. Kedatangan mereka membawa perubahan-perubahan terhadap keadaan di Sumatera terutama akibat perdagangan serta assimiliasi antar bangsa bahkan terjadi pula jual beli perbudakan. 


Silih berganti bangsa - bangsa tersebut mencoba menanamkan kuasanya di pulau Sumatera dan terbukti dengan berdirinya Kerajaan Mol’yu didaerah Jambi atas pengaruh dari India yang selanjutnya berubah dengan berdirinya Kerajaan Sriwijaya di sebelah Timur Sumatera atas pengaruh Dinasty Syalendra dari Tiongkok. Sedangkan di sebelah timur bagian utara berdiri Kerajaan Peurlak atas dukungan para pedagang Mesir, Maroko, Persia dan Gujarat ( Arab keturunan suku Quraisy).

Namun yang jelas pantai barat Sumatera lebih tepatnya pelabuhan Barus tidak dapat dikuasai oleh satu bangsa manapun sehingga menjadi sentra dan penguasaan kolektif dari pada bangsa-bangsa yang ada, hal tersebut membuat daerah Barus dikenal dengan Negeri Lima Pulau Barus atau Negara yang dikuasai oleh lima suku bangsa yaitu Eropa, India, China, Arab dan Melayu ( Proto Malayan). Negara Lima Pulau Barus menunjukkan adanya multi-etnis yang terdiri dari Eropa, Arab, Cina, Tamil dan Melayu . Melayu adalah etnis campuran atau hasil perkawinan antar etnis.



Kelima etnis atau bangsa ini memerintah di Barus Kuno secara kolektif hal ini yang membuat disebutnya dengan Negara Lima Pulau Barus sehingga bisa jadi tatanan sosial dan pemerintahannya dipegang oleh pihak etnis yang dominan. Etnis Melayu merupakan orang-orang suku bangsa Proto Malayan yang melakukan migrasi terdahulu kesana dari Asia serta orang-orang dari hasil perkawinan antar suku bangsa yang terdapat di Barus. Terakhir timbul juga bagian – bagian dari etnis Melayu yaitu Aceh, Jawa, Batak , Minagkabau, Bugis, Bengkulu dan Melayu itu sendiri yang kemudian tinggal di hutan-hutan perbukitan – Melayu berasal dari kata sansekerta Malaya artinya “bukit” ) . Kelima etnis ini bergiliran menjadi pengatur tatanan masyarakat seperti halnya tatanan masyarakat yang ditemukan di masyarakat Batak yang disebut dengan “ Horja ”. Horja pada saat itu sebagai pengaturan diantara multi-etnis yang ada untuk masing-masing memiliki jadwal yang teratur secara bergantian terhadap pengelolaan kemenyan dan kapur barus dan hutannya yaitu sebagai ; pihak pencari kemenyan dan kapur barus , pihak penjual kemenyan dan kapur barus , besar dan banyak yang boleh diambil , hutan tempat mencarinya

Negara Pulau Lima Barus menjadi milik bersama antar multi-etnis dan ini menjadi daerah teritorial yang kuat karena akan dijaga dan dibela secara kolektif, hal ini pula yang mungkin membuat Kerajaan Sriwijaya tidak bisa menguasainya secara mutlak walaupun secara geografis berdekatan dan sudah merupakan kerajaan besar yang menguasai semenanjung malaya dan selat malaka serta sampai dengan Kampuchea , Thailand. Multi-etnis yang terdapat di Bandar Kuno Barus terjadi karena adanya tujuan yang sama untuk mendapatkan kemenyan dan kapur barus yaitu hasil hutan dari daerah tersebut.


Proto Malayan, salah satu migrasi dari etnis yang terdapat di Barus tersebut yang berasal dari China / Asia sudah datang dengan gelombang migrasi yang bertahap ke Tanah Barus, mereka itu adalah Suku Proto Malayan yang berasal dari Pegunungan Perbatasan Birma / Siam / Thailand sekarang. Suku-suku Proto Malayan Tribes adalah suku bangsa yang secara sukarela berkurung dalam Spelendid Isolation di atas pegunungan dan disamping itu ada juga Neo Malayan yang hidup dipesisir atau daerah pantai. Akibat adanya ekspansi dari Suku Bangsa Mongolia yang mendesak ke Selatan Asia yaitu bagian dari Suku Bangsa Sjan /Siam yang merupakan Palae Mongoloid maka mengakibatkan suku bangsa Proto Malayan dan Neo Malayan harus exodus dari tempatnya untuk melarikan diri.


Suku Proto Malayan yang berada digunung-gunung terpaksa turun ke pesisir dan selanjutnya pergi menyeberang lautan dan begitu juga suku Neo Malayan sampai di daratan Sumatera dan pulau-pulau sekitarnya. Suku-suku Proto Malayan dan Neo Malayan ini sampai kedaratan lain diluar Asia selatan yaitu masing-masing ; Suku bangsa Bontoc dan Suku Bangsa Igorot serta suku Bangsa Wadjo yang merupakan suku Proto Melayan yang pergi ke Filipina dan Lingga serta Cebu Archipelago. Suku Bangsa Tayal pergi ke puncak-puncak Gunung di Taiwan / Gunung Formosa. Suku Bangsa Toraja mendarat di Sulawesi dan merupakan suku Neo Malayan. Suku Bangsa Karendan dan suku Bangsa Meo yang merupakan Proto Malayan tetap bertahan dipegunungan Birma /Thailand. Suku Bangsa Ranau mendarat di Sumatera Selatan dalam penyebarannya suku Proto Malayan tersebut datang kedaerah sebelah barat pulau Sumatera dan mendiami juga Pulau Nias, Pulau Simelue, Pulau Mentawai dan Pulau Siberut sedangkan yang masuk ke Sumatera lewat pantai bagian barat masuk melalui Sungai Simpang Kanan didaerah Singkil. Mereka mencari Splendid Isolation dipedalaman dan bergerak dari Singkil terus hingga sampai ke Kutacane dan terus lagi masuk menduduki pedalaman Aceh dan tinggal hidup serta berkembang disana menjadi Suku Batak Gayo/Alas atau suku Melayu pada umumnya disaat itu. Migrasi berikutnya dari pada suku bangsa Proto Malayan Tribers adalah yang terjadi pada awal abad 12M yang masuk melalui pelabuhan Barus terus ke Sungai Sorkam dan masuk lebih ke dalam hingga sampai ke Pusuk Buhit dan menjadi cikal bakal Raja Batak dan mendirikan Tatanan masyarakat Batak di Sianjur Mula-mula atau lembah Sagala -Limbong Mulana. 


Nama Barus atau Fansur yang dikaitkan dengan penghasil kayu kamper sebagai penghasil kapur (kamper atau al-kafur dalam bahasa Arab) terdapat dalam banyak nara sumber asli Arab, Persia dan Cina dalam berbagai buku perjalanan, botani, kedokteran, dan pengobatan. Kapur yang dalam bahasa latin disebut champora, merupakan bagian dalam (inti) kayu kamfer yang padat berisi minyak yang harum.


Al-Kindi, salah seorang intelektual Arab, menyebutkan kapur barus sebagai salah satu unsur penting untuk membuat wangi-wangian. Sekitar abad ke-8M, kapur barus merupakan salah satu dari lima rempah dasar dalam ilmu kedokteran Arab dan Persia. Empat unsur yang lain adalah kesturi, ambar abu-abu, kayu gaharu, dan safran.


Pada zaman Abbasiyah, hanya orang kaya dan para pemimpin saja yang menggunakan pewangi dari air kapur barus untuk cuci tangan selepas perjamuan makan.

Ibnu Sina atau yang dalam literatur Eropa dikenal sebagai Avicena, dalam bukunya yang terkenal tentang ensiklopedia pengobatan dan obat-obatan yaitu Al Qanun Fi al-Tib mencatat manfaat kamfer sebagai obat penenang dan mendinginkan suhu badan yang tinggi. Kamfer juga dipakai sebelum dan sesudah pembedahan, sebagai obat liver, obat diare, sakit kepala, mimisan, dan sariawan. Kapur barus juga digunakan untuk memandikan jenazah, sebelum dikuburkan. Variasi penggunaan kapur barus ini menyebabkan nilai jualnya sangat tinggi. Manfaat kapur barus ini kemudian menyebar ke Yunani, Armenia karena pada periode tersebut ilmu kedokteran dari Arab dan Persia menjadi acuan dunia. Kemenyan dan Kamfer yang dibutuhkan luas dipermukaan dunia membuat Barus menjadi pusat perdagangannnya dan juga sumber potensinya yaitu hutan-hutan sekitar Barus.


Perlu dicatat bahwa masuknya Hindu - Buddha ke Indonesia yang dibawa serta dikuasai oleh Dinasti Mauryah dan mayoritas telah melahirkan Kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Asia dan Asia Tenggara. Dinasti ini semula membawa agama Hindu-Buddha Hinayana atau Hindu Syiwa ditengah masyarakat Asia Tenggara. Migrasi ini terakhir dibawa Nenek moyang Rakai Sanjaya yang datang dari Kunjara Kunjades di India Selatan ke Nusantara dan Kedah atau semenanjung Melayu (Cho-po) dan Sriwijaya (Fot-t’si) untuk menguasai pasar rempah-rempah termasuk Kerajaan Mo-lo-yu maupun Barus.


Pada masa kejayaan Rajakula T’ang (618 M- 907M) banyak pendeta dari Cina sengaja belajar ke pusat Buddha di Benggala bagian India Selatan yaitu Nalanda dan sampai dengan diganti lagi oleh Rajakula Sung (960M –1279M) Tiongkok berhasil menguasai hampir seluruh negeri-negeri selatan Asia termasuk Melayu Jambi, Kerajaan Melayu Kedah dan Sriwijaya . 


Hal ini karena kehebatan politik international dan perdagangan dan agama yang diajarkannya adalah Buddha Mahayana, sementara Kaisar - kaisar pilihan Cina menjadi pimpinan di negeri taklukkannya dan wajib mengirimkan upeti ke Tiongkok.


Kerajaan Mo-lo-yu (Criwijaya) dapat dikuasai oleh Dinasty Saylendra yaitu dinasti yang mendapat dukungan dari Tiongkok berdasarkan pelajar/pendeta yang belajar dari Tiongkok ke India. Setelah Mo-lo-yu dikuasai dirubah namanya menjadi Sa – Fot – Tsi atau Fot – t’si. Negeri Fot- t’si berubah menjadi Kerajaan Sriwijaya dibawah pimpinan Dinasti Saylendra dan menjadi Kerajaan yang begitu besar sebagai hasil invasi dan pengaruh kekuasaan dan politik dan penyebaran agama dan atas dukungan Tiongkok. Negeri Fot-t’si yang sebelumnya dipimpin oleh Dinasti Sanjaya terpaksa menyingkir (721M) dan lari ke Jawa Tengah. Pada tahun 732M Sanjaya mendirikan Lingga diatas Gunung Wukir di Gata dekat Prambanan dan menjadi beragama Syiwa-Hindu.


Kerajaan Sriwijaya tampil sebagai kerajaan besar dan menguasai hampir seluruh daerah Asia Tenggara bahkan ke semenanjung Malaya, Kampuchea, Siam atau Pu-lo-shih, Mo-lo-yu, Mo-ho-sin, Ho-ling, Tan-tan, Pem-pem, Ku-ka, P’o-li, Fo-shih-Pu-lo, O-shan. Kerajaan Sriwijaya mampu menggabungkan hubungan baiknya antara India – Sriwijaya – Tiongkok dan keseluruhannya atas dasar kebijakan Tingkok termasuk untuk penentuan Kaisar-kaisar yang akan berkeuasa di daerah atau negeri tahlukan.


Persahabatan antara India Selatan dengan Sriwijaya tidak berlangsung baik terus, sebab pada jaman Rajandracola I pada tahun 1012M mulai menyerang dan menaklukkan Srilangka, pulau-pulau Nikobar dan Maharaja Mahapala I di Benggala ditundukkan. Serangan dari Kerajaan Cholamandala ini merupakan reaksi yang timbul setelah bangkitnya Dinasty Sanjaya di India dan menginginkan negeri tahlukan bekas Dinasty Syalendra atau bekas tahlukan Kerajaan Mahapala harus ditundukan / dikuasai juga.


Pada tahun 1025M dalam rangka politik Rajakula Cola yaitu pemimpin Dinasty Sanjaya yang baru kembali bangkit tersebut, mendatangkan angkatan lautnya melalui pelabuhan-pelabuhan strategis termasuk melalui Barus dan akhirnya memerintah di Kerajaan Sriwijaya. Rajakula Cola berhasil menahlukkan Kerajaan Sriwijaya termasuk kerajaan – kerajaan yang ada di Asia lainnya. 


Raja Cola mempunyai kebiasaan memberikan kekuasaan kembali kepada raja-raja yang ditahlukkannya dan sudah puas dengan pengakuan atas kekuasaannya dan dengan persembahan upeti sebagai tanda takluk. Sampai pada tahun 1090M semua desa-desa yang termasuk wilayah Rajendracolapperumpalli dan Raja-rajapperumpalli telah dapat diatur bea dan cukai serta tata niaga perdagangan. Semenjak Raja Cola menguasai Sriwijaya, membuat kerajaan-kerajaan bawahan Sriwijaya sebelumnya memberontak bahkan hampir seluruh jajaran Asia yang tadinya tunduk kepada Kerajaan Sriwijaya bangkit merdeka dan memberontak kepada Sriwijaya.


Kerajaan Grahi – Cai’ya, seperti diketahui pada tahun 1183M Grahi masih menjadi negeri bawahan Sriwijaya, tetapi pada tahun 1230M oleh Candrabhanu mengeluarkan piagam Grahi dan menyebut dirinya sebagai Tambralinggecwara sekaligus jadi Raja Tambralingga. Pemberontakan ini terus diperluas di seluruh Semenanjung Malaya termasuk Kedah. Raja Candrabhanu menyerang Sri Langka hingga takluk tahun 1247M setelah itu dia kembali ke Malaya dan meninggalkan putranya di Sri Langka untuk menguasainya.


Tetapi tahun 1258M terjadi serbuan pihak bangsa Pandya, yang mengakibatkan tentara Candrabhanu kalah. Kemudian serangan Candrabhanu yang kedua tahun 1270M datang lagi ke Sri Langka tetap tidak berhasil, bahkan keadaan dalam negerinya sendiri yaitu Tambralingga menjadi kocar-kacir. Hal ini karena adanya serangan dari tentara Siam dan Siam berhasil mengalahkannya pada tahun 1294M oleh Raja Siam yang bernama Sri Dharmaraja (Sri Tammarat). Pada tahun 1373M datang lagi utusan dari kerajaan San-fo-t’si (Sriwijaya) oleh Raja bernama Ta-ma-cha-na-a-cho bergelar Prabu ke Tiongkok yang menyampaikan bahwa di negerinya ada tiga raja . Ini berarti Sriwijaya telah pecah menjadi : Dharmmacraya (Melayu-Jambi) , Po-lin-pang (Palembang) , Pagarruyung (Minangkabau)


a. Invasi Kerajaan Cholamandala I – tahun 1030 M

Diatas telah dijelaskan bahwa serangan Kerajaan Cholamandala yang setelah berhasil menguasai wilayah Tamil di India Selatan selanjutnya melakukan invasi ke Kerajaan Sriwijaya sekaligus Negara Pulau Lima Barus untuk menguasai sumber rempah-rempah, kemenyan dan kapur barus. Kebiasaan Raja Cola bahwa negeri tahlukannya tidak dikuasai langsung bahkan raja-raja setempat dibiarkan tetap menjalankan kekuasaannya dan hanya diwajibkan membayar upeti. Serangan itu tercatat dilakukan pada tahun 1024 M dan berhasil menahlukkan Sriwijaya sedangkan di Barus tepatnya di Lobu Tua berdiri perkumpulan dagang Tamil hampir sebanyak 1500 orang yang memiliki pasukan keamanan, aturan perdagangan dan ketentuan lainnya.

b. Invasi Kerajaan Chandrabanu ( Piagam Grahi ) tahun 1230.

Bahwa pada permulaan abad 12 Lobu Tua yang merupakan kawasan multi-etnis di Barus, secara mendadak ditinggalkan oleh penghuninya sesudah kota tersebut diserang oleh kelompok yang disebut Gergasi. Serangan ini membuat pihak di etnis Tamil harus keluar melarikan diri, kalau tidak akan menjadi budak yang dikirim memerangi Sri Langka. Berita ini banyak ditulis dan diberitakan para penulis namun tidak ada peninggalan dari pada serangan ini yang dapat menjadi bukti keberadaannya.


Berbagai buku menceritakan serangan tiba-tiba ke Barus yang disebut dengan Gergasi tersebut adalah serangan para raksasa-raksasa, karena berbadan besar-besar seperti raksasa. Hal ini tentu tidak demikian adanya karena yang dimaksud dengan serangan Gergasi tersebut adalah serangan beruntun yang masuk ke Barus yang pertama dilakukan oleh tentara maritime dari Laksamana Johan Jani. Tentara yang memang berbadan besar karena rata-rata keturunan Persia-Gujarat dan dibandingkan dengan tinggi badan proto Malayan yang ada hanya setinggi pinggang Persia-Gujarat tersebut.



Disaat baru diserang oleh Laksamana Johan Jani kemudian datang lagi susulan serangan dari Kerjaaan Grahi atas perintah Candrabanu dalam rangka mengembalikan kekuasaan Rajendra Chola di seluruh Asia Tenggara / semenanjung termasuk di Barus.


Serangan ini membuat pihak di etnis Tamil harus keluar melarikan diri, kalau tidak akan menjadi budak. Pada waktu yang sama Kerajaan Sriwijaya runtuh dan Rajanya bernama Sri Sanggramawijaya ditawan kemudian timbul pembangkangan Kerajaan Melayu untuk melepaskan diri dari Sriwijaya menjadi kerajaan yang berdiri sendiri atau memerdekakan diri dari Sriwijaya.



Siapakah Chandrabanu ?

Sebelumnya daerah semenanjung Malaya diabad 3 – 6M adalah menjadi daerah tahlukan dari pada Dinasty Sanjaya dari India dan dibagian Asia Selatan ini dynasty Sanjaya tersebut mendirikan Kerajaan Lopburi/Lavauri. Namun kemudian daerah itu diserang oleh dynasty Syailendra dan akhirnya mendirikan kerajaan Sriwijaya.


Kerajaan Sriwijaya berdiri mulai abad 7M dan kekuasaannya sangat luas mencapai semenanjung Malaya dan Kerajaan Langkasuka, Pan-pan dan Tambralingga menjadi bagian dari kekuasaan Sriwijaya termasuk daerah Gerahi atau Chaiya (Cahaya)/ Ligor sekarang.


Dalam masa abad 3-6M ini bukan hanya semenanjung Malaya yang dikuasai tetapi hampir seluruh daerah Asia Selatan pada mulanya mendapat pengaruh dinasty Sanjaya. Sayang kemudian daerah itu mendapat serangan dari China sehingga beberapa daerah di Asia Selatan tersebut menjadi daerah-daerah tahlukan dari pada kekuasaan Cina. Namun masing-masing dibiarkan mengatur negerinya masing-masing disamping itu telah ada pula berdirinya Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan Sriwijaya inilah yang kemudian menjadi kekuatan besar atas dukungan Tiongkok/ China untuk menguasai Asia Selatan dan Tenggara tersebut.


Begitu juga halnya dengan negeri-negeri bekas bawahan dari dynasty Sanjaya sebelumnya seperti Lopburi/Lavaburi telah menjadi masuk dalam kekuasaan Kerajaan Sriwijaya namun masyarakatnya tetap menjalankan peradaban dan budaya sebelumnya. Upaya dynasty Syalendra untuk menguasai Asia Selatan dan semenanjung Malaya terus dilancarkan. 


Berbagai gelombang pasukan China dikirim namun hal itu pula yang membuat timbulnya kerajaan baru didaerah tersebut dan justru mereka kemudian mengklaim dirinya menjadi Raja baru yang berhubungan langsung dengan China seperti Kerjaaan Khmer , Kerjaan Lao dan Kerajaan Mon dan tidak tunduk lagi kepada Kerajaan Sriwijaya.


Sebutan serangan dari kelompok Gergasi adalah sama dengan pasukan Chandrabhanu, melalui piagam Grahi pada tahun 1230M memberontak kepada Sriwijaya dan melakukan penyerangan ke negeri sepanjang selatan Asia dan semananjung Malaya termasuk Barus Kuno. Artinya akibat serangan pasukan Gergasi atau Grahi maka Barus Kuno dapat dikuasai oleh Kerajaan Grahi. 


Kerajaan Grahi berada di Thailand berbatasan dengan Kedah disebelah selatannya dan Kambodjadeca disebelah timur serta Myanmar disebelah Barat sedangkan Thailand dan Myanmar lebih banyak dipengaruhi oleh agama Hindu Sywa. Piagam Grahi menyebutkan tahun 1183M atas perintah Kamraten An Maharadja Srimat Trailokya Raja Maulibhusana Warmadewa memerintahkan mahasenapati Galanai yang memerintah Grahi menyuruh Mraten Sri Nano membuat arca Buddha untuk melegakan semua pemeluk agama yang menyembah Buddha ditempat yang bersangkutan.


Hal ini berarti negeri - negeri yang dikuasai Kerajaan Grahi mengijinkan masyarakat yang ditaklukkannya itu untuk tetap menjalankan ajaran Buddha tersebut. Piagam Grahi ditulis dalam bahasa Khmer, hal itu dapat dipahami mengingat letaknya berbatasan dengan Kambodja dan timbulnya Kerajaan Khmer tahun 802M setelah lepas dari kekuasaan Jawa (untuk menyebut Sriwijaya pada waktu itu). Penduduk Grahi menggunakan bahasa Khmer, tetapi dalam kehidupan kenegaraan mereka tetap menjadi warga kerajaan Sriwijaya.



Jika pada tahu 1183M , kita mengenal nama Senapati Galanai sebagai raja bawahan Sriwijaya maka pada tahun 1230M ditempat yang sama kita mengenal nama Candrabhanu Cri Dharmmaraja sebagai penguasa di Grahi dan tercatat dalam Piagam Ch’ai-ya artinya pada tahun tersebut Grahi telah lepas dari kekuasaan Kerajaan Sriwijaya. Nama Grahi tercatat dalam piagam Sriwijaya yang ditemukan di Ch’ai-ya. Sedangkan Grahi sebagai nama tempat tidak lagi dikenal jaman sekarang, tetapi saat ini kedua piagam tersebut dinamai Piagam Grahi Buddha dan Piagam Ch’ai-ya. Ch’ai-ya sendiri dalam peta dunia sekarang dapat ditentukan berada di Thailand Selatan sekarang.


Yang juga berarti Kerajaan Grahi dahulunya berada di Thailand sekarang serta pasukan Gergasi yang sampai di Barus Kuno adalah pasukan yang datang dari Grahi atau Thailand sekarang tersebut. Tetapi harus diingat bahwa Kerajaan Grahi tersebut adalah masyarakat yang sebelumnya dikuasai Sriwijaya dan menggunakan bahasa Khmer dan tentu bukanlah orang Siam. Kekuaaan Candrabhanu berkuasa sejak tahun 1230M – 1270M, kemudian diserang dan ditaklukkan oleh tentara Siam. Siam dapat memporak porandakan sekaligus menguasai Kerajaan Grahi.



Dengan menganalisa kedua kejadian diatas maka ada point penting untuk mengetahui asal-usul SiRaja Batak ditambah lagi perkiraan keberadaannya di tanah batak diperkirakan sejak tahun 1242M – 1260M sesuai perhitungan satu generasi berusia 20-35 untuk menghasilkan generasi berikutnya. Untuk itu penulis cenderung mengambil penentuan asal-usul orang Batak yang erat kaitannya dengan sejarah diatas oleh karena itu mencoba memamparkan kedua alternative dibawah ini ;



Alternatif 1/satu

Tentara Grahi inilah yang disebut Gergasi, yang menyerang Barus Kuno setelah merdeka dari Sriwijaya dan bermaksud untuk penguasaan perdagangan kemenyan dan kapur barus. Disamping itu Candrabhanu juga memerlukan tawanan yang dijadikan pasukan perang untuk dikirim menjadi pasukan perang ke Sri Langka. Disamping rempah - rempah yang dirampas dan dikumpulkan sebagai bekal dan tenaga untuk menyerang Sri Langka yang memang membutuhkan biaya besar dan jaraknya jauh dari Grahi.



Dalam serangan gergasi atau Grahi ini membuat penduduk Barus Kuno yang multietnis, lari mengungsi sembunyi masuk kehutan-hutan untuk menghindar dari tangkapan pasukan Grahi, termasuk juga raja bawahan kerajaan Chola yang berkuasa di Barus Kuno saat itu harus melarikan diri atau pindah ke negeri atau kerajaan lain. Pada saat itu Barus telah dikuasai oleh Kerajaan Chola/ India saat menyerang dan menguasai Sriwijaya dan menempatkan Raja-raja bawahannya saja disana karena itulah kebiasaan dari pada Raja Chola yang cukup dengan hanya memperoleh upeti dari Raja-raja bawahannya sebagai pertanda dibawah kekuasaan Kerajaan Chola.



Pada saat terjadi serangan Kerajaan Chandrabanu membuat Raja-raja tahlukan di Barus dan penduduk lari masuk ke pedalaman hutan untuk bersembunyi dan untuk mempertahankan hidup serta memulai kehidupan dan perkampungan yang baru, tidak mustahil masuknya mereka ke hutan membuatnya sampai ke tempat yang olehnya sendiri dinamakannya Sianjur Mula-mula.

Catatan dan bantahan atas alternatf 1 /satu : Jika Si Raja Batak berasal dari bagian multi - etnis atau tentara bawahan Chola / Tamil yang ada saat itu berkuasa di Barus maka Si Raja Batak tentu akan menganut kepercayaan orang Tamil / Chola dan tidak menjadikannya cenderung menganut agama Hindu Syiwa melainkan akan beragama Buddha Mahayana atau Kristen atau Islam sedangkan kenyataannya Si Raja Batak menganut agama Hindu Syiwa dan ditambah lagi dengan analisa lain jika memang bagian dari multi etnis yang sudah ada di Barus maka sangat mudah baginya untuk melarikan diri dan berbaur dengan masyarakat sekitarnya.



Alternatif 2/dua.

Pada saat itu tahun 1230 – 1270 setelah Raja Chandrabanu menguasai negeri sepanjang selatan Asia termasuk Barus dan kemudian ternyata Candrabhanu tidak berhasil mengalahkan Sri Langka bahkan negerinya sendiri akhirnya kocar-kacir karena diserang tentara Siam. Kerajaan Siam akhirnya dapat menguasai Kerajaan Grahi. Dalam hal demikian ini, pasukan Grahi yang sudah masuk dan menguasai lebih kurang 40 tahun di Barus Kuno sejak awal penyerangannya, mengalami kesulitan untuk pulang ke negeri asalnya , sementara itu untuk tetap tinggal di Barus tidaklah mungkin sebab penduduk sudah tahu kehancuran negeri Grahi setelah diserang oleh tentara Siam.



Pasukan Grahi ini terpaksa harus lari dari Barus Kuno, masuk ke pedalaman hutan atau keluar berlayar dari Barus. Bagi yang lari masuk pedalaman dan setelah jauh memasuki pedalaman hutan maka sampailah mereka di Sianjur Mula-mula Saat mengungsi tersebut apalagi masuk sampai ke daerah Sianjur Mula-mula akan membutuhkan waktu dan menghadapi medan perjalanan yang sulit. Dalam keadaan begitu tentulah banyak yang mati dalam perjalanan dan hanya pimpinan atau raja saja dan keluarga dekatnya yang selalu diutamakan dan dijaga dan itulah yang bisa sampai selamat di Sianjur Mula - mula.



Budaya Batak Kuno pada dasarnya adalah menganut Hindu Tua atau sama dengan Hindu Syiwa. Dalam Hindu Syiwa, rajanya disebut dengan parwatabhupala yang artinya raja gunung, sedangkan keyakinannya adalah terhadap sang Pencipta atau Mulajadi Nabolon yang bersamayam di gunung - gunung yang tinggi. Hindu Syiwa merupakan hal yang sama dengan Buddha Hinayana. Harus diingat pada tahun 1200 Kerajaan Majapahit telah bangkit di Pulau Jawa dan menyerang seluruh wilayah Nusantara termasuk semenanjung Malaya dan Sumatera karena dukungan Dinasty Sanjaya yang ada bangkit di India bahkan Sriwijaya dapat dikuasai dengan sinergi serangan Kerajaan Chola dan Kerajaan Majapahit atau dengan kata lain bangkitnya kembali dynasty Sanjaya dalam mendirikan Kerajaan Majapahit tidak terlepas dari dukungan India dan sama-sama bermaksud mengambil alih Kerajaan Sriwijaya kembali.



Kerajaan Grahi/Chai’ya yang ada di semenanjung Malaya bagian utara adalah sebelumnya ada dalam kekuasaan Kerajaan Sriwijaya namun pada saat itu dalam masyarakat dan Kerajaan Grahi tetap sebagai masyarakat yang Splendid Isolation dan sulit terpengaruh. Keruntuhan Sriwijaya membuat kesempatan baik bagi Kerajaan Grahi untuk melepaskan diri dari kekuasaan Sriwijaya dan menjadi kerajaan yang berdiri sendiri namun sayang sebab tidak berapa lama kemudian dating pula serangan Kerajaan Sjan/Siam atas dukungan China atau dynasty Syalendra untuk merebut kembali Kerajaan Grahi tersebut.



Demikianlah pengungsi itu yaitu bekas tentara Grahi dimaksud sampai di Sianjur Mula-mula dan terdapat juga gunung yang bernama Pusuk Buhit membuat para pengungsi itu sudah berada ditempat yang aman dan bisa dijadikan Splendid Isolation serta kemudian menjadi cikal bakal leluhur semua orang BATAK. Sisa tentara Grahi tersebut adalah Panglima-panglima Kerajaan Grahi /Kesatria-kesatria Grahi dan yang mengerti perihal Kerajaan sehingga mereka mempunyai kemampuan membangun Kerajaan Batak namun tanpa Keraton karena semuanya adalah panglima /kesatria tetapi mempunyai pengetahuan dan keahlian yang cukup untuk berbuat sebagaimana suatu kerajaan dan pemerintahan.



Periode 1230M – 1275M adalah periode yang sepadan dengan awal adanya orang suku Batak dihitung sesuai jumlah generasi dari marga - marga yang ada dan merupakan masyarakat yang sudah mempunyai Tatanan social serta secara peradaban manusia modern. Sisa tentara Grahi tersebut sangat mungkin dan mampu melakukan itu dan berpengetahuan untuk memimpin serta menyusun tatanan masyarakat maupun pemerintahan karena mereka sebelumnya telah memiliki pengetahuan demikian di Kerajaan Grahi sebelumnya. Karena itu pada suku batak atau orang batak disamping mempunyai garis keturunan Patrinial atau democratie patriarchy maka semua laki-laki Batak adalah Raja. Pengertian Raja disini adalah bukan penekanan pada kekuasaan melainkan adalah panglima kehidupan atau primus inter pares. Di Sianjur Mula-mula tersebut mereka dapat memperoleh Splendid Isolation lengkap dengan Gunung Pusuk Buhit dan Danau yang terhampar luas.


Berbeda dengan para suku Proto Malayan yang terlebih dahulu sudah pernah masuk lewat Singkil terus ke Aceh adalah memang manusia-manusia migrasi /urban semata dan tidak tertarik mendirikan suatu Kerajaan pada saat itu , tetapi yang tetap menjadi kesatuan dalam Splendid Isolationnya.


Dalam peta geografi yang mengatakan Tambralingga berada di daerah pantai sebelah timur Malaya maka saat ini daerah sungai Tembeling tidak pula ditemukan dalam peta geografi modern. Daerah itu telah berubah menjadi sungai Pattani dan terdapat juga kota Pattani sebagai nama lama dari daerah kerajaan Tambralingga.


Daerah Pattani ini saat sekarang adalah termasuk kepada kekuasaan Negara Thailand dibagian selatan dan menjadi daerah dari pada masyarakat Thailand yang beketurunan melayu atau menyebut dirinya Thai Asli. Didaerah Pattani pada masa lalu terdapat daerah yang disebut Tak Bai atau kota Hat Yai saat ini.


Disebelah utara Negara Thailand terdapat juga suatu kota bernama Tak. Dalam bahasa Thailand Tak berasal dari kata Thai / Thaek yang berarti ”kebebasan” Sedangkan dalam bahasa Khmer istilah ”Tak” berarti ”ancestor”(English) dan dalam bahasa Indonesia artinya ”leluhur”.

Kita harus mengingat bahwa pada abad 3M – 6M daerah Thailand ini menjadi daerah yang sebelumnya dipengaruhi oleh India dari dinasty Sanjaya dan agama Hindu. Jelas pula adanya peninggalan peradaban seperti kesenian India gaya Amravati yang sudah dikenal sejak abad 3-5M, kesenian sarinath abad 5-8M. 


Pada masa tenggelamnya dynasty sanjaya akibat timbulnya dynasty Syalendra kemudian didaerah Thailand ini berdiri kerajaan Lopburi/Lavaburi sedangkan di Sumatera berdiri Kerajaan Sriwijaya. Nama Lopburi saat ini hanya dikenal sebagai nama kota dan nama tersebut sampai sekarang jelas terlihat dalam peta geografi Thailand serta disana terdapat pula peninggalan dari kesenian India. Ketika bangsa Thai berimigrasi dari wilayah China Selatan menyusuri daerah aliran sungai Me-Nam-Yan di wilayah Thai sudah pula terdapat koloni-koloni India ditempat itu.



Kerajaan Lopburi/Lavaburi berdiri sejak abad 11-13M dan pada awal abad 13M musnah dan direbut kekuasaan Khmer dan berubah lagi kemudian menjadi Kerajaan Chieng-San. Kerajaan Chieng-san ini berkuasa mulai abad 13-18 dan kerajaan inilah yang kemudian disebut dengan SIAM. Bersamaan dengan masa berdirinya kerajaan Chieng-san maka terdapat pula kerajaan Sukhothai yaitu suatu kerjaan yang berdiri dibagian paling utara Thailand sekarang. Rajanya bernama Ramkhamhaeng berkuasa sejak tahun 1279-1298M dan yang menemukan huruf Thai dan bentuk kerjaaan yang bersifat Monarki Patrineal atau Raja Leluhur. Kerajaan ini sebagai asal muasal peradaban Thailand.



Disamping kerajaan Sukhothai maka dibagian utara tersebut terdapat pula pada permulaan abad 13M dan berkuasa hingga abad 18M suatu kerajaan yang bernama Lanna dengan pusat kerjaaan di Chiang Mai. Pada tahun 1286M kerajaan ini dipimpin oleh raja bernama Raja Mangrai dan ada pula raja bernama Raja Trilokaraja berkuasa sejak 1455-1491M. Terdapat juga di Thailand kerajaan yang bernama Ayutthaya yang berdiri sejak tahun 1350M dan berkuasa sampai dengan tahun 1767M dan akhirnya jatuh kepada Mianmar. Pada tahun 1768M atas pemberontakan yang dilakukan oleh seorang Jenderal yang melarikan diri dari Ayutthaya bernama Phraya Tak dan dibantu oleh beberapa pengikutnya mendirikan Kerajaan Thonburi. Kerajaan ini selanjutnya menjadi penerus dynasty Takshin di Thailand sampai saat sekarang.

Melihat dari uraian diatas maka ternyata pada kerajaan-kerajaan Thailand tersebut tidaklah ada terdapat yang menjadi asal muasal Chandrabanu. Chandrabanu jelas adalah bagian kerajaan yang berada di selatan Thailand. Saat bangkitnya Candrabanu dapat diartikan sebagai tanda berakhirnya pemerintahan raja kula Syalendra didaerah tersebut. Politik Candrabanu dijalankan mengandung maksud untuk memperoleh sokongan dari pada penduduk Grahi sepenuhnya guna maksud memperluas wilayahnya diluar Malaya.



Dengan menganalisa kesamaan agama pada orang batak kuno dan lafal bahasa dengan Kerajaan Grahi - Ch’ai’ya , sangat besar dapat dipastikan bahwa nenek moyang orang Batak adalah bekas pasukan Grahi yang berasal dari Thailand Selatan tepatnya orang-orang dari daerah Bai Tak dekat Pattani sekarang selaku pusat Kerjaaan Tambralingga yang direkrut oleh Chandrabanu untuk menjadi tentaranya.



Raja Chandrabanu menjadi Raja Tambralingga dan menyerang Sriwijaya di Kedah dan seterusnya menguasai Grahi. Politik Chandrabanu tidak hanya disitu dia menginginkan penguasaan seluruh wilayah bekas tahlukan Sriwijaya sampai dengan Sri Langka. Chandrabanu sangat bernafsu terhadap rencana tersebut apalagi dengan adanya momentum bangkitnya dynasty sanjaya pada awal abad 12M tersebut.



Pemanfaatan keadaan yang dilakukannya dan dengan nafsu yang berapi-api membuatnya lupa daratan dan mengirimi seluruh tentaranya kepelosok negeri-negeri yang baru direbutnya dan notabene adalah bekas tahlukan Sriwijya. Kekuatan Sriwijaya tidak tinggal diam berkat bantuan Tiongkok melalui kerajaan Siam atau Chieng-san datang mebantu Sriwijaya atau membantu para Syalendra. Penyerangan Siam ini juga bermaksud merebut kembali seluruh wilayah yang baru dirampas Chandrabanu bahkan Grahi sendiri ditahlukkan.



Chandrabanu mati dalam penyerangan Siam , dan menjadi pertanyaan kemanah para pasukan atau tumenggung dari pada Grahi yang telah ditempatkan didaerah-daerah yang baru direbut Chandrabanu tadi ? Untuk kembali ke Grahi tidaklah mungkin untuk tetap tinggal mepertahankan kekuasaan Grahi di Barus tidak pula bisa karena begitu banyak serangan yang bakal terjadi. Kemungkinannya adalah hanya satu pergi melarikan diri dari tempat tersebut pergi mengungsi ke tempat yang lebih aman. Pergi ke luar dari Barus dan selanjutnya mendirikan masyarakat baru lagi. Demikian halnya dengan pasukan Grahi setelah Tambralingga dan semenanjung dikuasai maka pusat kekuasaan Chandrabanu ada berpindah ke Grahi. Pasukan Grahi yang sempat ditempatkan oleh Chandrabanu untuk wilayah Barus tentulah pasukan pilihan yang mampu menyeberangi lautan dan mempunyai pengetahuan yang hebat.

BARUS KEMUDIAN DIPIMPIN OLEH PASUKAN DIBAWAH KEKUASAAN GRAHI SETINGKAT TEMENGGUNG DARI GRAHI. Saat itu Barus sangatlah perlu dikuasai karena menjadi pusat perdagangan rempah-rempah yang sangat terkenal pada bad 12M.

Pasukan yang ditempatkan disana jika tidak setingkat Temenggung tentulah setingkat Laksamana Laut karena memang untuk menyerang Barus harus menyeberangi lautan dan mengenal dan tahu lautan. Pasukan/para kesatria ini dari orang-orang terpilih dari antara orang yang berasal dari Tambralingga dan seperti diketahui pada masa itu di daerah Tambralingga ada terdapat disana tempat bernama daerah Tak Bai yakni daerah yang ada di Pattani sekarang. Akibat kekalahan Grahi kepada Siam maka para pasukan Grahi ini harus pula meninggalkan Barus dan lari mengungsi.



Mereka mengungsi masuk kedalam hutan dan terus masuk ke dalam hutan hingga akhirnya sampai di Pusuk Buhit. Suatu daerah pegunungan disebelah utara Pulau Samosir dan dipinggir Danau Toba sekarang, tempat yang sangat ideal dengan asal muasal para pasukan tersebut. Ditempat inilah kemudian para pasukan tersebut menjadi cikal bakal orang Batak. Kata Batak dalam bahasa batak sekarang sangat sulit dicarikan arti selain dari pada maksud sebuah nama yaitu nama suku batak. Melihat uraian dari perjalanan pasukan Grahi tersebut maka dapat dicari kata batak adalah merupakan ;


1. Nama dari seseorang yang menjadi pemimpin pasukan Grahi tersebut atau nama Laksamana Laut Grahi yaitu bernama Ba Tak. Karena nama dengan kata “ TAK” selanjutnya sangat terkait dikenal banyak di daerah Thailand hingga saat ini ( Tak = thaek = thai = bebas) . Masih ada terdapat dynasty bernama Tak-Shin, adapula jenderal besar dari Ayutthaya yang mendirikan kerajaan Thonburi bernama Tak Phraya.



2. Nama dari daerah asal muasal dari pada para pasukan Grahi yang dikirim ke Barus tersebut yaitu daerah Tak Bai yakni suatu daerah yang terdapat didaerah Pattani. Kota Tak Bai yang sekarang didirikan oleh Inggris pada tahun 1909 sebagai perbatasan anatara Thailand Selatan dengan Malasya. Tetapi jangan lupa karena disana dahulunya pusat Kerajaan Tambralingga. Nama Batak harus dikaitkan sebagai nama suku bangsa yang berasal dari daerah Bai Tak. 


Jadi jelas Batak berasal dari nama daerah asal yaitu Bai Tak yaitu sutau daerah asal muasal dari pada pasukan Grahi . Daerah asal yang tadinya tempat berdirinya Kerajaan Tambralingga dan di kerajaan tersebut terdapat orang Thai Asli atau orang Tak/ Thaek, saat ini masih ada daerah Pattani sampai sekarang ini menjadi daerah istimewa bagi Negara Thailand yang penduduknya mayoritas adalah suku Melayu.



Kata Thaek atau Thai yang dalam bahasa Thailand berarti kebebasan sedangkan dalam bahasa Khmer berarti LELUHUR dan dengan demikian kata BATAK erat kaitannya dengan arti Asal usul Leluhur , budaya leluhur/attitude dan TANAH LELUHUR . Didaerah Thailand ada juga nama tempat lainnya seperti kota Tak (Rahaeng) dibagian utara Thailand, ada juga kota Tak Fa ,kota Tak Nai dan kota Fak Tha, kota Pak Tho, kota Tha Chana, Tha Sala, Tha Sae. Didekat kota Lopburi yang ada sekarang ada kota bernama B. Tha Tak sedangkan didekat kota Chai’ya terdapat pula kota B.Tha Chang.



3. Kata sifat dari suatu keadaan di daerah Perlak dimasa terdapatnya orang-orang yang baik untuk tunduk kepada suatu kekuasaan tertentu dan kata sifat yang menunjukkan orang-orang yang tak-baik (dalam langgam melayu diucapkan Ba’ek-’tak) kepada kekuasaan tertentu.



4. Asal kata yang paling mudah tentulah batak berasal dari kata “watak” sebagai arti dari orang yang berwatak atau berkarakter atau berciri tegas.


5. Berasal dari kata Ba = Barussai dan Tak = Thaek/Tha yang artinya orang –orang thaek yang mulanya ada di pelabuhan Barus yang mengungsi ke Pusuk Buhit membentuk masyarakat Siam/Sien Jur Mula-mula.


Jikalau hendak dikatakan asal usul orang batak dari orang-orang bekas kerajaan Sriwijaya ataupun diduga dari orang Tamil yang sudah ada di Barus Kuno pada masa itu atau murni dari orang melayu tua yang ada pada umumnya maka orang batak kuno haruslah menjalankan peradaban agama Buddha Mahayana, atau Islam Syiah atau Kristen Nestoran. Disamping penelusuran sejarah dan hal-hal yang terjadi pada masa mulanya si raja batak ada maka dikalangan orang Batak dikenal pula suatu legenda tentang asal muasal orang Batak yang diceritakan demikian.


Legenda Asal Muasal Si Raja Batak :

Konon menurut legendanya Si Raja Batak mempunyai asal-usul sesuai dongeng yang diceritakan para leluhur dan telah menjadi mithos ditengah-tengah masyarakat Batak sebagai berikut ;

Siraja Batak berasal dari Manuk - manuk Hulambujati yaitu seekor ayam yang badannya sebesar kupu-kupu namun telurnya sebesar periuk tanah.

Manuk - manuk Hulambujati tidak mengerti bagaimana dia mengerami telurnya yang demikian besar. Karena itu Ia bertanya kepada Mulajadi Nabolon, bagaimana cara mengeraminya. Mulajadi Nabolon berkata: Eramkanlah seperti biasa, lalu Manukmanuk Hulambujati pun mengerami telur besar itu, dari telur tersebut kemudian ada Si Raja Batak , Skema berikut merupakan turutan mithos lahirnya si Raja Batak ;

MANUK – MANUK HULAM BUJATI

1.Batara Guru

2. O. Tuan Soripada 

3. Tuan Mangalabulan

Siboru Pareme Siboru Parorot Siboru Panuturi

1.Op.Tuan Sori Muhamad 1.Tn.Sorimangaraja

2.Dt. Tantan Debata (Guru Mulia) 2. Siraja Endah-endah

3.Siboru Sorbajadi

4.Raja Odap-odap

(SiBoru Deak Parujar / Putri Batara Guru)

IHAT MANISIA

1. Raja Miok-miok 2. Patundal Nabegu 3. Aji Lapas-lapas

ENG BANUA

1. Raja Ujung 2. ENG DOMIA 3. Raja Jau

SIRAJA BONANG-BONANG

TANTAN DEBATA

SIRAJA BATAK

Dalam mithos atau cerita diatas tentulah untuk menunjukkan suatu kekayaan kebathinan yang dicerminkan oleh cerita tersebut. Pengertian spiritual yang tinggi dan religius yang ada pada masyarakat Batak sebagai penganut agama Hindu Syiwa untuk menyebut para dewa-dewi yang diyakininya pada saat itu . Pada kesempatan ini penulis menyampaikan pengertian istilah dan dapat pula diartikan maksud dan nilai dari pada peran cerita tersebut seperti uraian berikut.

Manuk-manuk Hulambujati :

mengartikan bahwa manusia berasal dari sebuah rahim , yaitu rahim yang suci, yang baik dan subur .

Si Boru Pareme :

mengartikan asal usul manusia dari bibit / sel telur perempuan yang baik, hal ini karena terpenuhi makanan dan gizi yang baik.

Si Boru Parorot :

mengartikan asal usul manusia harus dilengkapi dengan sifat ibu yang sudah bisa menjaga dan melindungi anaknya.

Si Boru Panuturi :

mengartikan asal manusia harus dilengkapi dengan kemampuan seorang Ibu yang sudah tersedia padanya nasehat dan cerita yang baik dalam masa pertumbuhan anak-anaknya.

Op. Tuan Sori Muhamad :

mengartikan bahwa rahim berisi manusia jika ada laki-laki yang memberi isi kedalam rahim tersebut dan dasar mencintainya. Kerabat / Pihak dari laki-laki itulah yang disebut oleh istilah ini dan laki-laki itu telah diajarkan cintah kasih (muhamad/mohabed dalam bahasa India berarti cinta)


Dt. Tantan Debata Guru Mulia :

mengartikan bahwa rahim itu ada pada wanita sedangkan Kerabat / Pihak dari wanita tersebut disebut dengan istilah ini. Karena pihak dari wanitalah yang berkuasa memohon untuk diturunkannya berkat dan atau siwanita telah diajari untuk mengurus rumahtangga dan keturunanya serta hubungan antar keluarga.


Si Boru Sorbajadi :

mengartikan tentang si wanita yang siap kawin, yang nantinya rahimnya akan bekerja sendiri setelah silaki memberikan isinya.


Raja Odap-odap :

mengartikan tentang silelaki yang siap untuk berkawin.


Siboru Deak parujar :

mengartikan pada setiap wanita yang telah menjadi Ibu karena telah melahirkan manusia dan telah memiliki kasih sayang Ibu dan berniat memelihara dan mengajari anaknya.


Ihat Manusia :

mengartikan pada setiap manusia yang baru dilahirkan dan sudah siap mengarungi seluruh sisi-sisi kehidupan dunia.

Kebiasan dalam upacara ritual Hindu Kuno yang harus memuja dewa-dewi agar mau memberikan restu dan berkat untuk setiap rencana dan langkah manusia dan istilah diatas adalah panggilan terhadap dewa-dewi tersebut sesuai nama-nama diatas dalam upacara spiritual Batak Kuno.

Si Boru Deak Parujar adalah Ibu yang melahirkan manusia, dia perlambang ke-ibuan dan yang menurut kepercayaan lama menjelma dalam diri setiap wanita batak. Ia juga perlambang kesuburan, yang peranannya melanjutkan seluruh yang terdapat dalam adat perkawinan dan kekerabatan batak . Ia juga termasuk yang melahirkan manusia yang pergi merantau atau ber imigrasi pertama ke Tanah Batak, jadi harus mengingat Ibu yang melahirkan kita.

Ihat manusia adalah

setiap manusia yang dilahirkan dari seorang Ibu (termasuk manusia leluhur orang Batak)


Raja Miok-miok adalah

sebutan bagi manusia yang gagah berani dan telah diberkati Sang Maha Pecipta untuk mewarisi dan menurunkan Si Raja Batak dan raja-raja Batak berikutnya.

Patundal Nabegu adalah kelompok manusia yang penakut dan pasif.

Aji Lapas-lapas adalah kelompok yang kurang jelas prinsip dan tekadnya.

Eng Banua adalah

mengartikan manusia pertama yang datang ke Tanah Batak atau Barus tetapi masih selalu kembali ke negeri asal muasalnya dan manusia yang lain menjalani antar benua.


Si Raja Bonang-bonang adalah

leluhur keturunan Si Raja Batak yang kedua dan masih selalu kembali ke negeri asalnya namun ditanah Batak sudah mempunyai pengaruh dan kekuasaan sehingga cenderung dapat diandalkan menjadi tali komunikasi ke tempat asal.

Raja Ujung adalah manusia yang menjalani antar benua dan diketahuinya dan diyakininya telah berada pada posisi daratan terujung kesebelah timur atau selatan atau barat.


Raja Jau adalah

manusia yang berada dibelahan benua atau daratan lainnya.

Tantan Debata adalah

mengartikan generasi ketiga di tanah Batak dan juga masih kembali ke negeri asalnya namun sudah mendapat pengakuan dan pengaruh atas apa yang ada untuk dikuasainya di tanah batak.

Si Raja Batak adalah

mengartikan generasi berikutnya yang menjadi pemula atau pionir dan eksis menetap dan tinggal seterusnya dan tidak lagi dapat berhubungan dengan negeri asalnya.


Si Raja Batak yang diceritakan dalam mythos tersebut kemudian beranak cucu hingga sampai saat ini dan beradaptasi dengan datangnya pengaruh yang masuk ke daerah batak. Harus diingat pula bahwa Si Raja Batak bukan pula manusia pertama yang sampai di tanah Sianjur Mula-mula melainkan sudah ada jauh sebelumnya, manusia - manusia lainnya berada disana. Mereka itu adalah para Proto Malayan yang berdatangan sesuai gelombang migrasi dari Asia Selatan atau semenanjung Yunan.


Namun manusia-manusia sebelumnya hanyalah manusia-manusia yang hidup secara Splendid Isolation dan hidup bebas dan berpindah/nomade, hidup dalam keadaan dan mengikuti pola kebutuhan serta dihutan mana ada ditemuinya terdapat makanan. Bahkan untuk daerah lain yang secara geografis berdekatan dengan tanah Sianjur Mula-mula sudah terdapat adanya komunitas masyarakat yang merupakan kerajaan bawahan dari kekuatan bangsa besar. Kerajaan bawahaan tersebut memang didirikan untuk mengusai rempah-rempah dan agen perdagangan rempah-rempah yang memang banyak terdapat di Pulau Sumatera. 


Dalam rangka perdagangan rempah-rempah tersebut membuat bangsa-bangsa besar tersebut mendirikan negeri bawahannya di pulau Sumatera seperti misalnya ;

a. Didaerah Jambi/ Chanpe’i , persisnya di Hulu Sungai Batang Hari telah terdapat Kerajaan Criwijaya Mol’yu dan negeri bawahan INDIA bernama P’oli di daerah Aceh sekarang. Yang didirikan para Saudagar India dan Gujarat dan merupakan negeri bawahan dynasty Sanjaya dari India Sealatan yang beragama Buddha Hinayana dan Islam Gujarat.


b. Didaerah Peurlak telah berdiri Kesultanan Peurlak sebagai kesultanan yang didirikan oleh para saudagar Persia. Hal ini diperlukan para saudagar Persia yang melakukan hubungan dagang dengan Tiongkok dan menjadikan Peurlak sebagai tempat persinggahan. Dalam bahasa Persia ‘perlak’ berarti Tadj I Mahal = Mahkota Alam” walaupun kemudian Persia selanjutnya jatuh kepada Tentara Turki tahun 1159.


c. Kesultanan Mesir dari dynasty Fatimah merebut monopoli dagang rempah-rempah yang lewat jalan laut dengan menguasai Gujarat/India dan di pulau Sumatera yaitu muara Sungai Pasai/ Kesultanan Daya Pasai termasuk hulu Sungai Kampar di Minangkabau Timur.

Berbagai pengaruh yang ada di tanah Batak seluruhnya adalah peristiwa yang harus dialami oleh manusia-manusia Proto Malayan yang terlebih dahulu ada disana dan pengaruh itu sedikit banyak membuat para Proto Malayan semakin berpencar kemana-mana. 


Hal yang mudah pula dipahami bahwa hanya manusia yang memiliki pengetahuan dan pengalaman berbangsa, berkerajaan yang mampu untuk membangun tatanan dan system Negara dalam masyarakat dan itu telah dimiliki oleh bekas tentara-tentara Grahi dimaksud dan tak mungkin pula masyarakat – masyarakat Proto Malayan yang urban kesana sebelumnya mampu membuat tantanan dan system negara karena hanya cenderung menjadi manusia – manusia primitif saja akibat selalu splendid isolation. 


Bagi yang keluar dari Barus Kuno , tentu hanya dengan jalan berlayar. Pilihan arah yang dituju hanya ada dua yaitu menuju selatan dan ada yang berlayar melalui arah utara. Apabila kita ambil perhitungan untuk satu sundut/satu generasi dalam melahirkan generasi berikutnya adalah lebih kurang 35 tahun maka dapat pula diperhitungkan generasi suatu marga yang ada saat ini pada tahun 2008 merupakan generasi yang keberapakah dari si Raja Batak.


Kita bandingkan misalnya : Generasi/Sundut dari Si Raja Batak sampai pada SiSingamangaraja XII, seperti yang diketahui Si Raja Batak mempunyai anak kedua yang bernama Raja Isumbahon. Sedangkan Raja Isumbahon mempunyai anak bernama Tuan Sorimangaraja dan seterusnya sampai kepada Sisingamangaraja XII telah dapat dihitung yaitu merupakan generasi ke-19M. 


SiSingamangaraja XII meninggal pada tahun 1907M dan pada saat itu anaknya Raja Buntal (merupakan generasi ke-20) sudah beranjak dewasa. Dengan demikian dari Si Raja Batak hingga ke Raja Buntal (1907M) sudah ada 19 sundut / generasi. Jadi masa hidup Si Raja Batak dapat diperkirakan sekitar perhitungan 19 kali 35 tahun sebelum tahun 1907M, atau lebih kurang pada tahun 1242M.


Jika tahun 1242M tersebut ditetapkan sebagai masa mulai adanya Si Raja Batak maka hal ini sangat mungkin untuk dipertimbangkan berbagai hal yang terjadi pada tahun tersebut di geografis Barus dan sekitarnya. Hal ini pula tidak berbeda jauh dengan masa serangan pasukan Grahi dari Thailand Selatan ke Barus Kuno yang juga diperkirakan mulai pada tahun 1230M. Dengan mempelajari serta menganalisa kemiripan budaya maupun bentuk kulit serta postur tubuh kebenaran sejarah ini perlu digali lebih jauh agar dapat dibuktikan pendapat diatas sebagai sejarah yang valid dan nyata. Yang paling baik adalah menggali dan mengurut sejarah kota Barus dan menghubungkannya dengan Piagam Cai’ya serta Piagam Grahi maupun benda-benda purba kala lainnya bertahun 1200 M.


Penulis yang menekankan adanya serangan pasukan Gergasi atau pasukan Kerajaan Grahi diseluruh semananjung Malaya sampai ke Pulau Sumatera termasuk pelabuhan Barus adalah hal yang merupakan arti dimulai adanya timbul peradaban pada suku Bangsa Proto Malayan yang terdahulu masuk ke daratan sebelah barat pulau Sumatera. Bekas tentara Grahi ini kemudian tidak dapat kembali ke Kerajaan asalnya atau Kerajaan Grahi karena Kerajaan Grahi telah dibumi hanguskan oleh tentara pasukan Kerajaan Siam. Sementara di pelabuhan Barus sendiri telah diketahui oleh masyarakat yang ada bahwa Kerajaan Grahi telah dimusnahkan oleh tentara Siam maka menimbulkan kekahawatiran bagi pasukan Grahi yang tersisah di pelabuhan barus harus menyingkir karena menghindari serangan masyarakat atau multi etnis yang ada disana sebelum mereka kuasai, termasuk serangan dari bekas pasukan Kerajaan Cola yang memang baru kembali bangkit pada Dinasty Sanjaya di dataran India.



Demikian masyarakat primitive di pulau Sumatera tersebut mengalami banyak pengaruh dari luar sejak awal abad Masehi dan telah mengusik manusia-manusia primitive tersebut sekaligus memberikan kontribusi peradaban. Peradaban yang sekaligus menjadikannya sebuah masyarakat dan tatanan social yang pada mulanya hanya untuk keperluan dagang rempah-rempah terutama kemenyan dan kapur barus. Dengan masuknya tentara Grahi membuat tatanan social yang sudah terdapat disana menjadi tatanan social yang lebih maju yaitu masyarakat yang mengenal Raja atau pemimpin dan system pemerintahan kerajaan yaitu si Raja Batak.


Perdagangan rempah-rempah semakin membuat daerah Sumatera bagian utara lebih banyak dimasuki oleh para saudagar dan kapalnya serta memberikan kontribusi pengaruh atas peradaban disana. Hanya pasti jelas saudagar-saudagar tersebut tidak pula memberikan kontribusi pada pembangunan manusia-manusia disana, hanya butuh rempah-rempahnya saja dan itu dilakukan dengan membawa budak-budaknya dan juga menangkapi manusia-manusia yang ditemukannya disana yang bisa pula untuk dijadikannya sebagai budak.



Perkembangan selanjutnya para saudagar-saudagar tersebut membuat base camp/agen dagang atau daerah kekuasaannya dan masing-masing para saudagar yang datang berbuat pula demikian. Padahal saudagar-saudagar itu ada yang dari Eropa, Arab, China dan India, dan sebanyak itulah mereka membuat daerah kekuasaannya masing-masing. Dalam daerah kekuasaan tersebut dalam peningalan sejarah dapat dikenal adanya komunitas India dan candi Portibi di Barus, sedangkan di daerah Perlak sebagai komunitas Arab , di daerah Jambi sebagai komunitas yang dimulai dari India kemudian China sedangkan saudagar Eropa hanya berkuasa dikapal-kapalnya dan kuat berkuasa di pelabuhan Barus.



Masuknya berbagai suku bangsa di pelabuhan Barus membuat Barus dikenal sebagai Negara Lima Pulau Barus yang artinya disana terdapat lima suku bangsa besar yang saling ketergantungan untuk mengeksplorasi hutan guna memperoleh rempah-rempah. Lima suku bangsa tersebut tak lain dari Eropa, China, India, Arab dan Melayu atau Proto Malayan Primitif. Pelabuhan Barus menjadi sentra bisnis yang diperhitungan secara internasional pada masa itu, membuat Negara/Kerajaan asal muasal dari suku bangsa yang datang tersebut berusaha untuk menguasai Barus. Silih berganti kekuatan datang menyerang dan memperebutkan pelabuhan Barus, dan berlangsung berabad-abad sampai akhirnya Barus itu sendiri habis dan ditinggalkan oleh akibat peperangan.

Si Raja Batak adalah komunitas Proto Malayan yang datang pada abad 12M disaat terjadinya serangan tentara Grahi di pelabuhan Barus . Pelabuhan Barus dapat direbut tentara Grahi dan menguasainya berpuluh tahun. Namun akibat Kerajaan Grahi yang berada di selatan Thaliand telah dimusnahkan oleh serangan tentara Siam membuat tentara Grahi yang ada di Barus terpaksa tertinggal di Barus dan kemudian melarikan diri kedalam hutan. Sisa tentara Grahi ini terpaksa melarikan diri. Ada yang berlayar keluar Barus dan ada yang melarikan diri ke dalam hutan.

Mereka yang lari masuk ke dalam hutan bisa pula sampai di Pusuk Buhit dan tempat itulah dijadikan perkampungan baru mereka dan diberi nama Sianjur Mula-mula. Kata Sianjur Mula-mula adalah kata yang dalam bahasa batak sulit pula dicarikan arti kecuali menjadi nama suatu tempat asal muasal. Penulis menganggap kata Sianjur Mula-mula adalah perpaduan kata dari bahasa Grahi dan bahasa Sansekerta atau bahasa Tambraligga. 


Nama tersebut merupakan nama tempat yang diberikan tentara Grahi yang mengungsi itu dan dimaksudkan sebagai suatu tanda deklarasi atas pengakuan terhadap kekuasaan Siam dimasa itu. Deklarasi dimaksud untuk mendapatkan perlindungan dan agar tidak mendapat serangan dari pihak manapun, karena dengan mendeklarasikan bahwa mereka adalah bagian dari kekuasaan Siam maka akan selamat dari ancaman serangan pihak manapun. 



Kata Sianjur Mula-mula boleh jadi berasal dari kata SIAM + JUR + MULAMULA.

SILAU RAJA PUTRA BUNGSU SIRAJA BATAK

Dalam sejarah si Raja Batak dikenal bahwa asal muasalnya adalah berada di Sianjur Mula-mula dan diperkirakan mulai ada pada tahun 1230. Si Raja Batak mempunyai beberapa keturunan dengan anak pertama bernama Guru Tetea Bulan atau Ilontungan atau Namarata atau Toga Datu sedangkan anak kedua bernama Raja Isumbaon. Guru Tetea Bulan pada masa mudanya masih sempat memperoleh beberapa benda pusaka berupa Hujur Siringis, Batu Martaha dan cincin yang selalu cocok untuk semua jarinya. Guru Tetea Bulan kawin dengan Sibasoburning yaitu putri dari kalangan manusia primitive yang masih berkaliaran di hutan.


Dari perkawinan tersebut lahirlah masing-masing ;

Anak laki-laki pertama diberi nama Raja Biak-biak / Raja Miok-miok.

Anak Kedua laki-laki bernama Saribu Raja dan lahir kembar dengan seorang putrid bernama Siboru Pareme.

Anak Ketiga laki-laki bernama Limbong Mulana, anak ke-empat laki-laki bernama Sagala Raja sedangkan anak laki-laki yang kelima yaitu paling bungsu bernama Silau Raja dan diperkirakan ada lahir pada tahun 1260. Anak perempuan lainnya adalah Siboru Anting Sabungan dan Siboru Biding Laut dan Nan Tinjo.



Dalam pertumbuhannya setelah anak-anak Guru Tetea Bulan tersebut menjadi dewasa ternyata Saribu Raja dan Siboru Pareme menghadapi masalah sebab diantara mereka terjadi perkawinan incest. Hal ini dapat terjadi mengingat mereka adalah kembar dan kebersamaan membuat bibit rasa sayang yang lain timbul. Namun akibatnya perkawinan itu membuat keluarga marah dan memutuskan akan membunuh Saribu Raja. Rencana pembunuhan itu diketahui oleh Silau Raja dan oleh karena itu diberitahukannyalah rencana ituu kepada Saribu Raja dan agar pergi melarikan diri saja. Pada saat rencana melenyapkan Saribu Raja tersebut dilakukan dengan membakar rumahnya ternyata oleh keluarga tidak lagi dapat menemui Saribu Raja karena sudah melarikan diri dan akhirnya keluarga saling curiga siapa yang membocorkan rencana tersebut.

Rapat keluarga akhirya dapat mengetahui bahwa yang membocorkan rahasia tersebut adalah Silau Raja, karena dia yang paling mungkin membocorkan hal itu dibandingkan dengan keluarga lainnya. Untuk itu maka Silau Raja diusir dari kampung tersebut dan disuruh mencari Saribu Raja yang sudah melarikan diri.

Dengan kata lain Saribu Raja dan Silau Raja , keduanya terpaksa keluar dari Sianjur Mula-mula, keluar dari komunitas keluarganya. Sesuatu yang biasa terjadi dalam kehidupan manusia jika mengahdapi kesulitan dalam kehidupannya maka pilihannya pergi kembali ketempat asal muasal atau pergi mencari identitas baru. Untuk itu Saribu Raja memilih pergi menuju daerah yang kearah Selatan dari Sianjur Mula-mula sedangkan Silau raja pergi menuju daerah kearah Timur.



Saribu Raja memilih pergi kearah selatan karena daerah itu telah terdapat pusat perdagangan yaitu pelabuhan Barus sebab dengan kapal-kapal yang akan singgah dipelabuhan Barus dapat membawa dia kembali ke tempat asal muasal nenek moyangnya. Tujuan pergi untuk bersembunyi melalui daerah Barus dengan orang-orang yang sudah banyak terdapat disana membuat dianya akan dapat menyembunyikan diri. Sedangkan Silau Raja pergi kedaerah timur untuk maksud bisa kembali ke tempat asal muasal nenek moyangnya di Tambralingga – Grahi melalui perjalanan daratan.



Sepanjang perjalanan ke pelabuhan Barus yang dilakukan oleh Saribu Raja ternyata merupakan perjalanan panjang dan jauh dan telah membuatnya berulang kali mempunyai komunitas baru dan perkawinan baru di setiap kumunitas pada daerah yang didirikannya. Hal ini sangat terlihat jelas dengan didapatinya banyak keturunan Saribu Raja terdapat yakni hampir diseluruh selatan dan barat dari Sianjur Mula-mula sebagai klaim daerah asal atau bona pasogit dari pada para keturunan Saribu Raja.



Keturunan dari Saribu Raja tersebut dikenal pula dengan nama si Raja Borbor dan di bagian selatan ini selanjutnya mereka mempunyai dan menggunakan gelar dengan nama Raja Hatorusan . Sebagai daerah perniagaan bagian selatan ini sangat banyak mendapat pengaruh dari luar terutama dalam pengaruh ekonomi termasuk juga pengaruh politik dalam rangka penguasaan dagang rempah-rempah. Pengaruh dari luar dimaksud terutama untuk bagian selatan dan barat dari Sianjur Mula-mula datang dari bangsa-bangsa Eropah dan India.



Pengaruh bangsa Eropa telah meninggalkan akibat pada masyarakat yang ada berupa ajaran agama , pendidikan, pelayanan kesehatan yang tidak terlepas dari missi Kristen , sama halnya juga dengan pengaruh bangsa India disana yang meninggalkan berbagai Candi sebagai bukti terdapatnya komunitas Hindu disana.

Bangsa Arab dikemudian hari masuk juga ke daerah ini namun melalui Kesultanan-nya di Aceh atau Pasai yang melalui penguasaan daerah Kampar Minangkabau turut pula memberikan andil pengaruhnya di bagian selatan Sianjur Mula-mula ini apalagi letaknya saling berbatasan dengan daerah Minangkabau. Pengaruh itu telah meninggalkan pengaruh agama Islam mazhab Syiiah disana pada saat itu dan ragam budayanya.



Dalam perkembangannya sampai saat ini maka sangat mudah kita kenal para keturunan dari Saribu Raja tersebut baik dengan menyebut marganya saja maupun dengan menyebut asal daerahnya / bona pasogitnya. Apalagi pada saat pendirian Negara Republik Indonesia tidak sedikit pula para keturunan Saribu Raja turut serta menjadi bagian perjuangan melawan penjajahan Belanda. Perjuangan para keturunan Saribu Raja tersebut bukan hanya terhadap penjajahan Belanda akan tetapi secara simultan telah mempunyai bibit-bibit perjuangan jauh sebelum Belanda menjajah di negeri ini. Perjuangan untuk suatu kesatuan masyarakat Sianjur Mula-mula yang ada dan keturunannya yang telah berpencar kemudian dari Sianjur Mula-mula.



Bila dibandingkan antara perjalanan Saribu Raja dengan keadaan pada perjalanan Silau Raja maka sangat banyak untuk diketahui orang adalah perjalanan dari pada Saribu Raja , termasuk juga para keturunan Limbong Mulanan, keturunan Sagala Raja dan perkembangan dari keturunan Raja Isumbaon, hal ini terjadi karena untuk perjalanan seorang anak bungsu yang terbuang dari komunitasnya mungkin tidak pula penting pada saat itu. Secara hirarki yang mana pada komunitas Batak yang menganut patrineal membuat anak bungsu lebih terbatas dibandingkan dengan yang ada pada derajat para abangnya.



Silau Raja dalam pengembaraannya yang juga adalah anak seorang bekas tentara kerajaan tentu mempunyai pengetahuan dan naluri menjadi seorang patriot dan pemimpin. Hal itu menjadi potensi yang cukup baik baginya untuk bisa menguasai setiap komunitas-komunitas manusia proto Malayan yang ditemuinya dimanapun dalam perjalanannya saat itu. Kelebihan yang ada pada Silau Raja yang mudah dapat beradaptasi cepat dengan manusia-manusia proto Malayan selaku komunitas primitive membuat Silau Raja untuk mudah pula menjadi pemimpin dan sangat memuluskan setiap perjalanannya.Keadaan geografis demikian sangat mempengaruhi perjalanan dari pada Saribu Raja dan Silau Raja, dan membuat mereka harus bisa beradaptasi dan membawakan dirinya di setiap tempat dan komunitas yang ditemuinya. Untuk itu mereka mempunyai cara masing-masing sehingga untuk mengawini wanita ditempat yang ditemuinya itu dilakukan mereka juga.

Akan halnya dengan Silau Raja, sebelum perjalanannya makin jauh dari Sianjur Mula-mula masih beruntung sudah mempunyai anak yang lahir dahulu di daerah yang masih dekat dengan Sianjur Mula-mula – Rianiate yaitu anak pertamanya yang bernama Malau Raja. Kemudian mempunyai anak lagi dari istrinya yang berikutnya yaitu Manik Raja, Ambarita Raja dan Gurning Raja yaitu anak-anaknya yang lahir di daerah rantau berikutnya yakni di daerah Salaon.



Setiap anak-anak yang telah lahir itu hanya ditinggalkannya bersama istrinya dan datang dan kembali lagi sesuai dengan keperluannya sebab Silau Raja sendiri tetap berjalan sesuai pengembaraannya. Pengembaraan dimaksud tidak pula lagi hanya untuk mencari jalan menuju tempat asal muasal nenek moyangnya tetapi bertambah dan sudah lebih terfokus mencari keperluan hidup dan hasil mata pencaharian mengingat pada keperluan anak istrinya. Didaerah Sianjur Mula-mula, Silau Raja tidak dapat mempunyai kebebasan untuk mencari nafkah karena terbuang dari komunitas keluarga .

Saat itu bertentangan pula dengan abangnya, membuatnya tidak mendapat hak dan tidak mungkin dapat mengelolah tanah sekitar Sianjur Mula-mula untuk bisa diusahakannya sebagai areal pertaniannya. Kesulitan itu membuat Silau Raja harus berjuang dan terus mencari nafkah bagi anak istrinya jauh ke negeri-negeri lain dan atau hutan belantara lain, sambil mencari jalan untuk bisa sampai ke daerah asal nenek moyangnya. Keadaan demikian itulah yang memaksanya harus selalu meninggalkan anak istrinya dan akan kembali setelah memperoleh hasil yang bisa dibawa pulang kepada anak istrinya tersebut.

Hal itu pula maka pada saat anaknya Malau Raja sudah besar dimana di daerah Sianjur Mula-mula sudah timbul system kemasyarakatan sebagai aturan hidup dikalangan orang batak disana, maka anaknya Malau Raja-lah yang tampil sebagai wakil dari pada bapaknya. Penampilan Malau Raja selaku anak tertua dari Silau Raja membuatnya kemudian lebih dikenal dibandingkan dengan nama bapaknya. Tugas dan kewajiban Malau Raja sebagai wakil bapaknya tidak pula hal yang sepele sebab Malau Raja juga harus mampu menjadi pengganti orangtua bagi seluruh adiknya.



Aspek lain , dikalangan keluarga besar kakek neneknya maka Malau Raja lebih mudah diterima dibandingkan bapaknya Silau Raja. Mengingat Silau Raja pernah dianggap telah melakukan penghianatan membocorkan rahasia rencana keluarga untuk melenyapkan Saribu Raja pada masanya. Sedangkan pada Malau Raja tidak akan menyimpan dendam atau sakit hati seperti rasa sakit hati yang ada pada Silau Raja bapaknya yang terusir tersebut. Kakek nenek Malau Raja tentu mampu pula memberikan hati dan simpati kepada Malau Raja sehingga Malau Raja-lah yang selanjutnya dipasang sebagai keturunan keluarga yang paling bungsu dan melupakan nama Silau Raja.



Tugas yang ada pada Malau Raja membuatnya harus bisa mengurusi adik-adiknya dan kemanapun Malau Raja pergi kesana pula para adik-adiknya ikut serta. Malau Raja ternyata sangat mampu menjalankan peran pengganti bapaknya, dan terlihat pula hasilnya sampai saat ini dimana setiap ada perkampungan baru yang dibuka para keturunan Malau Raja maka para keturunan adik-adiknya terdapat pula disana. Tidak hanya itu pada masa lalu tidak jarang terdapat dalam satu rumahpun terdapat disana keturunan Malau Raja bersama keturunan Manik Raja, Ambarita Raja dan Gurning Raja. Mereka menjadi satu kelompok yang tak terpisahkan dan sepenanggungan sangat erat hubungan persaudaraanya.



Dengan tampilnya Malau Raja sebagai pengganti bapaknya Silau Raja didalam semua kegiatan dan keperluan dalam tatanan masyarakat Sianjur Mula-mula maka terselamatkan sudah benang merah asal-usul para keturunan Silau Raja dalam masyarakat Sianjur Mula-mula dan hingga sampai saat ini Malau Raja, Manik Raja, Ambarita Raja dan Gurning Raja tetap sebagai bagian dari masyarakat Batak.



MISTERY SILAU RAJA

Masyarakat Pulau Samosir khususnya di Huta Malau, mengklaim bahwa daerah itu dahulunya pernah dilalui oleh Silau Raja atau tempat itu sampai sekarang disebut tempat Pamolusan ni Silau Raja. Hal yang bisa saja dibenarkan karena Silau Raja sendiri selalu berpergian merantau mencari nafkah dan untuk keperluan lainnya.



Kemanakah selanjutnya Silau Raja pergi , bagaimana dengan hatinya yang tidak diakui keluarganya lagi karena keluarga sudah lebih mengakui keberadaan anaknya Malau Raja, apakah yang bisa diperbuat Silau Raja selanjutnya ; mungkin hanay satu jawabnya ; pergi sejauh mungkin dari komunitas orang tuanya, pergi dengan membawa kepedihan dalam hatinya, terpaksa pergi bukan pula karena kesalahannya, pergi dengan tangis yang bertanya-tanya dan tanpa ada pula jawabannya , mungkin hanya langit jualah yang bisa menjawab. Dimana pula pusara Silau Raja ? Kepergian itu telah menjadikan kehidupan yang baru terjadi pada diri Silau Raja, kepergian tak lagi terbebani akan keperluan anak dan keluarga kepergian yang membawa kegetiran hatinya, kepergian tanpa beban dan kepergian yang hanya membawa dirinya untuk pulang ke daerah asal muasal nenek moyangnya.



Seperti diketahui daerah Tambralingga atau Grahi tersebut ada berada disebelah timur laut dari Sianjur Mula-mula, yaitu daerah tempat Kerajaan Grahi berada dan letaknya antara semenanjung Malaya bagian utara dengan Thailand bagian selatan. Maka dalam mencari arah tersebut dengan berpedoman pada kompas bintang dilangit, Silau Raja pergi meninggalkan tanah Sianjur Mula-mula , pergi sebagaimana petunjuk bintang dilangit, pergi menembus hutan belantara, pergi dengan hati yang keras dan dingin, tekadnya yang kuat, pergi dengan kebenaran hatinya saja, pergi atas kebenaran yang tiada orang lain mengerti, pergi mengalahkan hatinya untuk tidak menyakiti hati para keluarganya sendiri.

Perjalanannya secara fisik tidaklah sesuatu kendala berarti baginya karena Silau Raja sendiri sudah terbiasa pergi menembus hutan belantara, dia sudah terbiasa dengan medan hutan dan selalu bisa menyesuaikan dirinya dengan keadaan apapun disetiap tempat yang ditemuinya. Perjalanannya tanpa disengaja dan tidak disadari oleh Silau Raja ternyata membawanya sampai ketempat baru, tempat mana terdapat Kesultanan Perlak. Daerah yang secara geografis maka hanya dengan menyeberang lautan sudah akan bisa mudah sampai ke Grahi daerah nenek moyangnya.



Didaerah Perlak, Silau Raja bergaul dengan para saudagar-saudagar disana dan ternyata berkenalan pula dengan seorang putri dari kalangan saudagar. Silau Raja sendiri bukan pula sulit untuk menyesuaikan diri disetiap tempat yang ditemuinya. Pengetahuannya dan penampilan fisik yang ada padanya mempermudah dia untuk dikenal siapapun. Hal yang ada pada Silau Raja itu , menjadikannya untuk sangat mudah dikenal para saudagar-saudagar dan saudagar-saudagar itu mengenalnya sebagai orang yang berbeda dari orang primitive lainnya.



Silau Raja sangat kentara berbeda dengan para manusia pagan lainnya didaerah Perlak dan atas kemahiran dari Silau Raja membuat para saudagar-saudagar daerah Perlak berniat mengajaknya untuk kerja sama. Mereka mengajak Silau Raja bergabung dengan para saudagar-saudagar disana dalam mengelolah dan mengendalikan jalur rempah-rempah.



Hasilnya Silau Raja bisa menjadi orang kaya sama dengan para saudagar-saudagar dan membuatnya lupa untuk meneruskan perjalanannya ke tempat asal muasal nenek moyangnya. Silau Raja menyesuaikan diri dengan kehidupan para sudagar-saudagar yang mayoritas adalah saudagar-saudagar Arab, Mesir, Persia dan Qurais. Silau Raja menggunakan namanya sesuai bahasa dan dialek para saudagar Arab/Mesir tersebut, tidak digunakannya lagi kata Raja, karena kata raja berbau Hindu dan juga dia sendiri dianggap masih kaum pagan . Silau Raja menyesuaikan namanya dan memakai kata dalam bahasa Arab/Mesir dan menyebut namanya menjadi Marah Silu yang artinya juga adalah Silau Raja . Marah atau Meurat atau Mora mempunyai arti Raja ( bahasa Arab-Persia)

Melihat hal tersebut maka sangat masih bisa diyakini bagaimana adanya perjalanan dari pada Silau Raja tersebut yang tadinya bermaksud pulang ketempat asal nenek moyang malahan bergabung dengan para saudagar di Perlak. Perjalanan yang berkelanjutan dan yang hanya tahu arah seterusnya dan terus kearah timur dan yang memungkinkan Silau Raja dalam perjalanannya itu, masuk juga melintasi daerah Kerajaan Nagur.

Kerajaan Nagur yang menurut cerita dibangun dan didirikan saudagar-saudagar Gujarat dibawah kendali Dinasty Fatimah. Namun sampai saat ini tidak pula jelas dimana letak geografis dari pada Kerajaan Nagur tersebut, bahkan tidak ada pula benda peninggalan yang membuktikan adanya Kerajaan Nagur. Cerita yang mengatakan Kerajaan Nagur berada di daerah Simalungun maka timbul pertanyaan apakah istilah Simalungun sudah ada pada tahun 1200M yaitu sejak yang dikatakan Kerajaan Nagur ada pada tahun 1200M ?


Hal tersebut membuat ketidak benaran semakin nyata karena kata Simalungun atau daerah Simalungun ada dan dikenal baru pada tahun 1339M. Simalungun dikenal dengan arti daerah-daerah yang sunyi penuh dengan kesaduhan dan kerinduan pada kampung halaman. Simalungun menunjukkan pada tempat pedalaman hutan dalam mencari nafkah atau tempat mencari hasil hutan, sehingga orang yang pergi kesana akan tersiksa hatinya dan merasakan begitu sunyi dan sendirinya dalam hutan tersebut dan merasakan rindu untuk cepat pulang. Arti bebas dari kata si-malungun itu adalah si-peng-impian atau orang yang mengimpikan sesuatu.


Pada tahun 1300-an daerah Simalungun sekarang adalah tempat para orang-orang Batak untuk pergi mencari hasil hutan/manombang dan baru saat datangnya Raja Indrawarman yaitu Raja yang lari dari Darmacraya – Jambi yang oleh karena akan diserang tentara Majapahit melarikan diri masuk ke hutan-hutan daerah Simalungun dan medirikan Kerajaan Silo. Jadi istilah Nagur dalam buku dan catatan sejarah mengatakan ada pada tahun 1200M sedangkan istilah Simalungun ada disaat Raja Indrawarman mendirikan Kerajaan Silo ditahun 1300-an dan tidak ada pula dalam catatan atau kronik sejarah pada kurun sebelum tahun 1200 yang telah mengenal istilah ini.


Hal itu tentu sekalian menjawab argument berbagai kalangan yang mengatakan leluhurnya berasal dari Nagur dan sudah berada didataran sumatera bagian utara jauh sebelum abad masehi tiba padahal catatan sejarah tidak ada yang pernah mencatatkan istilah Nagur atau Simalungun sebelum tarikh tahun 1200-1300M. Hal lain yang bisa saja terjadi jika orang-orang tersebut memang mengambil garis leluhurnya dari kalangan proto Malayan yang diperistri oleh leluhur batak walaupun hal ini mempunyai kelemahan karena kaum proto Malayan tentulah mempunyai keterbatasan untuk mencatatkan riwayat sejarahnya. Pada masa itu yang mempunyai kemampuan hanyalah para saudagar maupun pendeta Budha-Hindu.


Dalam sejarah Kerajaan Nagur yang diceritakan tersebut, ada yang dikenal dengan seorang bernama Marah Silu. Marah Silu adalah Raja Pertama dari pada Kerajaan Samudera Pasai yang bukan dari kalangan Gujarat atau yang bukan dari keturunan kaum saudagar melainkan dari golongan batak pagan. Kata Nagur sulit dicari artinya dalam bahasa batak maupun bahasa melayu atau bahasa Indonesia, namun kata nagur dengan kata sianjur bisa mempunyai splelling yang sama ; na – gur dan sian – jur , penekanan pada gur dan jur menunjukkan kata tunjuk . Dengan demikian tentu dapat diperoleh arti dari pada na- gur berarti dari gur (tempat) . Begitu juga dengan kata sian – jur berarti dari jur (tempat) sehingga Nagur dan Sianjur adalah tempat yang sama yaitu Sianjur Mula-mula. Kecuali itu kata na-gur paling dekat dikenal dengan istilah di Asia Barat dan Asia Tengah yaitu dalam istilah Kle-Gur yaitu istilah terhadap tentara primitive atau animal warriors atau kesatria-kesatria primitif atau Krugs pada masa Kingdom of Ehb. Hal demikian sama saja dengan para saudagar dari Arab , Persia, Gujarat dan Eropa dalam memandang kaum pribumi di Sumatera dengan sebutan kaum Nagur atau istilah lain kaum batak pagan.


Perlu juga diperhatikan bahwa kata Sianjur Mula-mula dalam bahasa batak yang ada juga tidak banyak dapat mengartikannya kecuali sebagai nama tempat asal muasal. Seperti dijelaskan diatas bahwa tentara Grahi yang ada di pelabuhan Barus tidak mudah kembali ke Grahi. Sedangkan Grahi telah dikuasai pula oleh tentara dari Siam. Dari itu kata Sianjur Mula-mula bisa saja merupakan suatu deklarasi dari para bekas tentara tersebut untuk menyatakan bahwa mereka adalah bagian dari pada Kerajaan Siam yang ada di Sumatera.

Peradaban masa itu memberikan pengetahuan bagi manusia untuk meniru apa yang sudah ada dan dipandang lebih baik tak terkecuali untuk meniru atau menyebutkan nama sesuatu asal usul untuk nama tempatnya yang baru. Bila diperhatikan nama-nama dari leluhur orang batak seperti : Guru Tatea Bulan, Isumbahon , Uti Raja/Miok-miok, Saribu Raja, Limbong Mulana, Sagala Raja , Silau Raja,atau nama Sorimangaraja jelas bukanlah menggunakan bahasa Batak yang dikenal saat sekarang ini. Nama Sorimangaraja dapat berarti Sri Maharaja jelas nama dari istilah sansekerta atau istilah yang dikenal dalam Kerajaan Sriwijaya . Hal ini memberikan bukti yang kuat bahwa leluhur orang batak atau si Raja Batak tersebut adalah orang yang datang masuk ke daerah sumatera bagian utara. Jelas bukan orang yang berasal dari kaum primitive atau bukan pula dari kaum Melayutibres yang sudah ada kemudian mengalami evolusion.


Sianjur Mula-mula yang bisa saja berasal dari kata “Siam” dan “Lajur” serta “Mula-mula” yang dapat diartikan Negeri Kekuasaan Pertama dari Garis Kerajaan Siam di Sumatera / negeri tahlukan Siam. Deklarasi demikian perlu agar mendapat hormat dan pengakuan dan agar tidak diserang oleh kekuasaan lain pula. Karena Kerajaan Siam merupakan Kerajaan yang berkuasa besar pada saat itu dan kekuasaannya meliputi Indocina dan seluruh semenanjung Malaya.

Dalam buku-buku sejarah Arab yang mengatakan Marah Silu adalah seorang dari kerajaan Nagur. Untuk itu sangat dapat diartikan Marah Silu adalah mistery dari Silau Raja , atau nama Silau Raja di Perlak yang oleh karena Silau Raja telah menganut agama Islam dan bergaul dengan saudagar-saudagar Arab membuat asal usulnya menyebut dengan demikian yaitu kerajaan nagur atau yang tak lain kerajaan dari JUR / sianjur.


Silau Raja tidak lagi memakai bahasa yang dari Sianjur Mula-mula melainkan bahasa yang ada dikaumnya yang baru yaitu bahasa yang dipengaruhi oleh Arab / Masir / Persia / Gujarat. Silau Raja tidak lagi menyebut dirinya dengan bahasa lamanya yaitu berasal dari Sianjur Mula-mula melainkan dengan bahasa yang baru pada kaumnya tersebut. Tetapi menunjukkan asal tempat yang artinya sama, yaitu dari tempat bernama Gur atau Jur atau na - gur atau sian – jur. Silau Raja tidak bermaksud menutupi cerita dirinya namun cerita yang tumbuh yang menggiring sedemikian dan cerita pula yang diingat oleh orang-orang, sehingga ada berbagai kebenaran yang terpenggal dan dilupakan. Kerajaan Nagur merupakan kerajaan Batak pagan yang didirikan oleh para Proto Malayan yang terdahulu masuk ke Sumatera yaitu komunitas primitive dan bertumbuh dengan masuknya berbagai pengaruh kepada komunitas tersebut terutama pengaruh dari saudagar-saudagar Gujarat yang dibawah kekuasaan Dinasty Fatimah sehingga membangkitkan mereka untuk membangun suatu pemerintahan dan kerajaan yang disebut Kerajaan Nagur.

Bahwa nama Mara Silu dalam literature marga-marga orang batak tidak ada didapati marga dan identitas marga yang sama seperti itu. Padahal sangat banyak buku menceritakan akan halnya Marah Silu adalah seorang batak pagan yang diwajahnya jelas bertatto selaku keturunan raja pada masa itu. Dan oleh karenanya tentu nama tersebut adalah nama dari suatu orang batak yang telah sengaja untuk menghilangkan identitas batak pagan yang ada padanya pada masa itu dan tentu bukan pula dari kalangan proto Malayan yang ada.


Kalau kita ingat sebelumnya si Raja Batak berasal dari bekas tentara Grahi yang datang dari daerah Bai Tak yaitu daerah sungai Pahang di Pattani. Daerah ini sangat berdekatan dengan Lin’i/Campa atau Vietnam dan saling berhubungan selaku bagian bekas pengaruh dynasty Sanjaya yang direbut oleh Kerajaan Sriwijaya sejak abad 7-12M. Hubungan diantara kedua daerah ini tentu mengakibatkan hubungan budaya pula, tak terkecuali budaya dalam memakai tattoo diwajah khususnya bagi para pembesar. Karena itu Silau Raja sebagai cucu si Raja Batak termasuk juga mempunyai budaya menggunakan tattoo diwajahnya.


Nama Marah Silu jelas mempunyai persamaan arti yang sama dengan kata Silau Raja, dan hal ini telah membuat penulis mempunyai dugaan yang kuat bahwa yang empunya nama tersebut adalah bagian dari Silau Raja. Marah Silu berasal kata dari kata Marah , meura, morat = Raja dan ditambah kata “silu” dari kata silau yang dengan penyebutan cepat menjadi silu. Hal tersebut sangat dimungkinkan mengingat Silau Raja yang tidak lagi mendapat tempat di Sianjur Mula-mula membuatnya harus keluar pula dari sana dan pergi merantau keluar dari Sianjur Mula-mula. Satu pilihan yang masuk akal adalah kembali kekampung halaman atau kembali keasal usul nenek moyangnya di Grahi. Untuk kembali tersebut ditempuhnya dengan jalan darat dan mengikuti kompas yang ditunjuk oleh bintang dilangit yaitu arah timur setidaknya timur laut.


Kepergiannya tersebut bisa juga telah bersama para keturunan dari Si Raja Batak lainnya atau bisa juga hanya sendiri namun Silau Raja melakukan adaptasi dan penyesuaian atau dengan mengajak dan menguasai para suku Proto Malayan yang sudah ada di Sumatera bagian utara tersebut. Perjalanan itu telah membuatnya untuk mendirikan komunitas baru dan akhirnya menjadi kerajaan yang boleh jadi itulah yang disebut Kerajaan Nagur. Atau bisa saja kata nagur itu untuk mengatakan asal usulnya berasal ; dari- Gur atau na-Gur.


Silau Raja selaku anak bungsu, yang dalam kenyataannya adalah juga seorang pengembara dan pada mulanya di daerah Sianjur Mula-mula hanya meninggalkan seorang istri dan seorang putra yang diberi nama Malau Raja. Dalam perantauannya sesuai pengembaraan menuju kembali ke tempat asal muasal nenek moyangnya ternyata Silau Raja kemudian kawin lagi dengan seorang putri dan memberikannya tiga orang putra yaitu Manik Raja, Ambarita Raja dan Gurning Raja dikomunitas daerah yang didirikannya.

Daerah Sianjur Mula-mula sebagai daerah yang terletak diujung sebelah utara Pulau Samosir atau berbatasan dengan daerah Aceh pada masa adanya Si Raja Batak telah lebih dahulu dimasuki oleh manusia-manusia urban yaitu manusia-manusia Proto Malayan yang datang dari semananjung Malaya. Manusia - manusia urban tersebut sudah datang sejak abad sebelum masehi dan hidup secara nomade/ berpindah-pindah didalam hutan belantara pulau Sumatera bagian utara.


Perdagangan rempah-rempah semakin membuat daerah Sumatera bagian utara lebih banyak dimasuki oleh para saudagar dan kapalnya dan memberikan kontribusi pengaruh atas peradaban disana. Hanya pasti jelas saudagar-saudagar tersebut tidak pula memberikan kontribusi pada pembangunan manusia-manusia disana, hanya butuh rempah - rempahnya saja dan itu dilakukan dengan membawa budak-budaknya dan juga menangkapi manusia-manusia yang ditemukannya disana yang bisa dijadikannya budak.


Perkembangan selanjutnya para saudagar-saudagar tersebut membuat base camp atau daerah kekuasaannya dan masing-masing saudagar berbuat demikian. Padahal saudagar-saudagar itu ada yang dari Eropa, Arab, China dan India, dan mereka membuat daerah kekuasaannya masing-masing. Dalam daerah kekuasaan tersebut dalam peningalan sejarah dapat dikenal adanya komunitas India dan candi Portibi di Barus, di daerah Perlak sebagai komunitas Arab , di daerah Jambi sebagai komunitas China sedangkan saudagar Eropa hanya berkuasa dikapal-kapalnya dan kuat berkuasa di pelabuhan Barus. Masuknya berbagai suku bangsa di barus membuat Barus dikenal sebagai Negara Lima Pulau Barus yang artinya disana terdapat lima suku bangsa besar yang saling ketergantungan untuk mengeksplorai hutan guna memperoleh rempah-rempah. Lima suku bangsa tersebut tak lain dari Eropa, China, India, Arab dan Melayu atau Proto Malayan Primitif.


Pelabuhan Barus menjadi sentra bisnis yang diperhitungan secara ionternasional pada masa itu, membuat Negara/Kerajaan asal muasal dari suku bangsa yang datang tersebut berusaha untuk menguasai Barus. Silih berganti kekuatan datang menyerang dan memperebutkan pelabuhan Barus, dan berlangsung berabad-abad sampai akhirnya Barus itu senidiri habis dan dimusnahkan akibat peperangan.



Si Raja Batak adalah komunitas proto Malayan yang datang pada abad 12M, disaat terjadinya serangan tentara Grahi di pelabuhan Barus . Pelabuhan Barus dapat direbut tentara Grahi dan menguasainya berpuluh tahun. Akibat adanya serangan tentara Sian ke Pusat Kerajaan Grahi di Cai’ya membuat tentara Grahi yang ada di Barus terpaksa tertinggal di Barus dan kemudian harus melarikan diri pula lagi kedalam hutan. Sisa tentara Grahi ini melarikan diri ke hutan dan sampai di Pusuk Buhit dan tempat itu dijadikan perkampungan baru mereka dan diberi nama Sianjur Mula-mula.



Silau Raja dalam pengembaraanya yang juga adalah anak seorang bekas tentara kerajaan tentu mempunyai pengetahuan dan naluri menjadi pemimpin. Hal itu menjadi potensi yang cukup baginya untuk bisa menguasai setiap komunitas-komunitas manusia proto Malayan yang ditemuinya dimanapun saat itu. Kelebihan yang ada pada Silau Raja yang dapat beradaptasi cepat dengan manusia-manusia proto malayan selaku komunitas primitive membuat Silau Raja untuk lebih mudah menjadi pemimpin dan sangat memuluskan setiap perjalanannya. Secara geografis pada abad-12M daerah Sianjur Mula-mula saat itu diapit oleh masing - masing wilayah kekuasaan ;



a. Sebelah timur laut terdapat Kesultanan Perlak, yaitu kesultanan yang didirikan para saudagar Mesir, Arab, Qurais dan terutama kaum Ummayah. Kesultanan ini didirikan dalam rangka tempat transit setiap perjalanan dagang rempah-rempah antara China dan Persia. Daerah Perlak sengaja dikuasai dan membuat manusia-manusia proto malayan disana sebagai budaknya.



b. Sebelah selatan/tenggara terdapat Kerajaan Criwijaya, yang didirikan para saudagar-saudagar India tetapi sayang pada abad-12 oleh bantuan Dinasty Syalendra yang datang dari China menguasai Criwijaya dan mendirikan kerajaan baru yaitu Kerajaan sriwijaya serta memindahkan pusat kerajaan ke darah sungai Musi.



c. Sebelah selatan/barat daya terdapat pelabuhan Barus yang menjadi pusat perdagangan rempah-rempah saat itu dan hampir seluruh bangsa-bangsa datang kesana dengan membawa pengaruh masing-masing.



d. Sebelah barat laut/utara hanya terdapat berbagai manusia-manusia proto Malayan dan merupakan tempat awal para proto malayan mendarat di tanah Sumatera dan terutama didaerah Singkil.

Keadaan geografis demikian sangat mempengaruhi perjalanan dari pada Saribu Raja dan Silau Raja, dan membuat mereka harus bisa beradaptasi dan membawakan dirinya di setiap tempat dan komunitas yang ditemuinya. Untuk itu mereka mempunyai cara masing-masing sehingga untuk mengawini wanita ditempat yang ditemuinya itu dilakukan mereka juga. 


Akan halnya dengan Silau Raja,sebelum perjalanannya makin jauh dari Sianjur Mula-mula masih beruntung sudah mempunyai anak yang lahir dahulu di daerah Sianjur Mula-mula yaitu Malau Raja .Kemudian mempunyai anak lagi dari istrinya yang berikutnya yaitu Manik Raja, Ambarita Raja dan Gurning Raja yaitu anaknya yang lahir di daerah rantau berikutnya. Setiap anak-anak yang telah lahir itu hanya ditinggalkannya bersama istrinya dan datang dan kembali sesuai dengan keperluannya sebab Silau raja sendiri tetap berjalan sesuai pengembaraannya.



Pengembaraan dimaksud tidak pula lagi penting hanya untuk mencari jalan menuju tempat asal muasal nenek moyangnya tetapi sudah lebih terfokus mencari keperluan hidup dan mata pencaharian mengingat pada keperluan anak istrinya. Didaerah asal Silau Raja tidak dapat mempunyai kebebasan untuk mencari nafkah karena terbuang dari komunitas keluarga dan saat itu bertentangan dengan abangnya, membuatnya tidak mendapat hak dan tidak mungkin dapat mengelolah tanah sekitar Sianjur Mula-mula untuk diusahankannya sebagai areal pertaniannya. Kesulitan itu membuat Silau Raja harus berjuang dan terus mencari nafkah bagi anak istrinya jauh ke negeri-negeri lain dan hutan belantara lain sambil mencari jalan untuk bisa sampai ke daerah asal nenek moyangnya.

Keadaan demikian itu pula yang memaksanya harus selalu meninggalkan anak istrinya dan kembali setelah memperoleh hasil yang bisa dibawa kepada anak istrinya. Hal itu pula maka disaat anaknya Malau Raja sudah besar dimana di daerah Sianjur Mula-mula sudah timbul system kemasyarakatan sebagai aturan hidup dikalangan orang batak disana maka anaknya Malau Raja-lah yang tampil sebagai wakil dari pada bapaknya. Penampilan Malau Raja selaku anak tertua dari Silau Raja membuatnya kemudian lebih dikenal dibandingkan nama bapaknya. Tugas dan kewajiban Malau Raja sebagai wakil bapaknya tidak pula hal yang sepele sebab Malau Raja juga harus mampu menjadi pengganti orangtua bagi seluruh adiknya.



Bagaimana dengan Silau Raja yang disatu sisi pergi dan kembali dari perjalanan sedangkan hak dan kewajibannya sudah lebih diakui diwakili oleh anaknya sendiri Malau Raja tentu adalah sesuatu hal yang tidak begitu mudah saja diterimanya. Sesuatu internal konflik tentu saja bisa timbul bergejolak pada hatinya dan bisa saja menimbulkan frustasi lain, sehingga memilih pergi lagi lebih jauh dan lebih jauh berjalan mengikuti pengembaraannya.

Didaerah Perlak, Silau Raja ternyata berkenalan dengan seorang putri dari kalangan saudagar, Silau Raja sendiri bukan pula sulit untuk menyesuaikan diri disetiap tempat yang ditemuinya. Pengetahuannya dan penampilan fisik yang ada padanya mempermudah dia untuk dikenal siapapun pada saat itu. Hal yang ada pada Silau Raja menjadikannya untuk sangat mudah bagi saudagar-saudagar itu mengenalnya sebagai orang yang berbeda dari orang primitive lainnya. Silau Raja sangat kentara berbeda dengan para manusia pagan lainnya didaerah Perlak dan atas kemahiran dari Silau Raja membuat para saudagar-saudagar daerah Perlak berniat mengajaknya untuk kerja sama, mengajak Silau Raja bergabung dengan para saudagar-saudagar disana dalam mengelolah dan mengendalikan jalur rempah-rempah. Silau Raja menjadi orang kaya sama dengan para saudagar-saudagar dan membuatnya lupa untuk meneruskan perjalanannya ke tempat asal muasal nenek moyangnya. Silau Raja menyesuaikan diri dengan kehidupan para sudagar-saudagar yang mayoritas adalah saudagar-saudagar Arab, Mesir, Persia dan Qurais. Silau Raja menggunakan namanya sesuai bahasa dan dialek para saudagar Arab/Mesir tersebut, tidak digunakannya lagi kata Raja, karena kata raja berbau Hindu dan juga dia sendiri dianggap masih kaum pagan . Silau Raja menyesuaikan namanya dan memakai kata dalam bahasa Arab/Mesir dan menyebutnya menjadi Marah Silu yang artinya juga adalah Silau Raja . Marah atau Meurat atau Mora berarti dengan kata Raja.



Melihat hal tersebut maka sangat masih bisa diyakini bagaimana adanya perjalanan dari pada Silau Raja tersebut yang tadinya bermaksud pulang ketempat asal nenek moyang malahan bergabung dengan para saudagar di Perlak. Perjalanan yang berkelanjutan dan yang hanya tahu arah terus dan terus kearah timur dan yang memungkinkan Silau Raja dalam perjalanannya itu, masuk juga melintasi daerah Kerajaan Nagur. Kerajaan Nagur yang menurut cerita dibangun dan didirikan saudagar-saudagar Gujarat dibawah kendali Dinasty Fatimah. Namun sampai saat ini tidak pula jelas dimana letak geografis dari pada Kerajaan Nagur tersebut, bahkan tidak ada pula benda peninggalan yang membuktikan adanya Kerajaan Nagur. Cerita mengatakan Kerajaan Nagur berada di daerah Simalungun karena itu nama Simalungun sudah ada sejak Kerajaan Nagur ada yaitu abad -12 ?



Hal tersebut membuat ketidak benaran semakin nyata karena kata Simalungun atau daerah Simalungun ada dan dikenal baru pada abad-12 . Simalungun dikenal dengan arti daerah-daerah yang sunyi penuh dengan kesaduhan dan kerinduan pada kampung halaman. Simalungun menunjukkan pada tempat pedalaman hutan dalam mencari nafkah atau tempat mencari hasil hutan, sehingga orang yang pergi kesana akan tersiksa hatinya dan merasakan begitu sunyi dan sendirinya dalam hutan tersebut dan merasakan rindu untuk cepat pulang.



Pada abad-12 daerah Simalungun sekarang adalah tempat para orang-orang Batak untuk pergi mencari hasil hutan dan baru saat datangnya Raja Indrawarman yaitu Raja yang lari dari Darmacraya – Jambi yang oleh karena akan diserang tentara Majapahit melarikan diri masuk ke hutan-hutan daerah Simalungun.

Dalam sejarah Kerajaan Nagur yang diceritakan tersebut, ada yang dikenal dengan nama Marah Silu. Marah Silu adalah Raja Pertama dari pada Kerajaan Samudera Pasai yang bukan dari kalangan Gujarat atau yang bukan dari keturunan kaum saudagar melainkan dari golongan batak pagan. Kata Nagur sulit dicari artinya, namun kata nagur dengan kata sianjur bisa mempunyai splelling yang sama ; na – gur dan sian – jur , penekanan pada gur dan jur menunjukkan kata tunjuk . Dengan demikian tentu dapat diperoleh arti dari pada na- gur berarti dari gur (tempat) dan sian – jur berarti dari jur (tempat), sehingga Nagur dan Sianjur adalah tempat yang sama yaitu Sianjur Mula-mula.



Silau Raja tidak lagi memakai bahasa yang dari Sianjur Mula-mula melainkan bahasa yang ada dikaumnya yang baru yaitu bahasa yang dipengaruhi oleh Arab / Masir / Persia / Gujarat. Silau Raja tidak lagi menyebut dirinya dengan bahasa lamanya yaitu berasal dari Sianjur Mula-mula melainkan dengan bahasa yang baru pada kaumnya tersebut. Tetapi menunjukkan asal tempat yang artinya sama, yaitu dari tempat bernama Gur atau Jur atau na - gur atau sian – jur. Silau Raja tidak bermaksud menutupi cerita dirinya namun cerita yang tumbuh yang menggiring sedemikian dan cerita pula yang diingat oleh orang-orang, sehingga ada berbagai kebenaran yang terpenggal dan dilupakan.



Kerajaan Nagur merupakan kerajaan Batak pagan yang didirikan oleh para Proto Malayan yang terdahulu masuk ke Sumatera yaitu komunitas primitive dan bertumbuh dengan masuknya berbagai pengaruh kepada komunitas tersebut terutama pengaruh dari saudagar-saudagar Gujarat yang dibawah kekuasaan Dinasty Fatimah sehingga membangkitkan mereka untuk membangun suatu pemerintahan dan kerajaan yang disebut Kerajaan Nagur.

Bahwa nama Mara Silu dalam literature marga-marga orang batak tidak ada didapati marga dan identitas marga yang sama seperti itu dan oleh karenanya tentu nama tersebut adalah nama dari suatu orang batak yang telah sengaja untuk menghilangkan identitas batak pagan yang ada padanya pada masa itu.



Nama Marah Silu yang mempunyai persamaan dengan kata Silau Raja, membuat penulis mempunyai dugaan yang kuat bahwa yang empunya nama tersebut adalah bagian dari Silau Raja. Marah Sliu = Marah , meura, morat = Raja dan ditambah kata silu dari kata silau yang dengan penyebutan cepat menjadi silu.

Hal tersebut sangat dimungkinkan mengingat Silau Raja yang tidak mendapat tempat di Sianjur Mula-mula membuatnya harus keluar dan para keturunan dari Silau Raja tersebut dengan mengajak dan menguasai para suku Proto Malayan yang sudah ada di Sumatera khususnya, mendirikan komunitas baru dan akhirnya menjadi kerajaan yang disebut Kerajaan Nagur. Marah Silu yang sebelumnya adalah seorang batak pagan disebut-sebut mempunyai tattoo diwajahnya dan memepunyai juga tanda - tanda seorang putra raja lainnya , yang tidak dapat hapus sepanjang hidupnya. Dikatakan pula sebagai orang yang memakan cacing dan dalam dongengan masyarakat daerah Pasai tidak pula dikenal dengna pasti asal usulnya kecuali hanya dari dongengan yang mana disebutkan sebagai seorang anak dari bukit Pasai.



Dalam Hikayat raja - raja Pasai dikenal dongengan yang diceritakan sebagai berikut ;

Ayah Marah Silu adalah Marah gajah dan ibunya adalah Putri Betung yaitu putrid angkat dari raja Muhammad. Putri Betung mempunyai sehelai rambut pirang dikepalanya. Ketika rambut pirang itu dicabut oleh marah gajah, keluarlah darah putih. Setelah dara putih itu berhenti mengalir, maka hilanglah Putri Betung. Peristiwa itu didengar oleh ayah angkat putri Betung dan membuatnya marah sehingga segera mengerahkan orang-orangnya untuk mencari Marah Gajah. Marah Gajah yang ketakutan karena kehilangan putri Betung lari menyingkir kerumah ayah angkatnya yang bernama Ahmad. Raja Muhammad dan Raja ahmad adalah dua bersaudara, tetapi akibat peristiwa putrid Betung diatas terjadilah bentrokan antar dua bersaudara tersebut dan kedua-duanya tewas demikian juga Marah Gajah ikut mati terbunuh.



Dua orang putra yang ditinggalkan oleh putrid Betung bernama Marah Sum dan Marah Silu, mereka berdua meninggalkan tempat kediamannya dan mulai hidup mengembara. Marah Sum kemudian menjadi raja di Birun. Marah Silu membuka tanah dihulu sungai Peusangan. Setiap waktu senja Marah Silu memasang lukah, tetapi setiap pagi lukah itu diangkatnya dari dalam sungai isinya cacing. Karena marah , cacing itupun direbusnya. Marah Silu keheranan karena ketika membuka tutup kuali malahan emas yang ada dilihatnya. Perebusan cacing itu dilakukan oleh Marah Silu berulang-ulang, sehingga tersiar dongengan bahwa Marah Silu pemakan cacing sehingga membuat abangnya Marah Sum untuk mengusirnya dan selanjutnya Marah Silu pergi kenegeri Rimba Jirun kemudian Samudera Pasai. Ia mendirikan istana diatas bukit yang hanya didiami oleh seekor semut yang sangat besar. Semut itu oleh orang setempat disebut semut dara. Hanya demikian sederhananya cerita asal-usul Marah Silu tersebut tetapi yang paling menarik adalah Marah Silu adalah seorang pengembara, orang tuanya telah meninggal dan mempunyai orangtua angkat di Perlak serta tinggalnya di bukit berarti pula mempunyai bibit Proto Malayan.

Pada masa Silau Raja berada di Perlak tersebut dan dengan segala keberhasilannya berteman dengan para saudagar-saudagar disana membuatnya menjadi kaya dan berhasil pula menikahi seorang putrid dari Kesultanan Perlak. Putri tersebut bernama Putri Gangang Sari. Tidak hanya demikian saja ternyata oleh para dinasty Mamaluk yang datang untuk merebut kembali Pasai sedang mencari seorang putra pribumi diluar dynasty Arabian guna dijadikan Sultan .

Diansty mamaluk tersebut bertemu dengan Marah Silu dan mengajaknya dalam suatu tugas dan kerja sama.. Marah Silu tentu bukan putra pribumi yang sembarangan pada saat itu dan tentu karena memang seorang yang sudah mempunyai pengetahuan dan keahlian sehingga memanfaatkan ajakan dari laksamana dynasty Mamaluk dimaksud.

Marah Silu diajak bekerja sama untuk merebut kembali daerah Pasai yang pada saat itu sedang dikuasai oleh para saudagar Gujarat – Johan Jani setelah diambil alih para saudagar Gujarat dari tangan dinasty Fatimah.



Dari laut Pasai diserang dinasty Mamaluk sedangkan dari darat diserang tentara batak dipimpin oleh Marah Silu dan serangan itu berhasil sehingga pada tahun 1285 berakhirlah kekuasaan sultan Pasai mazhab Syiah. Timbullah kesultanan baru yang beraliran mazhab Syafi’i dibawah pimpinan Marah Silu. Marah Silu kemudian ditabalkan menjadi sultan Negara Samudera/Pasai yang pertama dengan nama berubah menajdi Sultan Malikul Saleh. Pengangkatan ini sendiri diperlukan oleh dynasty Mamaluk dari Mesir dengan pertimbangan ;


a. dinasty Mamaluk memerlukan orang asli/pribumi yang kuat dan beragama Islam mazhab Syafi’i


b. menurut pendapat Syaikh Ismail, Marah Silu mempunyai kemampuan untuk membasmi aliran Syiah yang merajalela di pantai timur Sumatera.


c. Dynasty mamaluk mengaharapkan Marah Silu akan sanggup mengambil alih dagang lada dari tangan para pedagang Persia, Arab dan Gujarat yang beragama Islam mazhan Syiah tersebut.



Sebagai catatan perlu diingat bahwa pimpinan kerajaan / kesultanan pada saat itu baik di Pasai, Peurlak ataupun di kerajaan Jambi atau Sriwijaya haruslah dari keturunan dari pada dynasty yang berkuasa . Karena itu untuk daerah Pasai maupun Perlak maupun Temiang pimpinannya adalah keturunan dari pada saudagar-saudagar kaya baik dari dynasty Fatimah/ Mesir atau juga dari dynasty kalifah Ummayah/ Damaschus/ Baghdad. Marah Silu alias Sultan Malikul Saleh ternyata berjaya memimpin Negara Samudera Pasai dan mengakibatkan kesultanan Perlak yaitu kesultanan dari pada mertuanya mengalami kemunduran. Samudera Pasai menjadi Bandar utama di pantai timur Sumatera bagian utara. Dengan perkawinannya bersama putri Ganggang Sari, Marah Silu mempunyai dua orang putra bernama ; yang sulung bernama Mohammad, yang setelah Marah Silu mangkat menjadi Sultan Samudera Pasai II dan yang bungsu bernama Abdullah, dan selanjutnya menyeberang masuk kepada agama Islam mazhab Syiah dan pada tahun 1295 mendirikan kesultanan Aru Barumun. Negara Samudera Pasai selanjutnya dipimpin secara beruturut-turut oleh dynasty Marah Silu dengan tetap memeluk agama Islam beraliran mazhan Syafi’I dengan urutan sebagai berikut ;

1. Marah Silu alias Malikul Saleh Sultan I 1285 – 1297.

2. Sultan Mohammad Malikul Thahir Sultan II 1297 - 1326.

3. Sultan Ahmad Bahian Syah Sultan III 1326 - 1349

4. Sultan Zainul Bahian Syah Sultan IV 1349 - 14??



Sedangkan keturunan dari anak Marah Silu yang kedua yaitu sibungsu bernama Abdullah adalah seorang pembangkang yang teraksa berpindah kembali kepada agama Islam mazhab Syiiah dan mendirikan Kesultanan Aru Barumun. Hal itu terjadi karena pada tahun 1293 oleh armada Kerajaan Samudera Pasai yang dipimpin putra mahkota bernama Malik Ul Mansur atau Abdullah pergi menyerang daerah penghasil rempah-rempah di daerah Kuntu/Kampar dan pada saat yang bersamaan disana ternyata kemudian daerah Kuntu/Kampar diserang oleh armada perang dari Kerajaan Muar/Malaya. Malik Ul Mansur atau Abdullah, ditawan tentara Muar dan dibawah ke Muar/Malaya dan dinikahkan dengan putrid Nur Alam Kumalasari binti Sultan Muhammad Al Kamil dan membuatnya kembali beragama Islam mazhab Sjii’ah.

Pada tahun 1295 Kesultanan Muar dimusnahkan oleh armada Kerajaan Siam, Muhammad Al Kamil dan putrid Ratna Husiin ditawan ,dibawa ke Siam dan wafat disana. Sedangkan Malik Ul Mansur dan putrid Nur Alam melarikan diri ke Aru/Barumun yang pada saat itu masih daerah tidak bertuan. Didaerah tidak bertuan inilah Malik Ul Mansur atau Abdullah atas bantuan dari Negara samudera Pasai mendirikan Kesultanan Aru/Barumun dan kemudian mampu melepaskan diri dari Kesultanan Samudera Pasai dan kesultanan berturut-turut dipimpin oleh sultan ;

1. Sultan Malik Ul Mansur Sultan I 1299 – 1322

2. Sultan hasan Al gafur Sultan II 1322 – 1336

3. Sultan Firman Ul Karim Sultan III 1331 – 1364

4. Sultan Sadik Al Kudus Sultan IV 1361 – meninggal

5. Sultan Alwi Al Musawwir Sultan V 1361 – 1379

6. Sultan Ridwan Al hafiz Sultan VI 1379 – 1407

7. Sultan Hussin Dzul Arsa Sultan VII 1407 – 1428

8. Sultan Djafar Ali baki Sultan VIII 1428 – 1459

9. Sultan Hamid Al Muktadir Sultan IX 1459 – 1462

10. Sultan Zulkifli Al majid Sultan X 1462 – 1471

11. Sultan Karim Al Mukdji Sultan XI 1471 – 11489

12. Sultan Muhammad Al wahid Sultan XII 1489 – 1512

13. Sultan Ibrahim Al Djalil Sultan XIII 1512 – 1523

selanjutnya adalah sultan-sultan dibawah kekuasaan Portugis dan yang memberikan kekuasaan Aru Barumun maupun Samudera Pasai kepada kesultanan-kesultanan Atjeh sejak 1523 – 1904 sebagai bagian dari kekuasaan Portugis. Perlu dicatat pada masa Sultan III di Samudera Pasai yaitu tahun 1339 telah datang pula serangan dari kerajaan Majapahit dibawah pimpinan amangku bumi Gajah Mada yang bermaksud menguasai Samudera Pasai dan tidak berhasil mengalahkan Samudera pasai sehingga kembali mundur ke Jawa. Pada tahun 1351 pada masa Kesultanan Samudera Pasai di pimpin oleh Sultan Zainul Bahian Syah / Sultan Zainul Abidin Bachrum Syah ayitu Sultan ke IV diculik dan selama tiga tahun ditawan di Siam, dan akibatnya Kesultanan Samudera Pasai lambat laun merosot, karena orang-orang batak pagan berdatangan di pedalaman Aceh dan berebutan mengambil alih kesultanan Samudera Pasai.



Hal itu semakin dipeburuk pula dengan tertinggalnya pelabuhan barus sebagai pusat perniaagaan dan berpindah ke Samudera Pasai . Pada masa saat masuknya kekuasaan Portugis mengakibatkan Samudera dikuasai oleh Portugis dan akibatnya bermunculan legio – legio kesultanan baru seperti Kesultanan Pidie dan Kesultanan Aceh. Legio-legio kesultanan tersebut berdiri dan oleh legio kesultanan Aceh yang didirikan oleh 3 orang putra dan dibantu seorang ipar membangun Kesultanan Aceh dan menahlukkan seluruh miniature-minitur kesultanan yang ada termasuk kesultanan Pidie. Mereka itu adalah :

a. Sultan Ali Mukkayat Syah menjadi Sultan Aceh Pertama.

b. Laksamana Tuanku Burhanuddin Syah menjadi sultan muda di Pariaman / Minagkabau selaku bawahan kesultanan Aceh.

c. Laksamana Tuanku Ibrahim Syah menjadi sultan muda di Indrapura/Minangkabau.

d. Panglima Manag Suka yaitu ipar dan adalah orang batak dari tanah Karo dusun menjadi Sultan di Deli Tua selaku bawahan kesultanan Aceh dan berganti nama menjadi Sultan Makmun Al Rasjiid atau Sultan Deli Tua Pertama.




KESULTANAN PERLAK

Sejak kedatangan pedagang-pedagang asing dari Arab maka didaerah Timur Sumatera bagian utara telah membentuk Kesultanan Perlak pada tahun 1028.

Pada akhir abad 12, dipantai timur Sumatera terdapat Negara Islam bernama Perlak atau Peurlak yang didirikan oleh para pedagang Mesir, Maroko, Persi dan Gujarat ( Arab keturunan suku Quraisy). Pedagang Arab tersebut menikah dengan putri pribumi keturunan Raja Perlak dan lahir seorang putra bernama Sayid Abdul Aziz.

Sayid Abdul Azis adalah Sultan Pertama negeri Perlak atau dikenal dengan Sultan Alaiddin Syah yaitu dari dynasty Arab/Mesir yang memerintah sejak 1161 – 1186 dan menganut agama Islam Syiah.

Sayid Abdul Azis Sultan Peurlak I 1161 – 1186

Alaiddin Abdurrahim Syah Ibn Sultan Sultan Peurlak II 1186 – 1210

Alaiddin Sayid Abbas Syah Sultan Peurlak III 1210 – 1236

Alaiddin Mughajat Syah Sultan Peurlak IV 1236 – 1239

Mahdum Alaiddin Abdul Kadir Syah Sultan Peurlak V 1239 - 1243

Mahdum Alaiddin Muhammad Amin Syah Sultan Peurlak VI 1243 – 1267

Mahdum Abdul Malik Syah Sultan Peurlak VII 1267 - 1275

Aladdin Malik Ibrahim Syah Sultan Peurlak VIII 1280 – 1296

Akhirnya antara keturunan Sayid Abdul Aziz ( Peurlak I ) dengan keturunan Marah yaitu para saudagar dari kaum Arab/Persia dan terjadi perebutan kekuasaan terutama yang berlangsung sejak masa pemerintahan Aladdin Mughajat ( Peurlak IV ) dan dynasty Sayid Aziz yang dari Arab mengalami kekalahan dan akibatnya Peurlak dipimpin oleh Dinasty Marah Perlak (dynasty Arab/Persia) dan itu terlihat sejak kepemimpinan Mahdum Aladdin Abdul Kadir Syah ( Peurlak V ).

Pada masa pemerintahan Abdul Malik Syah ( Peurlak VII ) ternyata terjadi lagi perebuatan kekuasaan antara disnasty SayidAzis dengan dynasty Marah mengakibatkan Kesultanan Peurlak pecah dua menjadi ;

a. Perlak Baroh / bag.Selatan yang dipimpin oleh Alaidin Mahmud Syah yaitu putra dari Mahudum Abdul malik.

b. Perlak Tunong / bag. Utara yang dipimpin oleh Mahdum Alaiddin Malik Ibrahim dari dynasty SayidAzis.

Namun Sultan Alaidin Mahmud Syah meninggal sehingga kedua kesultanan dipersatukan kembali dibawah pimpinan Alaidin Malik Ibrahim Syah atau dipegang kembali oleh saudagar Arab/Mesir..

KESULTANAN PASAI

Disamping adanya Kesultanan Peurlak terdapat juga Kesultanan Pasai yang didirikan oleh dinasty Fatimah sebagai negeri bawahan Mesir. Di Mesir sendiri sejak tahun 976M dinasty Fatimah telah berdiri dan bertahan sampai tahun 1168M karena kemudian dimusnahkan oleh tentara Salahuddin dari mazhab Syafi’i.Dengan musnahnya dynasty Fatimah di Mesir membuat Kesultanan Pasai sebagai negeri bawahannya terputus hubungan dengan pusat kerajaannya di Mesir. Sejak tahun 1168M kesultanan Pasai dipimpin oleh Laksamana Kafrawi al-Kamil.



Pada tahun 1204M oleh Laksamana Johan Jani yang juga menganut Islam mazhab Syiah dan yang sudah ada di pulau We yaitu peranakan India – Persia menyerang Kesultanan Pasai dan berhasil menguasainya dan tumbu menjadi mengara maritime yang kuat. Dalam dynasty Fatimah yang lama timbullah kekuasaan baru yaitu mazhab Syafi’i dari tentara Salahuddin dan telah menimbulkan pula dynasty baru yang disebut mamaluk. Dinasty ini tidak mengehendaki kelanjutan kesultanan Pasai dibawah naungan Johan Jani yang mazhab Syiah tersebut.



NEGARA SAMUDERA.


Pada tahun 1284M , dinasty Fatimah datang lagi ke Pasai dengan mengirimkan Syaikh Ismail dan Fakir Muhammad ke pantai timur Sumatera untuk mengambil alih pengembalian negeri Pasai. Syaikh Ismail dan Fakir Muhammad bertemu dengan Marah Silu yaitu seorang batak pagan yang telah masuk Islam dan adalah juga menantu dari pada Mahdum Alaiddin Abdul Kadir Syah yaitu Sultan Peurlak V. Marah Silu menikah dengan putri Ganggang Sari yaitu putri dari pada Alaidin Abdul Kadir dan menjadi penganut Islam mazhab Syiah dan mampu membaca dan berbicara dalam beragam bahasa.

Marah Silu berhasil dibujuk oleh Syaikh Ismail untuk menjadi memeluk agama Islam mazhab Syafi’i dan oleh karena itu Marah Silu kemudian ditabalkan dengan bantuan dynasty Mamaluk di Mesir menjadi Sultan di Samudera dan berganti nama menjadi Malikul Saleh. Pada saat itu Negara Samudera menjadi Negara tandingan kesultanan Peurlak maupun kesultanan Pasai yang menganut mazhab Syiah. Bahwa kemudian Negara Islam Pasai yang menganut mazhab Syiah pada tahun 1285M menjadi perebutan antara Muhammad Amin dari Perlak dengan Yusuf Kayamudin dari Temiang yang sama-sama ingin menjadi sultan di Pasai.



Pada saat itu yang menjadi sultan Pasai adalah Baharuddin al-Kamil, sedangkan sultan Bahruddin al-Kamil sendiri merebutnya dari sultan Ibrahim Jani yaitu cucu dari Laksamana Johan Jani.Dengan demikian telah terjadi perang segi empat untuk memperebutkan Pasai yaitu antara Muhammad Amin dari Perlak , Yusuf Kayamudin dari Temiang, Baharuddin al-Kamil dan Ibrahim Jani cucu Johan Jani, ditambah lagi golongan dinasty Mamaluk dipimpin oleh Syaikh Ismail dan dari kelompok batak pagan dibawah kepemimpinan orang bernama Marah Silu.

Dari laut Pasai diserang dinasty Mamaluk sedangkan dari darat diserang tentara batak dipimpin oleh Marah Silu dan serangan itu berhasil sehingga pada tahun 1285 berakhirlah kekuasaan sultan Pasai mazhab Syiah. Timbullah kesultanan baru yang beraliran mazhab Syafi’i dibawah pimpinan Marah Silu. Marah Silu kemudian ditabalkan menjadi sultan Negara Samudera/Pasai yang pertama dengan nama berubah menajdi Sultan Malikul Saleh. Pengangkatan ini sendiri diperlukan oleh dynasty Mamaluk dari Mesir dengan pertimbangan ;

a. dinasty Mamaluk memerlukan orang asli/pribumi yang kuat dan beragama Islam mazhab Syafi’i

b. menurut pendapat Syaikh Ismail, Marah Silu mempunyai kemampuan untuk membasmi aliran Syiah yang merajalela di pantai timur Sumatera.

c. Dynasty mamaluk mengaharapkan Marah Silu akan sanggup mengambil alih dagang lada dari tangan para pedagang Persia, Arab dan Gujarat yang beragama Islam mazhan Syiah tersebut.

Perlu diingat bahwa pimpinan kerajaan/kesultanan pada saat itu baik di Pasai, Peurlak ataupun di kerajaan Jambi atau Sriwijaya haruslah dari keturunan dari pada dynasty yang berkuasa . Karena itu untuk daerah Pasai maupun Perlak maupun Temiang pimpinannya adalah keturunan dari pada saudagar kaya dan dari dynasty Fatimah/ Mesir atau juga dari dynasty kalifah Ummayah/ Damaschus/Baghdad. Kalau begitu darimana datangnya seorang pribumi yang pintar, seorang pribumi yang disebut dengan batak pagan atau Batak Gayo Alas. Batak Gayo Alas untuk mengidentifikasikan orang – orang pribumi yang saat itu ada terdapat di sumatera bagian utara.



NEGARA SAMUDERA PASAI.


Nama lengkap kerajaan Samudera adalah Samudera Aca Pasai artinya ‘kerajaan Samudera yang baik’ dengan ibu kota Pasai. Adapun nama samudera itulah yang dijadikan nama Sumatera sebagai nama pulau oleh bangsa Portugis. Sebelumnya diberikan nama pulau Perca atau para musafir Tionghoa menyebutnya ‘Chin-chou yaitu pulau mas atau juga disebut oleh Raja Kertanegara sebagai Suwarnabhumi ‘ pulau mas’. Aceh artinya ‘baik’. Marah Sliu alias Sultan Malikul Saleh ternyata berjaya memimpin Negara Samudera Pasai dan mengakibatkan kesultanan Perlak mengalami kemunduran. Samudera Pasai menjadi Bandar utama di pantai timur Sumatera bagian utara.



Dengan perkawinannya bersama putri Ganggang Sari, Marah Silu mempunyai dua orang putra bernama ; yang sulung bernama Mohammad, yang setelah Marah Silu mangkat menjadi Sultam Samudera Pasai II dan yang bungsu bernama Abdullah, dan selanjutnya menyeberang masuk kepada agama Islam mazhab Syiah dan pada tahun 1295M

mendirikan kesultanan Aru Barumun. Negara Samudera Pasai selanjutnya dipimpin secara beruturut-turut oleh dynasty Marah Silu dengan tetap memelukagam Islam beraliran mazhan Syafi’I sebagai berikut ;


1. Marah Silu alias Malikul Saleh Sultan I 1285 – 1297.

2. Sultan Mohammad Malikul Thahir Sultan II 1297 - 1326.

3. Sultan Ahmad Bahian Syah Sultan III 1326 - 1349

4. Sultan Zainul Bahian Syah Sultan IV 1349 - 14??

Pada masa Sultan Ahmad Bahian Syah yaitu Sultan III di Samudera Pasai pada tahun 1339M Negara Samudera Pasai telah mengalami serangan yang datangnya dari kerajaan Majapahit dibawah pimpinan amangku bumi Gajah Mada . Pada masa itu Majapahit bermaksud menguasai Samudera Pasai sebagai pusat perniagaan rempah-rempah namuin tidak berhasil mengalahkan Samudera Pasai sehingga kembali mundur ke Jawa. Pada tahun 1351 pada masa Kesultanan Samudera Pasai di pimpin oleh Sultan Zainul Bahian syah / Sultan Zainul Abidin Bachrum Syah diculik dan selama tiga tahun ditawan di Siam dan meninggal disana. Hal ini membuat Negara Samudera Pasai mengalami krisis Sultan dan Putra Mahkota.



Kesultanan Samudera Pasai lambat laun merosot, orang-orang Batak pagan lainnya dipedalaman Aceh berebutan mengambil alih kesultanan Samudera Pasai akibatnya bermunculan legio-legio kesultanan baru bentukan dari penguasa Portugis seperti Kesultanan Pidie dan Kesultanan Aceh. Legio-legio kesultanan tersebut berdiri dan oleh legio kesultanan Aceh yang didirikan oleh 3 orang putra dan dibantu seorang ipar membangun Kesultanan Aceh dan menahlukkan seluruh miniature - miniture kesultanan yang ada termasuk kesultanan Pidie yang ada didaerah itu. Mereka itu adalah :

a. Sultan Ali Mukkayat Syah menjadi Sultan Aceh Pertama.

b. Laksamana Tuanku Burhanuddin Syah menjadi sultan muda di Pariaman / Minagkabau selaku bawahan kesultanan Aceh.

c. Laksamana Tuanku Ibrahim Syah menjadi sultan muda di Indrapura/Minangkabau.

d. Panglima Manag Suka yaitu ipar dan adalah orang batak dari tanah Karo dusun menjadi Sultan di Deli Tua selaku bawahan kesultanan Aceh dan berganti nama menjadi Sultan Makmun Al Rasjiid atau Sultan Deli Tua Pertama.



KERAJAAN MALACCA


Hal lain juga sangat berkaitan dengan negera Samudera Pasai adalah putri Sultan IV Samudera Pasai yang kawin dengan raja Parameswara .Parameswara adalah raja pelarian dari Tumasik (singapura) yang karena takut akan serangan balasan raja negeri Pahang karena untuk membalaskan kematian saudaranya yang dibunuh Parameswara. Raja Parameswara lari menyingkir ke Muar kemudian bersembunyi di Malaka, yang pada saat itu masih merupakan desa kecil dipantai barat semenanjung dan juga karena sudah ditinggalkan tentara Siam akibat terjkangkitnya wabah malariadan tempat itu kemudian menjadi sarang perompak lanun dan nelayan. Akibat perkawinannya dengan putri kesultanan Samudera Pasai maka Raja Parameswara memeluk agama Islam mazhab Syafi’i dan mengganti namanya menjadi Raja Iskandar Syah sekaligus mengatakan dirinya adalah pewaris utama Kesultanan Muar/ Malaya.



Kemudian Kesultanan Malacca dapat menjadi pusat agama Islam mazhab Syafi’i diseluruh pantai barat dan timur Malaya. Seperti diketahui pada tahun 1397, untuk penghabisan sekali Palembang diserang oleh tentara Jawa dan jatuh dalam kekuasaan Majapahit dan pada masa itulah Parameswara melarikan diri ke Tumasik/singapura.

Hal itu pula membuat Sultan Malaka Muhammad Syah bergelar Sri Maharaja karena mengangap dirinya keturunan rajakula Syalendra. Raja-raja Malaka berturut-turut ;


1. Parameswara ( Megat Iskandar Syah) Sultan I 1402 - 14124

2. Sri maharaja ( Muhammad syah) Sultan II 1424 - 1444

3. Sri Parameswara Dewa Syah Sultan III 1444 – 1446

4. Muzaffar Syah ( Raja Kassim) Sultan IV 1446 – 1459

5. Mansur Syah Sultan V 1459 – 1477

6. Alaudin Ri’ayat Syah Sultan VI 1477 – 1488

7. Mahmud Syah Sultan VII 1488 – 1528

dan selanjutnya kesultanan Malacca dikuasai oleh Portugis namun kesultanan Malacca dapat timbul lagi setelah Portugis dapat diusir oleh tentara Jawa Majapahit maupun tentara Siam serta tentara China.

Dapat kita mendapat gambaran sepenuhnya tentang misteri dari pada Silau Raja yang terbuang dari komunitasnya di Sianjur Mula-mula dan pergi merantau kearah timur akan berbuat banyak di daerah timur karena senyatanya adalah orang yang telah mempunyai pengetahuan dan keahlian. Demikian kondisi masa itu ditetapkan oleh tokoh-tokoh yang hidup dalam masa yang bersangkutan dan didasari oleh kecerdasan, semangat/ keberanian bertindak dan kesempatan/ kekuasaan yang dimiliki oleh seseorang.



Silau Raja tersebut mempunyai kaitan dengan nama Marah Silu dan mempunyai kaitan dengan Kerajaan Pasai bahkan keturunannya mempunyai kaitan dengan Kesultanan Malacca dan Kerajaan Siantar serta Kerajaan-kerajaan Islam yang ada di Sumatera bagian Timur sampai dengan pulau Jawa karena memang dinasty Marah Silu diteruskan di pulau Jawa oleh Sultan Syarif Hidayat Fatahilla (Sunan Gunung Jati) hingga pada Kesultanan Kesepuhan, Kesultanan Kanoman, Keluarga Kecirebonan dan Keluarga Keprabonan. Hal ini setelah Kesultanan Samudera Pasai melemah dan datang pula di tahun 1409 serangan tentara Majapahit yang bermaksud menghancurkan Kesultanan Samudera Pasai namun sayang oleh bantuan tentara armada Tiongkok yaitu Ming Dinasty dibawah komando panji Laksamana Sam Po Bo yang singgah di Samudera Pasai guna pengisisan kebutuhan air minum setelah berlayar dari Sri Lanka menyerang balik tentara Majapahit.



Kesultanan Samudera Pasai dapat diselamatkan dan dipimpin oleh Marah Silu dynasty kembali dengan pengaruh serta dukungan Tiongkok. Dengan dukungan Tiongkok inilah secara bersama-sama menyebarkan agama Islam dan dengan kekuatan tentara Tiongkok tersebut pula mampu menguasai daerah Asia Tenggara dan menyebarkan agama Islam keseluruh Asia Tenggara.



Keturunan Silau Raja yang terus bertambah banyak terus melakukan migrasi dan semakin menjauh keluar dari Limbong Mulana dan tidak mengikuti jejak abangnya ke selatan melainkan kerah timur cenderung ke arah timur laut. Pergerakan migrasi/urban dari pada keturunan Silau Raja kearah timur dapat pula dilihat dari catatan sejarah berdirinya dan berkuasanya keturunan Silau Raja di Kerajaan Siantar - Simalungun. Arah yang telah ditempuh para keturunan Silau Raja dan terutama setelah masa Malau Raja II adalah juga kesebelah timur yaitu daerah-daerah yang banyak tumbuh dan berkembang pengaruh dari pada agama Islam serta dengan adanya serangan – serangan dari Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Siam / China dan adanya banyak timbul dan berdirinya kerajaan - kerajaan yang baru sebagai Kerajaan Melayu.


Keturunan dari Silau Raja dalam peta Geografis disebelah timur pada abad-abad berikutnya telah menjadi pembesar Kerajaan terutama dikenal dalam cerita-cerita masyarakat di daerah Pematang Siantar / Simalungun.



PARBONIAGA SOPUNJUNG.

Adalah seorang bermarga Manik Raja yang kawin dengan seorang boru Manurung dan telah memperoleh seorang putra dan seorang putri. Tetapi tidak lama kemudian istrinya siboru Manurung meninggal dan si Manik kawin lagi. Oleh karena kedua anaknya itu tidak betah diasuh oleh ibu tirinya maka kedua anak itu pergi ke rumah tulangnya Manurung di Uluan dan tinggal bersama dengan pihak tulangnya disana.

Setelah dewasa kedua anak ini bekerja sebagi pedagang ke berbagai tempat dan si pemuda itulah yang disebut sebagai Parboniaga Sopunjung yang artinya penderitaan hidup (parsorian na namunjung) yang sangat menyedihkan. Parboniaga Sopunjung adalah orang yang pandai dan ulet berdagang berjalan kaki dari Siantar Matio ke berbagai tempat di Uluan dan sesekali pergi ke Simalungun berjalan kaki melalui jalan setapak di kaki gunung Siamanuk-manuk dan dari pekerjaannya dia dapat hidup layak dan terhormat .



Kemudian berkeluarga serta memiliki tiga anak. Anaknya yang bungsu bernama Aji Urung dan keluarganya itu bermukim di Siantar Matio sementara dia terus keliling berdagang. Selain anaknya ada seorang perempuan kecil yang juga menjadi tanggungannya yaitu Sitatap yang mana adalah anak ibu tirinya yang sudah meninggal atau adik tirinya juga. Setelah adik tirinya ini tumbuh menjadi gadis remaja, Sitatap itu dinamai orang sekitarnya dengan nama Si Sanggaranian karena kecantikannya dan kulit wajahnya tak ubahnya seperti kulit sanggar (pimping), licin dan bercahaya.

Parboniaga Sopunjung Sangat sayang pada adiknya itu, dianggapnya sebagai putrinya saja dan oleh karena itu Parboniaga Sopunjung menyuruh Si Sanggaranian menyapanya dengan sapaan amang ito, penggabungan sapaan berayah bersaudara.



Parboniaga Sopunjung berencana akan pergi berdagang ke Simalungun, sebelum berangkat dikumpullah barang-barang yang akan dibawa. Mereka membawa dua ekor kuda, satu untuk Parboniaga Sopunjung dan satu lagi untuk si Sanggaranian. Beberapa orang pelayan yang berjalan kaki ikut serta membawa barang-barang dagangan serta perlengkapan di perjalanan, mereka menelusuri kaki gunung Simanuk-manuk lewat jalan setapak. Begitulah berhari - hari mereka menembus hutan kaki gunung Simanuk-manuk, setelah beberapa hari sampailah mereka di Ajibata. Perjalanan sudah lebih enak karena jalan sudah agak datar. Mereka berhenti sambil menggelar dagangan. Sekejab saja sebagian kecil dagangannya laku, namun separuh modal sudah kembali.



Di Silampiang itu Parboniaga Sopunjung mendapat banyak untung. Semua orang ingin bergaul dan bersahabat dengan mereka, terutama karena kecantikan Si Sanggaranian banyak pemuda bahkan lelaki yang sudah beristri berkerumun mendatangi mereka. Parboniaga Sopunjung pun dengan mudah kemudian dengan mudah dapat mengawini putri setempat yaitu Boru Saragih. Karena perkawinan itu membuat Parboniaga Sopunjung disegani dan dihormati orang.

Seperti kata pepatah : Mandisir mandosor aek ni pora-pora, na lipe i boi do toho molo ulaon ni namora ala soadong alona. Artinya bila sesorang itu kaya dan disegani orang, salahpun perbuatannya tidak ada yang berani menyalahkannya sebab tidak ada musuhnya. Tetapi Si Sanggaranian disebut ; Tangis disihabunian, mengkel di sihaparan, yang artinya Si Sanggaranian bila sendiri menangisi nasibnya yang malang, bila berhadapan dengan orang hal itu tidak ditunjukannya.



Pekerjaan berdagang tidak lagi dilakukan Parboniaga Sopunjung, dia mulai ikut berjudi, sebab cirri anak raja adalah berjudi pada waktu itu. Adiknya Si Sanggaranian dan istrinya boru saragih selalu ikut dibawanya berjudi. Semua lawannya berjudi itu, kalah sebab perhatian lawannya berjudi itu selalu tergoda pada Si Sanggaranian dan boru Saragih. Bila Parboniaga Sopunjung menang, si Sanggaranianlah yang mengambil uang dan menyimpannya. Orang-orang kaya di Silampiang satu persatu bangkrut kalah judi, bahkan mertua Parboniaga Sopunjung sudah terutang kepadanya karena main judi itu.



Lawan untuk main judi tidak ada lagi di Silampiang, Parboniaga Sopunjung pergi ke Pematang, disana Raja Sitangganglah yang berkuasa dan kebetulan di tempat Raja Sitanggang itu ada perjudian. Melihat kedatangan Parboniaga Sopunjung disertai dua wanita cantik, orang-orang setempat heran. Setelah berkenalan, Raja Sitanggang mengajak Parboniaga Sopunjung berjudi, sambil main mata kepada si Sanggaranian. Merekapun mulai main judi, Parboniaga Sopunjung disertai Boru saragih dan Si Sanggaranian selalu menang. Setelah satu hari satu malam mereka main judi itu, habislah uang Raja Sitanggang. Dia penasaran dan minta main judi lagi. Raja Sitanggang mempertaruhkan semua harta, rumah, sawah dan jabatannya sebagai penguasa di tempat itu. Sedang Parboniaga Sopunjung hanya mempertaruhkan Si Sanggaranian dan boru Saragih.



Artinya apabila Parboniaga Sopunjung kalah ia menyerahkan si Sanggaranian dan boru Saragih kepada Raja Sitanggang. Ternyata Raja Sitanggang kalah juga, karena itu beralihlah, rumah, sawah dan jabatan Raja Sitanggang kepada Parboniaga Sopunjung. Raja Sitanggang tergusur ke Tanah Jawa dan Parboniaga Sopunjung berkuasa di Pematang.Anak Parboniaga Sopunjung bernama Aji Urung di jemput dari Siantar Matio untuk dinobatkan jadi Raja, sebab Parboniaga Sopunjung merasa sudah tua. Karena menang main judi inilah Aji Urung dari Siantar Matio anak Parboniaga Sopunjung diangkat jadi raja di Pematang. Nama Pematang itupun ditambah menjadi Pematang Siantar.



PEMATANG SIANTAR

Kota Pematang Siantar terletak di Sumatera Utara, kota kedua terbesar setelah kota Medan, dan memiliki masyarakat yang terdiri dari beragam suku, agama tetapi masyarakatnya tetap solid dan saling menghargai. Tak banyak orang tahu asal muasal nama daerah ini, apalagi generasi muda sekarang (tahun 2006) sudah tidak tertarik mempelajari lebih jauh tentang budaya. Hanya segelintir orang, sesepuh atau budayawan atau pelaku sejarah saja yang tertarik mempelajari sejarah wisata daerah ini.

Nama asli Kota Siantar disebut Siattar dan masih terkait dengan kerajaan di Simalungun yaitu yang dikenal orang dengan Raja Jumorlang dan Datu Bolon. Nama Pematang Siantar tersebut diawali dari cerita kedua tokoh ini, yang mana keduanya memiliki kesaktian mandraguna dan saling mengadu kesaktiannya. Disuatu hari kedua tokoh ini mengadakan pertandingan kesaktian dan bagi pemenangnya akan mendapatkan “hadiah” yaitu berbentuk tanah atau wilayah dan harta benda serta istri orang yang telah dikalahkan.



Adu tanding kesaktian dikala itu sudah biasa dilakukan, namun pertandingan antara Raja Jumorlang dengan Datu Bolon dinilai sangat luar biasa karena kesaktian mereka sangat tersohor, sehingga masyarakat jadi penasaran dan ingin segerah tahu siapa yang menjadi pemenangnya. Adu kesaktianpun berlangsung di Bukit Parbijaan di Pulau Holong.



Tak diduga dalam adu kesaktian itu dimenangkan oleh Datu Bolon, sedangkan Raja Jumorlang kalah, tetapi secara kesatria , kedudukan Raja Jumorlang berpindah kepada Datu Bolon. Begitu hebatnya ilmu yang dimiliki Datu Bolon, setelah memenangkan pertandingan itu , diapun merubah namanya menjadi Raja Namartuah. Raja Namartuah atau Datu Bolon akhirnya mengawini bekas permaisuri dari Raja Jumorlang dan posisinya tetap sebagai permaisuri (Puanbolon). Dari keturunan ini kelak akan menjadi penerus kerajaan Siattar, sedangkan anak dari Raja Jumorlang oleh Raja Namartuah dijadikan anak tiri.

Asal mula nama Siattar itu berasal dari nama sebidang tanah di “attaran” pada Pulau Holong. Dalam bahasa Simalungun “attar” ditambah akhiran an artinya kata unjuk untuk sebuah wilayah (areal tanah). Lama kelamaan akhiran an ini berubah menjadi awalan “si”. Sementara awalan “si” dalam bahasa Simalungun dipakai untuk sebuah kata tempat dan benda. Setelah digabung, akhirnya kata-kata itu menjadi nama sebuah perkampungan . Lama kelamaan daerah ini makin padat penduduknya dan warga pendatang juga terus bertambah. Sedangkan kata Pematang berasal dan berartikan parhutaan atau perkampungan. Dulu Raja yang berkuasa di Siattar tinggal di Rumah Bolon atau Huta dan dari keadaan demikian inilah muncul ide tempat tinggal raja disebut pematang.



Sehingga jika digabungkan nama itu menjadi Pematang Siantar artinya Istana Raja Siattar. Sebelum mengalahkan Raja Jumorlang, Datu Bolon atau Raja Namartuah dikala itu sudah memiliki daerah kekuasaan yakni kerajaan SIPOLHA, lama kelamaan kerajaan itu digabungkan ke dalam suatu pusat pemerintahan di Siattar.

Uniknya, dalam adat Simalungun, partuanon Sipolha berkedudukan sebagai tuan Kaha dan mempunyai hak menobatkan Raja Siattar. Hal ini menunjukkan kenyataan akan keturunan Silau Raja tersebut sangat melekat, untuk diketahui daerah Sipolha tepatnya Huta Mula adalah komunitas marga Malau dan sangat benar menjadi tuan Kaha dari Raja Siantar yang bermarga Manik/Damanik.

Oleh sebab itu, kerajaan Siattar akhirnya dibagi dalam lima (5) partuanon dan satu parbapaan yaitu ; partuanon Nagahuta. , partuanon Sipolha ,partuanon Marihat ,partuanon Sidamanik ,partuanon Bandar Tungkat. Sedangkan untuk parbapaan khusus satu yaitu parbapaan Dolok Malela dan Tuan Bangun. Pembagian wilayah ini sampai sekarang masih dipertahankan dan berlaku khususnya dalam budaya. Ada baiknya lebih dicermati perihal pembagian Kerajaan Siantar menjadi 5(lima) partuoanon adalah gambaran dari Silau Raja berserta dengan ke-4 anaknya Malau Raja, Manik Raja, Ambarita Raja dan Gurning Raja.



Bahwa dapat pula menjadi jelas apa yang dimaksud oleh Silau Raja, untuk memberikan nama kepada anak pertamanya dengan nama Malau Raja dan keinginannya yang tersirat dapat menjadi terbukti. Silau Raja yang menginginkan keturunannya bernama Malau Raja agar kelak dapat menjadi Raja di daerah Melayu.

Mengingat pada perjalanan Saribu Raja kearah selatan dan barat banyak berhadapan dengan pengaruh Eropah dan agama Kristen dan keturunannya tentu menjadi bagian dari pada perkembangan pengaruh yang masuk tersebut. Sedangkan Silau Raja yang pergi kerah timur dan utara dan berhadapan dengan perngaruh Arabian , China dan agama Islam. Dalam hal ini keturunannya tentu menjadi bagian dari pengaruh yang ada di timur dan utara tersebut. Disentral asal batak sendiri , masuknya pengaruh berjalan secara perlahan-lahan bahkan kecenderungannya justru terjadi banyak perang saudara, baik untuk mempertahankan areal pertanian masing-masing maupun akibat adanya hasutan antar kelompok.



MASA TIMBULNYA KERAJAAN- KERAJAAN MELAYU

Oleh karena itu dalam masa bangkitnya kembali Kerajaan - kerajaan Melayu di Sumatera maka berturut - turut dapat diketahui muncul Kerjaaan sebagai berikut ;

976 – 1168

Kesultanan Mesir dibawah Dinasty fatimah, beragama Islam Syiah merebut monopoli dagang merica lewat jalur laut dan menguasai Gujarat/India termasuk muara sungai Pasai di Sumatera dan rempah-rempah dari hulu sungai Kampar Minangkabau Timur.


1128 – 1204 berdiri Kesyahbandaran Daya/Pasai sebagai bawahan Kesultanan Mesir/ fatimah Dinasty untuk menguasai jalur laut guna ekspor ke Eropa selatan dan Asia Kecil.


1168. Kesultanan Mesir Dinasty Fatimah dimusnahkan oleh Sultan Salahudin dari Aiyubi Dinasty dibawah Laksamana Kafrawi Al Kamil.


1168 -1297 Berdiri Kesultanan Perlak oleh para Persian refuges.


1204 – 1285. Kesyabandaran Daya /Pasai berubah menjadi Kesultanan daya/Pasai yang didirikan oleh Laksamana Djohan Djoni yang menggantikan Laksamana Kafrawi Al Kamil dan merupakan pengalihan kekuasaan kepada India/Gujarat.


1252 – 1516. Kesultanan Mesir /mamaluk dynasty dari mazhab Syafii menyerang dan berusaha merebut Kesultanan Daya/Pasai dibawah Laksamana Ismail As Sidiq karena dianggap peninggalan dari Dinasty Fatimah.


1285 . Laksamana Ismail As Sidiq mengangkat penduduk asli yaitu Marah Silu yang merupakan Batak Pagan menjadi Sultan yang baru karena alasan Sultan yang baru jangan dari kaum Gujarat. Marah Silu diangkat menjadi Sultan dan masuk Islam dengan nama Iskandar Malik dan dengan gelar Sultan Malik Us Saleh dan menjadi Sultan Samudera Pasai yang pertama karena Kesultanan daya/Pasai berubah namanya menjadi Kesultanan Samudera Pasai.Kesultanan samudera Pasai sangat aktif menanamkan agama Islam sampai disekitar selat malaka.


1286 . Kesultanan Bandar Kalipah berontak dan melepaskan diri dari Kesultanan Samudera Pasai dan dipimpin oleh Sultan Muhammad Kamil Perkasa Alam atau Sultan Muhamad Al kamil Alam Syah akibatnya oleh armada Samudera Pasai dibawah pimpinan Laksamana Achmad Kiyatudin memusnakan Kesultanan Bandar Kalipah.

Sultan Muhammad Kamil Perkasa Alam melarikan diri ke Muar/Malaya bergabung dengan orang-orang Gujarat yang pernah dikejar-kejar oleh Sultan Samudera pasai.


1286 -1295. Kesultanan Muar/Malaya didirikan oleh Sultan Muhamad Perkasa Alam dengan Putri Ratna Husyin


1299 -1512. Kesultanan Aru/barumun melepaskan diri dari Kesultanan Samudera pasai dan dipimpin oleh Sultan Malik Ul Mansur dengan Putri Nur Alam.


1300 – 1350. Kesultanan Dehli didirikan oleh Tentara Kesultanan Dehli /India dan merebut daerah pengaliran Sungai Deli dan berbenteng di Delitua


1351 -1522. Kesultanan Samudera Pasai mengalami kemunduran akibat pengaruh dari Orang-orang batak terutama dari Nagur dan akibatnya Kesultanan Samudera Pasai pecah menjadi Kesultanan Aceh dan Kesultanan Pidie.


1383 -1511. Kesultanan Malacca menggantikan posisi dari pada Kesultanan Samudera Pasai selaku pusat agam Islam mazhab Syafii.


1405. Angkatan laut Tiongkok dari dynasty Ming dibawah pimpinan laksamana Sam Po Bo sinngah di Kesultanan Malacca yang mengakibatkan Kerajaan Siam dan Kerajaan Majapahit menyingkir dari Kesultanan Malacca.


1619 – 1942 Pemerintahan Kolonial Belanda berada di bumi Nusantara dan sukses menguasai perdagangan dan menyebarkan agama Kristen dan menjalankan politk pecah bela dalam system penjajahannya.


1512 – 1523 . Pihak Portugis menguasai Kesultanan Malacca sampai ke Pidie dan mendukung Sultan Aceh untk menguasai seluruh bekas daerah kesultanan Aru/Barumun.


1275-1289. Bahwa semenjak Expedition Pamalayu pada 1275-1289 dimana tentara Singosari merebut Kerjaan Darmasraya /Jambi dan kemudian tahun 1293 Panglima Indrawarman tidak mau tunduk kepada Majapahit malahan mendirikan Kerajaan baru di Simalungun yaitu Kerajaan Silo.



1293 – 1339. Kerajaan Silo berdiri di Simalungun dengan pusat kerajaan di Keraksaan ditepi Sungai Bah Bolon atau masa ini adalah juga masaKerajaan Malayu jatuh pada Majapahit.Kerajaan Silo kemudian beradapatasi dengan orang-orang Batak yang ada di daerah Sungai Bah Bolon dan bekas tentara dan Panglima Singosari tersebut masuk menjadi bagian marga Siregar, Saragih dan Damanik dan Sinaga. Terdapat pula Kerajaan Nagur yaitu sesuatu Batak Pagan didaerah Simalungun atau daerah yg berada sebelah timur dari Sianjur Mula-mula tersebut yang sudah dikenal dalam literature-literatur Tiongkok pada masa Dinasty Swi dan telah mengirim karet “Balata” guna keperluan membuat water tight kapal-kapal kayu dan pihak Tiongkok sendiri telah mendirikan pelabuhan Sang Pang Tao sebagai pelabuhan pengakutan karet balata dan terletak ditepi Sungai Bah Bolon dekat Kota Perdagangan sekarang.



1200 -1285 terdapat Kerajaan Nagur di Simalungun yang kemudian diserang oleh pasukan batak Karo pada tahun 1508 . Sedangkan Kerajaan Nagur dilanjutkan oleh penerusnya dengan berpindah ke Hulu Sungai Pasai , Raja Nagur yang meneruskan tersebut bernama Marah Silu. Mara Silu adalah Raja Nagur yang pertama memeluk agama Islam dan menjadi Sultan Samudera Pasai yang Pertama.



1299 – 1512 .Kesultanan Aru/Barumun berdiri dan melepaskan diri dari Kesultanan Samudera Pasai dan berturut-turut dipimpin oleh sultan –sultan keturunan dari Sultan Malik Ul Mansur dengan Putri Nur Alam. Aru Barumun dikuasai oleh Portugis dan mengangkat sultan-sultan dibawah kekuasaan Portugis dan selanjutnya Portugis pula yang memberikan kekuasaan Aru Barumun maupun Samudera Pasai kepada kesultanan – kesultanan Atjeh sejak 1523 – 1904 sebagai bagian dari kekuasaan Portugis.



1508 terdapat Kerajaan Haru / Wampu menggantikan Kerajaan Nagur. Kerajaan Nagur diserang dan dimusnahkan oleh orang-orang batak Karo pada tahun 1200 s/d tahun 1508 dan diganti dengan berdirinya Kerajaan Haru/Wampu .



1339 .Tentara Majapahit memusnahkan Kesultanan Kuntu Kampar di Minangkabau, menyerang Kerajaan Silo di Simalungun dan merebut Kerajaan Haru Wampu serta menahlukkan Kesyabandaran Tamiang bawahan Kesultanan Samudera Pasai.

Tetapi kemudian Panglima Mula Setia dan Laksamana Hamdan Tammana yaitu angkatan bersejata Kesultanan Samudera Pasai berhasil memukul mundur tentara Majapahit dan Patih Gaja Mada kembali ke Pulau Jawa.



1339 – 1947

Anak-anak daripada Indrawarman dari Kerajaan silo mengungsi dan mendirikan Kerajaan baru bernama Kerajaan Dolok Silau dihulu Sei Padang dan Kerajaan Raya Kahean dihulu Sei Ular. Bekas Kerajaan Silo selanjutnya diambil alih oleh orang batak Pagan bermarga Sinaga dan menggantinya menjadi Kerjaan Tanah Jawa.


Untuk mengimbangi permusuhan antara Kerjaan Dolok Silau dan Kerajaan Raya Kahean dalam mengahadapi Kerjaan Tanah Jawa maka pada kekuasaan Belanda/ VOC agar mudah melaksanakan politik pecah belah maka dibentuk pula Kerjaan Siantar. Oleh karena itu maka semenjak adanya Kerjaan Siantar maka didaerah Simalungun terdapat adanya Raja-raja Berempat di Simalungun. Setelah adanya serangan dari Kerajaan Majapahit dan akibat serangan antara Kerajaan Dolok silau dan Kerajaan Raya Kahean maupun serangan Kesultanan Malaka maka kota Indarapura dan Perdagangan dibangun kembali oleh dan atas perintah raja – raja Malau dengan dukungan Sultan-sultan Malacca akan tetapi Keraksaan dan Dolok Sinumbah tidak pernah dibangun kembali.


1450 – 1500

Atas dasar dukungan dari Sultan Mansur Syah I yaitu Sultan Malacca maka agama Islam yang dibawa Datuk Sailan masuk ke Simalungun didaerah Kisaran, Tindjauan, Perdagangan, Bandar, Tandjung Kasau, Bedagai, Pakam, Sungaikarang dan Bangun Purba. Batak yang sudah masuk Islam pada umumnya tidak lagi mau mengaku Batak karena akan identik dengan kafir sehingga mereka pada umumnya mengaku Melayu.


DARI SILAU RAJA KE MARAH SILU

KEPADA RAJA TUAN SORI MALAU

Kerajaan Nagur merupakan kerajaan Batak pagan yang didirikan oleh para Proto Malayan yang terdahulu masuk ke Sumatera yaitu komunitas primitive dan kemudian dapat bertumbuh dengan masuknya berbagai pengaruh kepada komunitas tersebut terutama pengaruh dari saudagar-saudagar Gujarat yang dibawah kekuasaan Dinasty Fatimah sehingga membangkitkan mereka untuk membangun suatu pemerintahan dan masyarakat yang disebut Kerajaan Nagur.

Bahwa nama Mara Silu dalam literature marga-marga orang batak tidak ada didapati marga dan identitas marga yang sama seperti itu dan oleh karenanya tentu nama tersebut adalah nama dari suatu orang batak yang telah sengaja untuk menghilangkan identitas batak pagan yang ada padanya pada masa itu. Nama Marah Silu yang mempunyai persamaan dengan kata Silau Raja, membuat penulis mempunyai dugaan yang kuat bahwa yang empunya nama tersebut adalah bagian dari Silau Raja. Marah Silu = Marah , meura, morat = Raja dan ditambah kata silu dari kata silau yang penyebutan cepat menjadi silu.


Hal tersebut sangat dimungkinkan mengingat Silau Raja yang tidak mendapat tempat di Sianjur Mula-mula membuatnya harus keluar dan para keturunan dari Silau Raja tersebut dengan mengajak dan menguasai para suku Proto Malayan yang sudah ada di Sumatera khususnya, mendirikan komunitas baru dan akhirnya menjadi kerajaan yang disebut Kerajaan Nagur. Marah Silu yang sebelumnya adalah seorang batak pagan disebut-sebut mempunyai tattoo diwajahnya dan memepunyai juga tanda - tanda seorang putra raja lainnya , yang tidak dapat hapus sepanjang hidupnya. Dikatakan pula sebagai orang yang memakan cacing dan dalam dongengan masyarakat daerah Pasai tidak pula dikenal pasti asal usulnya kecuali hanya seorang anak dari bukit Pasai.



Melihat peta migrasi yang dilakukan oleh Saribu Raja dan keturunannya yang menuju kearah Selatan tanah Batak dan disana kemudian banyak dipengaruhi oleh masuk serangan Perang Padri dan yang paling besar adalah pengaruh Belanda melalui VOC dan masuknya agama Kristen. Migrasi yang dilakukan oleh Silau Raja serta keturunannya kearah Timur tersebut tidak tertutup kemungkinan keturunan Silau Raja yang sejak tahun 1400 yaitu setelah anak - anak Malau raja II lahir maka anak-anak Malau Raja II tersebut turut pula mengikuti perkembangan dan berimigrasi ke Timur dan berbaur kedalam kerajaan yang ditemuinya didaerah timur bahkan turut mendirikan kerajaan yang baru didaerah timur sumatera tersebut.



Silau Raja adalah manusia yang mempunyai multi talent dan mampu mengatasi kesulitan yang dihadapinya bahkan survival menjadi pemenang atas segala penderitaan yang dihadapinya. Keyakinan dan kelebihan yang juga dimiliki seluruh generasi-generasi dalam keturunannya.


Secara geografis daerah Sianjur Mula-mula berada ditengah-tengah antara kekuatan Kerajaan yang pengaruh Agama Islam disebelah timur dan utara dan pengaruh Agama Kristen disebelah selatan dan barat. Sebelum si Raja Batak ada maka daerah tanah batak dikelilingi oleh kerajaan-kerajaan besar seperti Kerajaan Peurlak di Timur sebelah utara , dan ada Kerajaan Sriwijaya disebelah Timur bagian selatan maupun Kerajaan Mol’yu/Darmacraya di daerah Jambi yaitu bagian Tenggara.


Sebelum abad ke-7 Kerajaan Mol’yu yang terletak di selatan kota Jambi sekarang atau di muara sunga Batang Hari, yang didirikan oleh kaum India telah ada di Sumatera dan menyebarkan agama Hindu - Buddha dibawah kekuasaan Dinasty Sanjaya dari India Selatan. Namun kemudian ditahlukkan oleh Dinasty Syalendra atas dukungan Tiongkok dan berganti menjadi Kerajaan Sriwijaya.

Kerajaan Sriwijaya yang mulai berdiri semenjak abad ke-7 dan berdiri atas dukungan Tiongkok dan memindahkan pusat kerajaan dari Jambi ke daerah Palembang sekarang atau muara sungai Musi dan telah memperluas kekuasaannya hampir seluruh Asia semenanjung maupun daerah Asia Tenggara sedangkan para Dinasty Sanjaya pergi mengungsi ke pulau Jawa dan mendirikan kerajaan baru disana/ Kerajaan Singhasari.



Pada abad ke-11M oleh Dinasty Fatimah mendirikan Kerajaan Peurlak disebelah Timur bagian Utara Sumatera sedangkan bangsa-bangsa Eropa masuk dan menguasai pelabuhan Barus yang ada disebelah barat pulau Sumatera tersebut. Dinasty Fatimah kemudian dilanjutkan oleh dinasty Mamaluk yang dengan bersama orang Batak bernama Marah Silu mendirikan Negara Samudera Ac’a Pasai.

Negara Samudera Ac’a Pasai adalah kelanjutan dari pada Kesultanan Daya Pasai, yaitu kesultanan yang telah direbut oleh Marah Silu sebelumnya. Disebut Negara Samudera Ac’a Pasai adalah sebagai sesuatu arti dari masyarakat yang baik. Di seluruh pulau Sumatera bagian utara pada dasarnya dihuni orang pribumi yang sama yaitu dari ras proto Malayan atau orang melayu kuno / batak pagan.

Pribumi – pribumi yang baik dan yang mau bergabung dengan Negeri Samudera Ac’a Pasai, mereka inilah yang disebut sebagai masyarakat Samudera Ac’a Pasai atau orang baik/baek atau orang-orang yang dengan rela bergabung masuk menajdi masyarakat Negara Samudera Ac’a Pasai. Sedangkan orang-orang pribumi yang tidak baik atau pribumi yang diluar masyarakat Samudera Ac’a Pasai adalah orang yang tak baik atau dalam penyebutan langgam Melayu Arab menjadi orang baek’tak . Bila dicari arti kata dari ‘ Ac’a ‘ maka diperoleh artinya adalah ’ baik’.


Marcopolo dalam catatan perjalananya ke sumatera timur dan singgah didaerah Perlak mengatakan ; Negeri yang dikunjunginya yaitu Perlak terdapat amat banyak hutan, penuh dengan kawanan binatang liar khususnya badak dan banyak pula jenis kera didalam rimba tersebut. Dipulau itu banyak raja-raja kecil yang mengaku sebagai temenggung dan keadaan mereka berpencar kecuali di Perlak hidup bersama dan sudah beragama Islam (Syiah).


Pengembangan agama Islam perlahan terjadi ditempat itu karena penduduk enggan beragama. Mereka yang tidak suka menerima Islam pada tahun 1292 menyingkirkan diri jauh kepedalaman. Mereka itulah yang disebut Batak yaitu yang tidak mau masuk Islam atau orang tak baik atau orang baik’tak sesuai langgam bahasa di Samudera Aca Pasei.


Marcopolo juga mencatat sebanyak 27 orang sebagai gerombolan kecil yang lari tersebut masuk kepedalaman hutan dan menjumpai pula suatu kerajaan . Kerajaan tersebut oleh penduduk setempat dikenal dengan sebutan Kerajaan Lingga atau L’ainggow dan rajanya disebut dengan Ghayo o ghayo ( raja gunung yang suci). Oleh raja Ghayo dari ke-27 orang tersebut sebahagian disuruh kembali ke pantai ditambah beberapa orang penduduk lainnya untuk mengambil harta dan membawa persembahan sebagai tanda persahabatan. Demikian ke-27 orang tersebut bergabung dan menjadi bagian dari Kerajaan Lingga atau L’ainggow.


Saudagar Eropa yang kemudian bergabung dalam kongsi perdagangan yang disebut VOC adalah kaum yang melakukan taktik atas para saudagar bangsa Eropa lainnya yang datang sebelumnya seperti Portugis, Inggris, Spanyol dan Holland. Bahwa kemudian ternyata justru Holland/Belanda yang akhirnya menguasai pelabuhan Barus tersebut, setelah mereka memperdayai Portugis dan Eropa lainnya melalui Perlak dan Samudera Pasai.


Sementara itu di Jawa pada tahun 1339M, setelah Kerajaan Singhasari jatuh lalu diganti dengan bangkitnya Kerajaan Majapahit. Kerajaan Majapahit masuk menyerang sampai ke Sumatera bermaksud untuk mengalahkan dan merebut kembali Kerajaan Sriwijaya yang besar dan termasuk Kerajaan Melayu Jambi.


Serangan tentara Kerajaan Majapahit berhasil merebut Sriwajaya dan Jambi karena itu untuk wilayah Jambi dipilihlah Raja Indrawarman sebagai pemimpin didaerah Jambi akan tetapi hanya selaku negeri bawahan Majapahit yang baru.

Perlu diketahui bahwa sebelum serangan Majapahit masuk daerah Sriwijaya dan Jambi maka sejak awal tahun 1200M Kerajaan Jambi telah merdeka dan berdiri kembali dan yang pada waktu itu dipimpin oleh Raja Indrawarman. Kebangkitan ini terjadi akibat dari mulai adanya keruntuhan Kerajaan Sriwijaya. Keruntuhan Kerajaan Sriwijaya tersebut terjadi akibat adanya penyerangan Raja Cola dari India.



Keruntuhan itu pula yang dijadikan kesempatan dan membuat bekas-bekas negeri bawahan Sriwijaya sebelumnya, memerdekakan diri dan tidak mengakui lagi Sriwijaya. Dalam ekspedisi Pamalayu , Raja Indrawarman adalah panglima tentara dari Kerajaan Singasari yang datang ke Jambi dalam rangka penguasaan dagang rempah-rempah. Dalam ekspedisi itu ternyata Kerajaan Criwijaya/Darmac’raya/ Melayu dapat ditahlukkan dan untuk mengamankan hasil ekspedisi Pamalayu terhadap serangan pihak Islam di daerah sungai Pasai maka sebagian dari tentara Singasari tersebut dibawah pimpinan Indrawarman ditempatkan di muara sungai Asahan. Tetapi sayang sebab kemudian Kerajaan Singasari sendiri mengalami perpecahan dan berganti dengan berdirinya Kerajaan Majapahit, perpecahan di Kerajaan Singasari saat itu karena adanya perang saudara.


Raja Indrawarman ternyata tidak mau tunduk kepada Kerajaan Majapahit atau tidak mau kembali ke Jawa, dia lebih memilih untuk membangkang kepada Majapahit . Sehingga kemudian diserang kembali oleh tentara Majapahit dan membuatnya terpaksa meninggalkan muara sungai Asahan dan berpindah pergi mengungsi ke pedalaman Simalungun karena menghindar akibat adanya serangan tentara Majapahit dimaksud.

Dipedalaman Simalungun dia mendirikan kerajaan Hindu Jawa bernama Kerajaan Silo yaitu daerah antara Sungai Silo dengan sungai Bah Bolon . Daerah tersebut pada saat yang sama pula sudahpun didiami oleh orang-orang dari marga Siregar / Silo yang datang dari Lottung / Samosir Timur.


Orang-orang bermarga Siregar Silo tersebut didesak oleh orang-orang dari marga Sinaga yang juga datang kemudian dari Samosir. Akhirnya mereka mencari perlindungan kepada tentara Hindu Jawa yang memasuki daerah pedalaman Simalungun tersebut. Dengan bantuan dari orang-orang bermarga Siregar tersebut , Raja Idrawarman mendirikan kerajaan Silo sebagai kerajaan pertama di Simalungun, pelabuhanya adalah muara sungai Bah-Bolon yaitu Indrapura dan agama masyarakatnya Hindu Jawa.


Pendatang - pendatang Jawa pengikut Indrawarman memasuki aneka marga-marga yang sudah ada didaerah Simalungun misalnya Siregar, Saragi dsb. Raja Indrawarman masuk menjadi anggota marga yang ada ditemui di Simalungun begitu juga dengan anak – anaknya serta tentara orang-orang dari Jawa yang dibawanya, masuk ke berbagai marga yang ada yakni marga Damanik, Girsang, Purba, dsb.



Raja Indrawarman sendiri masuk dalam marga Siregar Silo dan sembilan putranya masuk ke marga-marga lainnya yang ada di Simalungun untuk pembauran masyarakat. Pada saat ini banyak keturunan Silau Raja yang merantau kearah timur berubah menjadi marga ManikMalau, MalauDamanik, ManikGurning, MalauAmbarita.

Tahun 1396 yakni lima puluh tahun kemudian, datang lagi tentara Kerajaan Majapahit menyerang Kerajaan Silo, Raja Indrawarman gugur dalam pertempuran dan Keraksaan, Dolok Sinumbah, Perdagangan dan Indrapura habis dibumi hanguskan. Putra – putra Raja Indrawarman dapat lolos dan mengungsi ke Haranggaol sebelah barat laut Simalungun.



Orang-orang dari marga Sinaga, yang bersikap bermusuhan dengan Kerajaan Silo turun dari tempat tinggalnya di tepi danau Toba, menuju Kerajaan Silo untuk menjarah kekayaan kerajaan Silo.

Setelah menghancurkan Kerajaan Silo, tentara Majapahit meninggalkan Simalungun dan selanjutnya menyerang Kerajaan Batak Karo di muara sungai Wampu. Namun serangan itu gagal karena dipukul mundur oleh tentara Samudera Pasai yang datang membantu Kerajaan Batak Karo.



Bekas kerajaan Silo yaitu setelah tahun 1400 kemudian wilayah itu diduduki oleh orang-orang dari marga Sinaga dan mendirikan kerajaan baru bernama Kerajaan Tanah Jawa, agar menganggap dirinya ahli waris raja Indrawarman dan bekas Kerajaan Silo itu sendiri akhirnya diambil oleh Raja Siantar dan tidak pula lagi meneruskan kerajaan di bekas kerjaan Silo yang di Keraksaan tersebut. Kerajaan Siantar memilih pusat kerajaannya ditengah kota Pematang Siantar sekarang.

Keturunan Indrawarman yang tersisa bersembunyi lari ke Haranggaol dan selanjutnya mendirikan kerajaan baru bernama Kerajaan Dolok Silo dihulu Sei Ular dan Kerajaan Raya Kahean dihulu Sei Padang.



Kerajaan Dolok Silau/Dolok Silo oleh pemerintahan Belanda dipecah lagi kemudian menjadi legio sultan Pakam, Sungaikarang dan Bangunpura dan kerajaan Silimakuta.

Kerajaan Raya Kahean oleh Belanda dibentuk lagi legio sultan Bedagai dan Tebing Tinggi dan diberikan menjadi dibawah Kesultanan Deli. Kerajaan Raya Kahean kemudian dibagi pula lagi menjadi : Kerajaan Purba, Kerajaan Raya dan Kerajaan Panai.



Antara kerajaan Tanah Jawa ,kerajaan Dolok silo, kerajaan Raya Kahean dan kerajaan Siantar sering disebut sebagai Raja-raja Berempat Simalungun.

Perlu dicatat pada masa abad 13M ini, orang-orang Batak dari Sianjur Mula-mula sudah juga mengalami migrasi yang tinggi. Boleh jadi akibat mata pencaharian ditanah Batak menipis dan didorong keinginan mencari mata pencaharian dinegeri lain. Seperti misalnya keturunan Raja Asi-asi dan Sangkar Somalindang yang dianggap turut mendirikan Kerajaan Batak Karo, yang mempunyai hubungan dengan Aceh atau Kerajaan Peurlak dan Kerajaan Samudera Pasai dan Kerajaan Batak yang ada di Barus bersama-sama masyarakat Tamil dalam perdagangan Kapur Barus dan Kemenyan.



Assimilasi demikian terjadi karena adanya perubahan pusat perdagangan internasional yang berpindah dari barus ke Samudera Pasai dan Malaka diabad 13M tersebut. Perjumpaan perdaban demikian itu pula yang menjadikan adanya timbul suatu kerajaan disana atau negeri bawahan kerajaan dan yang boleh jadi itu pula yang disebut sebagai kerajaan Nagur .



Perlu dicatat disini bahwa diberbagai buku yang menceritakan sejarah perkembangan peradaban manusia khususnya peradaban Hindu-Budha, khususnya kronik China maupun Islam yang telah mencatat pernyebaran peradaban tersebut sejak awal abad masehi tidakpun satu ada menyebutkan Negeri atau Kerajaan Nagur selain di tahun 1200-an.


Jadi jika banyak pihak yang mengklaim diri dan mengatakan asal muasalnya sudah beribu tahun sebelum abad masehi tiba dan asal muasalnya itu menyebut pula dari Nagur maka kebenarannya tidaklah terlepas dan harus tercatat pula dalam pencatatan pada kronik-kronik China maupun Arab atau India.

Nama Nagur hanya diketahui setelah abad 12M dalam catatan saudagar Islam Arab / Persia dan kronik China. Karena itu Nagur bisa juga untuk menyebutkan Sianjur Mula-mula sebagai nama yang dipakai oleh para migrasi yang keluar dari Sianjur Mula-mula setelah mereka-mereka sampai dibagian timur sumatera tersebut. Pengertiannya adalah daerah tersebut saat itu dihuni oleh orang-orang yang berasal dari JUR atau Siam Jur Mula-mula atau Sianjur Mula-mula.



Sebelum abad 12M, di daerah Simalungun belumlah dikenal adanya Kerajaan dan baru abad 13M setelah Raja Indrawarman mengungsi kedaerah sungai Silo dan barulah ada mendirikan kerajaan Silo. Awal abad 14M setelah kerajaan Silo dihancurkan oleh Majapahit baru ada timbul kerajan-kerajan lain seperti Dolok Silo, Raya Kahean, Siantar di geografis Simalungun .


Pusat masyarakat Batak yaitu di Limbong Mulana ataupun di Sianjur Mula-mula masih origin dan hanya orang dan marga tertentu yang pergi keluar dari tanah batak ini. Namun sangat perlu dicatat sebab dari sejak tahun 1230- 1340M yang lebih kurang hanya 110 tahun orang Batak ternyata sudah mampu mengembara sampai ke Simalungun. Dalam kurun waktu 110 tahun tersebut Si Raja Batak telah mempunyai keturunan yang banyak jumlahnya dan pintar-pintar serta mampu berkuasa atas kaum pribumi/primitive pada umumnya dan mampu membuka lahan atau mata pencaharian keluar dari Sianjur Mula-mula.


Dikatakan bahwa bekas tentara Indrawarman tersebut bertemu dengan orang batak yang bermarga Siregar, Sinaga dan Manik maka hal itu dapat saja dibenarkan karena marga-marga ini pada tahun 1340M sudah ada. Mereka merupakan marga-marga dari garis ke-4 dan ke-5 dari Si Raja Batak. Oleh karena mereka dari keturunan si Raja Batak yaitu orang yang sudah mempunyai peradaban yang tinggi maka mereka mampu untuk melakukan pengembaraan tersebut bahkan mampu untuk mengendalikan atau menjadi pemimpin orang-orang primitive yang sudah ada sebelumnya.



Masyarakat Batak yang tumbuh dan berkembang dari waktu ke waktu telah membuat kesadaran berkuasa dan kesadaran akan daerah territorial kekuasaannya khususnya bagi keturunan Sorimangaraja, Palti Raja dan Jonggi Manaor. Kesadaran itu tumbuh setelah masyarakat Batak tersebut mendapat pengaruh dari luar yang datang masuk dan adanya perselisihan antar marga khususnya permasalahan akan lahan pertanian dan lahan mencari nafkah yang semakin sempit akibat adanya pertumbuhan penduduknya.


Ketiga dynasty yang ada yaitu Jonggi Manaor, Sorimangaraja dan Palti Raja terus bertumbuh dan bertambah banyak penduduknya dan mempunyai tata cara sendiri untuk mengurus dan mepertahankan masyarakatnya. Dalam keadaan saling mempertahankan masyarakatnya tersebut sering terjadi peperangan antar marga.


Kesadaran akan kebersamaan secara menyeluruh dikalangan masyarakat Batak dengan sendirinya ada timbul pada abad ke-15M, yang mana dipelopori dari golongan Sorimangaraja yaitu dari keturunan Sinambela. Golongan ini pula yang paling banyak melakukan kontak dengan dunia luar dan mendapat pengetahuan lebih dahulu akan perlunya kesatuan dan persatuan. Dinasty Sorimangaraja yang dimulai dengan adanya Raja Sisingamangaraja Pertama – Ompu Raja Bonanionan diteruskan Raja Manghuntal ( Sisingamagaraja I) telah mempunyai pemikiran akan perlunya persatuan dan kesatuan dikalangan orang Batak.


Nama Sisingamangaraja adalah arti dari pada raja dari segala raja-raja dan raja-raja yang ada harus berada dalam satu kesatuan berada dibawah naungan Sisingamangaraja. Nama ini sangat perlu dibuat demikian karena menjadikan semua raja-raja dari setiap marga pada masyarakat batak yang ada saat itu tunduk pada satu raja.


Singa : berarti Raja , Sisingamangarja berarti Raja dari segala raja-raja. Sisingamanagara berusaha membuat kesatuan dikalangan orang Batak walaupun mendapat pertentangan dari dynasty lainnya khususnya dari dynasty Jonggi Manaor.


Selanjutnya perkembangan di tanah Batak dipengaruhi pula dengan masuknya invasi kerajaan Pasai dengan pengaruh agama Islam dan para Missionaris Kristen dari Eropa melalui Perlak – Pasai hingga ke Barus. Sementara itu invasi Eropa tersebut mulai masuk ke Asia Tenggara lainnya demikian juga pengaruh Agama Islam dari Mesir dan terakhir pihak Belanda melalui VOC telah masuk ke Jawa dan pulau – pulau lainnya.



Kekuatan Eropa masuk ke Tanah Batak tidaklah mudah, mereka masuk melalui Aceh yang saat itu sudah dikuasai Portugis. Eropa lainnya masuk ke pelabuhan Barus hanya sebagai saudagar atau pedagang sekaligus menjadi informan atas keadaan di Barus.


Kekuasaan Eropa bisa masuk ke tanah Batak setelah Negara Samudera Pasai terlebih dahulu datang menyerang Barus. Negara Samudera Pasai merebut daerah penghasil rempah-rempah di sungai Kampar kiri dan kanan Minangkabau. Kekuasaan Samudera Pasai tidak bertahan lama di Kampar Minagkabau karena tantara Muar dari Thailand datang menyerang bahkan anak kedua Sultan Samudera Pasai yang memimpin di Minangkabau dapat ditangkap tentara Muar dan menawannya serta membawanya ke Muar.



Disaat demikian itu justru Samudera Pasai diluluh lantakan oleh serangan dari bangsa Eropa melalui serangan tentara Portugis. Berganti-ganti bangsa Eropa datang ke Samudera Pasai baik serangan Spanyol, Portugis , Inggris dan Belanda. Dari daerah Samudera Pasai ini setelah dapat diduduki oleh pasukan Portugis kemudian Portugis membagi-bagikan Negara Samudera Pasai menjadi legio-legio kesultanan.


Hal ini dilakukan agar mudah untuk dikuasai dan diadu domba. Kekuatan Eropa tersebut masuk ke tanah Batak , namun bukan lagi oleh kekuatan Portugis melainkan menjadi kekuatan kongsi dagang yang disebut VOC , hal ini terjadi karena terjadi kecamuk kekuasaan di Eropa sendiri. Berbagai cara dilakukan VOC untuk menguasai tanah batak , apakah itu dengan taktik adu domba ataupun pemberian hadiah, pengangkatan kepala suku menjadi penguasa bawahannya dan politik de vide et impera. 


Salah satu yang dikenal adalah peristiwa perang Padri, serta upaya-upaya dari kalangan missionaries dan pemberian bantuan-bantuan dalam aspek pendidikan/kesehatan. Para kaum VOC ternyata banyak pula memberikan peluang kerja di sepanjang daerah kekuasaannya terutama di pelabuhan Barus guna dijadikan sebagai kuli angkut ataupun pengurus kuda beban.


Tanah Batak sering disebut Toba, dan terdiri dari daerah-daerah lembah dan pegunungan.

Pada awalnya masyarakat batak yang ada di Sianjur Mula-mula harus menghadapi migrasi dan urban dari Sianjur Mula-mula akibat tidak cukupnya lagi lahan untuk mata pencaharian. Disatu sisi adanya daerah Barus yang merupakan Pusat Niaga/Bandar Perniagaan terutama untuk memperoleh garam dan kebutuhan lainnya. Sehingga membuat orang Batak di Sianjur Mula-mula keluar mencari mata percaharian keluar dari Sianjur Mula-mula. 


Upaya untuk mendapatkan mata pencaharian tersebut termasuk untuk mendapat pekerjaan di daerah Barus yang membuat orang Batak keluar dari Sianjur Mula-mula karena memang didaerah Baruslah terdapat pertumbuhan ekonomi masyarakat pada masa itu. 


Dalam memperoleh mata pencaharian tersebut mereka datang melalui daerah Balige, Tarutung, Silindung dan Humbang. Pada masa masuknya VOC dan Eropa lainnya daerah – daerah tersebut telah dijadikan VOC sebagai sentra-sentra perniagaan dan markas mereka .



Ditempat tersebut VOC sangat membutuhkan orang-orang yang mau dipekerjakan. Bekerja sebagai pengurus kuda-kuda beban, tenaga pikul-angkut dan lainnya. Dalam rangka bekerja demikian maka orang batak dari tempat asalnya sekitar Sianjur Mula-mula menyebutnya pergi ke Toba atau pergi bekerja secara Tenaga Lepas Harian. Kepergian untuk datang bekerja secara tenaga lepas harian kedaerah yang dijadikan VOC dan Eropa lainnya yang memang adanya di daerah Balige, Tarutung, Pearaja, Silindung dan Humbang membuat istilah pergi ke Toba menjadi popular dan lama kelamaan daerah tersebut disebut daerah TOBA.


Sedangkan untuk daerah pesisir yang cenderung ke sebelah pantai barat Sumatera dan terdapat disana ‘pemandian yang indah “ bernama “Tapian Na Uli’ . Dari daerah pedalaman Toba (Taput sekarang) terdapat jalan setapak pengangkut garam ( dikenal sebagai jalan parlanja sira ) ke pesisir barat yang disebut dusun Tapiannauli, Sorkam dan Barus. Disebabkan pada awalnya kapal-kapal orang Eropa khususnya Inggris berlabuh di Tapiannauli dan dilanjutkan oleh VOC maupun masuknya kolonialisme Belanda tahun 1907 yang menggunakan nama tempat berlabuh mereka tersebut dalam gambar peta disebutnya Bay of Tapanully (Inggris) dan atau Baai van Tapanoeli (Belanda) sampai dengan masa kemerdekaan RI membuat nama Tapanuli lebih dikenal sebagai nama geografis Toba atau Tanah Batak.


Perkembangan dan penyebaran masyarakat Batak dan masuknya pengaruh luar ke Tanah Batak telah menghasilkan suku Batak yang masing – masing mempunyai identitas dan adat / kebudayaan lokalnya. Hal ini timbul dan menjadi berdiri sendiri karena orang dan marga-marga yang keluar dari tanah batak tersebut sudah mempunyai kekuasaan dan bisa mandiri ditempat barunya. Oleh karena itu masyarakat Batak akhirnya terbagi-bagi menjadi beberapa ras – sub suku.


Sumatera bagian Utara praktis mengalami perubahan drastis dengan banyaknya pengaruh luar dan masuknya multi peradaban kedaerah tersebut sehingga proto Malayan tibres / melayu kuno berubah menjadi berbagai sub suku. Khususnya bagi etnis batak terbagi menjadi lima daerah penyebaran yaitu masyarakat batak toba, karo,pak-pak/dairi,simalungun dan mandailing. Kelima sub-etnis ini saling berpengaruh dan mempunyai bahasa dan adat istiadat yang hampir berbeda pula. Hal ini akibat pengaruh yang berbeda-beda dari masuknya faktor perdagangan, pendidikan, agama, pelayanan kesehatan dan kebijakan penguasa termasuk pengaruh setelah adanya pemerintahan RI.



Pengaruh dan perjalanan yang masuk ke tanah Batak mengakibatkan masyarakat batak melakukan exodus maupun migrasi yang dapat dikatakan akibat alasan-alasan sebagai berikut ;

Pengaruh ekonomi dalam tanah batak itu sendiri maupun pengaruh ekonomi dari luar yang masuk ke tanah batak seperti misalnya perdagangan kapur barus, perdagangan dalam pemenuhan kebutuhan hidup baik sandang maupun kebutuhan papan yakni segala kegiatan dalam mencari mata pencaharian. Istilah – istilah Islam , istilah - istilah Arab – Melayu mempengaruhi masyarakat Batak, kendati tidak sebanyak istilah-istilah India. Mantra-mantra orang batak misalnya , sering dibuka dengan ucapan “Bismillah” tanpa yang mengucapkan itu menganut agama Islam Salah satu istilah terpenting yang diadopsi dari kosa kata peristilahan Melayu – Islam adalah istilah “ Malim “. 


Suatu istilah yang sarat dengan pengaruh tarekat. Semenjak munculnya dinasty Sisingamangaraja , istilah itu berarti orang yang menjalankan hidup suci, bermeditasi, menjauhi berbagai pantangan badan dan rohani, seperti tidak makan babi, dan wajib bersusilah teladan.


Semua itu dilakukan demi memelihara atau mencapai status malim (suci). Sisingamangaraja adalah dynasty yang berupaya mempersatukan masyarakat Batak yang ada. Antara Abad 13 – 16 dapat dipandang sebagai proses panjang menuju wawasan kerajaan dalam masyarakat Batak-Toba, mulai muncul suatu gejala politik yang baru. Sebelumnya wawasan seperti ini tidak dikenal dan masyarakat batak cuma terdiri dari klan-klan (marga). Setiap klan-klan (marga) berdaulat diwilayah masing-masing, wibawah yang mencakup beberapa wilayah marga diatur secara federatif yakni melalui “ lembaga Bius “.


 Pada abad ke-16 telah muncul semacam wibawah pusat bagi masyarakat batak yakni Lembaga Singamangaraja walaupun ada dua tokoh lain yang sebenarnya dapat dianggap pesaing merebut wibawah pusat tersebut yaitu Palti Raja dan Jonggi Manaor. Pengaruh dari peradaban Hindu Syiwa jelas terlihat pada upacara keagamaan, wawasan, kerajaan, administrasi, tulisan/aksara, istilah pengetahuan dan teknologi irigasi. Walaupun pengaruh Islam antara abad 11-14 menyentuh tanah batak namun Islamisasi tidak sampai terjadi dalam masyarakat batak di pedalaman. 


Pengaruh kebudayaan Islam masih terbatas di daerah pesisir saja yaitu pada masyarakat melayu saja menurut pengertian batak pedalaman. Dengan masuknya Eropa pada abad 16 menimbulkan pula pengaruh agama Kristen yang terorganisir di tanah batak. Dalam masyarakat batak terjadi pengaruh Hindu dan Islam, serta Kristen yang selanjutnya menimbulkan benih - benih yang kemudian dikenal menjadi aliran kepercayaan “Parmalim” atau sering disebut agama Parmalim.


Pengaruh sosial politik yang masuk ke tanah batak seperti agama. pendidikan, dan pengaruh penguasa / pemerintahan.

Agama yang masuk ke tanah batak baik Kristen Nestorian, agama Islam, agama Hindu Syiwa mengakibatkan masyarakat membentuk kelompoknya masing-masing sesuai dengan komunitas agama yang dianutnya tanpa harus bertentangan dan meninggalkan fakltor keturunan atau faktor genetik masing-masing orang. Pada awalnya lebih mengarah pada agama Hindu Syiwa dan akibat adanya pengaruh agama lainnya membuat masyarakat batak berpindah keluar tanah batak dan membentuk komunitas baru. Bentuk pendidikan yang dibawa masuk ke tanah batak lebih besar berasal dari pengaruh Eropa dan China. Pengaruh pendidikan dari Eropa sejalan dengan pengaruh agama Kristen dan sangat kuat serta besar peranannya hingga saat ini.



Pengaruh dari penguasa ataupun pemerintahan yang masuk ke tanah batak terlihat sejak masuknya kekuatan sebagi berikut :



Pada masa penyerangan Kerajaan Majapahit.

Bahwa serangan kerajaan Majapahit dari pulau jawa ke Sumatera dan menakhlukan Sriwijaya di sumatera pada tahun 1339, dimana serangan itu masuk hingga ke perbatasan pinggiran tanah batak terutama daerah Simalungun, Asahan ,Deli dan Tanah Karo. Kerajaan Sriwijaya dapat dikalahkan Majapahit mengakibatkan Raja Indrawarman yang semula adalah raja pada Kerajaan Melayu Jambi sebagai kerajaan bawahan dari Sriwijaya terpaksa mengungsi ke Simalungun. Serangan Majapahit ini berlanjutnya sampai tahun 1396 dan dapat dipukul mundur akibat adanya bantuan dari pasukan Kerajaan Samudera Pasai. Raja Indrawarman tersebut akhirnya membangun kerajaan baru lagi didaerah pesisir pantai belahan timur sumatera dan juga anak-anaknya mendirikan kerajaan-kerajaan baru.


Didaerah kerajaan baru yang didirikan tersebut sudah ada terdapat terlebih dahulu masyarakat batak baik karena mencari mata pencaharian, mencari hasil hutan maupun karena dihukum keluar dari komunitas batak. Dengan berdirinya kerajaan baru dan atau dapat juga dirtikan bahwa dalam kerajaan baru tersebut telah bergabung masyarakat yang dengan pendatang membuat masyarakat batak yang sudah ada sebelumnya terkontaminasi dan membentuk masyarakat batak yang baru, yang berbeda dengan di Sianjur Mula-mula. Kemudian masyarakat batak di kerajaan-kerajaan yang baru tersebut berkembang dan juga didatangi oleh saudara-saudaranya yang datang dari asalnya yaitu tanah batak sehingga mereka menjadi batak baru namun tetap mengetahui asal muasal leluhurnya adalah tanah batak. Mereka tetap menggunakan nama marga yang semula dibawanya dari tanah batak, namun bagi orang batak pendatang yang baru dan tidak menemukan kelompok marga yang sama dengannya membuatnya tidak mendapat pilihan kecuali bergabung dengan marga yang ditemuinya saja disana. Hal ini berakibat pula terjadinya marga yang satu ini misalnya marga A leluhurnya adalah kelompok A (jika ditanah batak), namun karena ditempat baru tersebut dia hanya menemui marga B maka dia mengikut dan bergabung bahkan menyandang marga B atau membuat marga baru ditempat yang ditemuinya tersebutMasyarakat batak sangat kental kekerabatannya dan tidak sungkan untuk menerima orang lain menjadi bagian dari pada klen atau komunitasnya bahkan untuk penerimaan akan pihak lain dilakukan dengan suatu acara adat istiadat yang diatur dalam kekerabatan masyarakat batak tersebut.

Akibat pengaruh VOC maupun masa penjajahan Nippon.


Pada masa VOC yaitu semenjak tahun 1602, maka ditanah batak praktis tidaklah terdapat bentuk penjajahan seperti halnya yang ditemukan di daerah lain di Nusantara ini. Melalui daerah Aceh politik penjajahan Belanda dijalankan dengan baik dimana Belanda secara tawar menawar dengan Portugis untuk menguasai Aceh. Pada masa ini Kesultanan Aceh sangat berpengaruh untuk seluruh wilayah Sumatera. Melalui Kingdom of Acheh or Achin yang pada saat itu menguasai Sumatera satu persatu daerah kekuasaan Acheh menjadi daerah kerja sama dengan Belanda. Untuk lebih jauh bisa masuk ke tanah Batak maka Belanda dengan politik de vide at imperanya berhasil pula mendorong terjadinya perang Paderi, yang mana sangat besar merugikan tanah Batak. Daerah yang menjadi Dominions of Acheh , Battak Cuntry, Menangkabau Country, Sapuloh Buah Bandar, Siak, Dominions of Palembang, Lampong Country, Anak Sungai, Rejang, Pasamah Ulu perlahan-lahan menjadi daerah yang turut dikelolah Belanda.


Khusus ditanah Batak yaitu Humbang dan Silindung justru kemudian dijadikan Belanda menjadi markas kekuatannya dan untuk itu telah berdiri pusat-pusat agama dan pusat pendidikan /kesehatan. Untuk kepentingan ekonomi VOC tidaklah banyak mengharap dari daerah ini apalagi setelah pelabuhan Barus ditinggal kaum saudagar yang pindah ke Pasai atau Malaka. VOC cenderung melakukan invasi dengan metode pendekatan agama Kristen dan pendidikan serta pelayanan kesehatan dan dalam penguasaan perdagangan atau ekonomi tidak pula banyak yang diharapkannya dari potensi daerah tanah batak tersebut kecuali satu kemenyan dan kapur barus.


Tanah batak kemudian dirubah oleh VOC menjadi Keresidenan Tapian-nauli ( Keresidenan Tapanuli / Affedeling Tapanuli) sebagai daerah yang menunjukkan bagian belahan barat pantai sumatera utara, sedangkan pantai belahan timurnya disebut Keresidenan Deli / Affedeling Deli ). Pada masa inilah dibangun jalan raya yang menghubungkan daerah bagian timur dengan daerah bagian barat sumatera utara mulai dari Belawan – Medan – Tebing Tinggi – Pematang Siantar – Parapat – Balige – Tarurtung –Barus / Sibolga. Bagi masyarakat batak yang mengalami penghukuman pada komunitas batak akan dibuang dan dihukum untuk mengikuti kerja rodi yang dilaksanakan oleh VOC tersebut. Banyak orang pribumi yang ditangkap apalagi mereka yang dipandang sebagai tokoh masyarakat. Pada masa penguasaan Nippon sekitar tahun 1942 yang menjajah hampir seluruh Nusantara , pelaksanaan pembangunan di tanah batak terus berjalan dengan tetap pada pola simulasi antara penyebaran agama, pengembangan pendidikan dan pemanfaatan perdagangan. Hal seperti ini sangat mendorong dan mempengaruhi keberadaan orang batak dimana-mana dan tidak lagi hanya ditanah batak semula.



Masa pemerintahan Indonesia.

Pada pemerintahan Indonesia , Affdeling Tapanoeli mengalami perubahan dan secara geografis daerah sumatera utara yang berpusat di kota Medan dan dibagi menjadi beberapa kabupaten dan sumatera utara sendiri menjadi satu ke provinsian-an.

Mengingat pada hal-hal yang terjadi pada tahun 1600M yaitu mas dimana VOC mulai menanamkan cakar penjajahannya di Sumatera Timur maka telah menimbulkan ketakutan social bagi masyarakt pribumi. VOC telah menggunakan taktik de vide at impera yang justru membuat perang saudara dimasyarakat pribumi. Banyak pribumi yang mati sia-sia dan mayat yang banyak itu telah menimbulkan terjadi bibit penyakit terutama penyakit sampar dan cholera. Pribuni yang takut dengan penyakit menular dan takut ditangkap VOC karena dijadikan budak terpaksa melarikan diri , bahkan telah menimbulkan gelombang migrasi besar-besar dari sumatera bagian timur tersebut kembali ke pegunungan tak terkecuali mundur ke Pulau Samosir. Migrasi ini oleh masyarakat di sumatera bagian timur disebut dengan istilah sahali misir – migrasi besar.


Saat yang sama yaitu tahun 1600-an Masehi diketahui pula leluhur penulis yaitu Raja Tuan Sori Malau dan anaknya Oppu Raja Djailalo Malau telah berada di Pulau Samosir tepatnya di Huta Malau Simanindo maka kemungkinannya adalah leluhur dari keturunan Silau Raja yang tadinya telah berimigrasi ke daerah Timur dan setelah daerah timur dikuasai oleh penjajahan dan kekuasaan Eropa baik Kolonial Belanda maupun Portugis membuat mereka terpaksa pergi kedaerah lain termasuk ke Pulau Jawa dan ada pula yang kembali lagi ke tanah Batak.


Terutama akibat telah masuknya kekuatan tentara Portugis yang menguasai daerah timur sumatera dan seluruh semenanjung Malaya dan memusatkan kekuatannya di bekas kesultanan Malacca sebagai pusat kekuasaan dan yang baru saja dikuasai PORTUGIS. Mereka yang kembali itu tidak mungkin ke Sianjur Mula-mula karena pada awalnya juga tidak mendapat tempat disana , oleh karena itu kembali ke tanah batak lainnya yaitu Pulau Samosir.



Pulau Samosir, dalam bahasa batak kata samosir tidak pula jelas artinya, dan menurut penulis kata samosir adalah pemberian dari para pedagang Inggris yang semula mengklaim tanah batak terutama pelabuhan Barus adalah dibawah kekuasaannya. Pada saat itu telah timbul usaha-usaha masyarakat Eropa untuk saling mengklaim daerah-daerah kekuasaanya di Nusantara dan pada masa itu timbul perselisihan antara bangsa Holland dengan bangsa Inggris di pelabuhan Barus. Komuntitas Inggris yang lebih dahulu masuk Barus dan mempunyai markas di Aceh datang ke Barus mendahului bangsa Holland namun bangsa Inggris tersebut tidak berani masuk terlalu jauh untuk membuat kekuasaanya di pedalaman tanah Batak. Pada saat bangsa Inggris tersebut dating memasuki pedalaman tanah batak terutama memasuki daerah danau toba termasuk pulau samosir mereka menemukan banyak manusia yang menganggap dan menyebutnya dirinya dengan sebutan raja.



Oleh karena itu oleh para pedagang-pedagang Inggris menyebut pulau tersebut pulau some - a - sir disebut dengan cepat menjadi samosir yang dapat berarti sebagai pulau sejuta raja-raja. Dalam segi peta geografis yang sedemikian rupa maka terlihat sebenarnya tanah batak terhimpit oleh dua kekuatan besar dari luar yaitu dari sebelah utara dan timur pengaruh perkembangan agama Islam dan Kerajaan-kerajaan Islam sedangkan dari sebelah selatan dan barat dipengaruhi oleh kekuatan bangsa Eropa dan agama Kristen dan sedikit pengaruh Islam.



Akan tetapi tanah Batak tetap menjadi masyarakat yang primus inter parhes dan menganut Hindu Kuno sebagaimana dibawanya dari pegunungan Birma/Siam sewaktu masih dalam induk Proto Malayan. Batak adalah Batak , yang splendid isolation dan tumbuh menjadi masyarakat yang percaya diri dan bangga menjadi dirinya sendiri, jelas berkarakteristik dan jelas mempunyai ciri spiritual tersendiri. Bahwa selanjutnya Raja Tuan Sori Malau dengan anaknya Oppu Raja Djailalo Malau memasuki Huta Malau di Pulau Samosir adalah menunjukkan pengembara-pengembara yang berani dan yakin pada kemampuannya. Merekalah pihak yang pertama-tama memasuki daerah tersebut dimana manusia lainnya belum ada yang pergi kesana serta mampu mengembangkan daerah tersebut menjadi daerah yang sekarang menjadi bona pasogit keturunannya.



Pengertian multi talent yang nyata ada pada Silau Raja terlihat pula dimiliki para keturunannya dan juga mempunyai prinsip-prinsip keadilan dan menjauhi timbulnya permasalahan. Banyak keturunan dari Silau Raja yang tampil sebagai orang yang memiliki multi talent dan tidak suka pada pemberitaan, hanya untuk dijalani tanpa perlu orang lain akan mengingat atau mengenangnya. Menjadi manusia-manusia yang selalu siap menghadapi kejadian apapun termasuk mengalami reikarnasi atas kejadian yang dialami Silau Raja terbuang dari komunitasnya asalkan demi suatu kebenaran yang diyakininya.


DAFTAR PUSTAKA.

Silsilah Marga - marga Batak Drs. Richard Sinaga, Penerbit Dian Utama – Jakarta. Tahun 2000. ; SRIWIJAYA , Prof.Dr. Slamet Muljana – LKIS. Tahun 2006 ,; Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara, Prof.Dr.Slamet Muljana – LKIS tahun 2005.; Toba Na Sae, Sitor Situmorang, Penerbit : Komunitas Bambu. Juli Thn 2004 ,; Masyarakat Dan Hukum Adat Batak Toba J.C.Vergouwen Pustaka Azet – Jakarta ( Prof. Dr. T.O.Imroni ),; Harian Kompas Jumat 01 April 2005, Sejarah Barus Akhir Perjalanan.,; Jambar Hata , T.M.Sihombing, CV.Tulus Jaya. Tahun 1989. ; Dolok Pusuk Buhit 6 – 7, Drs. Gens Malau, Yayasan Bina Budaya Nusantara – Jakarta. Tahun 1996.,; Pengaruh Injil Dalam Adat Batak , Pendekatan Praktis oleh JOHN B. PASARIBU. Penerbit Papas Sinar Sinanti, Jakarta 2002., ; Tuanku Rao , Mangaradja Onggang Parlindungan , Penerbit Tanjung Pengharapan , 1964., ; Ahu SISINGAMANGARAJA, Prof. DR. W.B. Sijabat , Pustaka Sinar Harapan . Jakarta tahun 1982.,; Masyarakat Dan Hukum Adat Batak Toba ; J.C.Vergouwen Pustaka Azet – Jakarta ( Prof. Dr. T. O. Imroni ), ; Sejarah Kebudayaan Batak , Siahaan Nalom, Medan Napitupulu, 1964, ; Sejarah Kebudayaan Sumatera, Dada Meuraxa , Firma Hasmar, 1974.

Next Post Previous Post